News
Loading...

MINUM AIR DI KALI SENDIRI


Ilustrasi 
Kudiai Mikael 

Minum di Air Kali sendiri.... Wkwkwkw

Ini sa pu kisah waktu SMP kelas 2. Sa juga bingung kenapa sa kasih judul ceritanya seperti ini, tapi, entahlah, sa rasa judul ini yg sangat tepat. Biar ada yang perut sakit nanti.

Kisah 7 tahun yang lalu, terekam benar di sa pu otak. Waktu itu sekitar pukul 12 siang. Karena sa pu SMP dulu adalah sekolah swasta Katolik jadi kalau hari sabtu itu, pulang agak cepat.

Sa pulang sekolah pelan-pelan jalan santai ke rumah, biasa, itu kerjaan setiap hari, tapi kalau pace de kasih uang, kalau tidak berarti "Fivety-Fivety", antara pergi ke sekolah atau tidak. Kerjaan setiap hari, jalan lewat Auri (Karang Timur) menuju Pasar Karang (Titik Nol Karang Nabire), dan masuk ke dalam menuju Rekabart. Rekabart itu istilah anak muda zaman sekarang, alias Remaja Karang Barat, pusat kota Nabire, pusat Miras, pusat pokoknya yang bermotif yang tong tra senang sudah. Tapi yang bantukan semua itu Polisi dong, ini benar!!

Sampe masuk ke dalam kompleks, menuju ke rumah dan ganti pakaian. Kasih tinggal celana SMP baru ganti baju SD. Kebetulan baju SD yang sa beli dulu masih cukup sampe SMP kelas 2, karena baju juga tra muat dengan badan jadi, masih berfungsi. Jadinya setengah SD, setengah SMP.

Karena buru-buru jadi, sampe lupa makan siang. Sa keluar sendirian dari rumah, ajak bos-bos (teman2) dong tapi trada yang mau. Karena trada yang mau jadi, sa langsung menuju ke arah Kampung Harapan. Dan menuju ke arah Bandar Udarah dekat Lapangan Terbannya. Pas di perbatasan Lapangan Terbang sama Kampung Harapan, ada kali (Sungai) satu, kali itu de pu nama Kali Udik. Pasti banyak yang tahu, dan yang tahu itu dong pu tempat cari ikan dan lele kuning. He he heee

Sa menyebrang kali itu dan naik tebing hanya berukuran 4 meter. Setelah naik ke atas, tiba sudah di Lapangan Terbang. Lihat kesana kemari, trada orang yang mondar mandir. Sa ikut pinggiran Lapangan. Karena jauh juga minta ampun, sa juga tra pake sandal alias kaki kosong (pekerjaan setiap hari) hanya beberapa meter kedepan, kaki sudah hancur panas kayak api bakar kaki.

Sa ikut pinggiran Lapangan, yang dari ujung pukul ujung hanya rumput berukuran pendek. Macam sa di Lemba Baliem yang kalau dari jauh nikmati pemandangan lembah rumput pendek di Lapangan Terbang, adoh pikiran su lari takaruan.

Sa jalan sendirian, menyusuri pinggiran Lapangan. Jalan terus, sampe sudah lewat pusat Air Portnya. Beberapa kilo ke depan, Ada mobil Patroli Airport dari belakang menuju ke sa.

Kebetulan, pantai MAF juga sudah dekat. Sampe di pagar Lapangan, sa lompat, pagar ukuran 2 m, he he heee... Lompat macam pencuri yang sedang angkat orang pu barang. Polisi Air Port juga macam anjing yang mau gigit sa jadi, waduhh.. susah juga.

Sudah, tibalah tempatnya. Walau pun jauh, tapi dekat karena nekat mau pigi sampe ke sini jadi. Tra tunggu lama, buka baju, buka celana, kasih telanjang badan, lari menuju trotoar pantai, tum sudah ke pantai.

He he he heee... mandi sampe sore, tra tahu pukul berapa.

Tra rasa, perut su goyang, minta makanan. Adohh, sa hancur sudah. Karena mandi sampe mata merah jadi, naik pake pakaian langsung. Tukarr, perut minta makan, ini saja sa tra rasa, adohh sa mampus sudah.

Sa naik, menuju ke warung-warung orang pendatang dong. Tunggu nasib, macam nanti dong kasih sa makanan. Tunggu2, lihat2 orang makan di sepanjang pantai MAF.

Ahahahaha, adohh sa hancur, ingat dulu. Duduk macam ngamen, lihat-lihat orang makan, dan tunggu dong nanti kasih sa makanan atau tidak. Tunggu-tunggu truss. Pindah dari warung satu ke yang lain, trada nasib yang mau kasih sa makan lagi. He he heee

Pemilik warung yang pengusahanya besar hingga pedagang kaki lima (tukan minta-minta) di Jawa yang sekarang bikin acting, macam jadi tuan di sa pu tanah. Pikiran2 itu timbul dengan nada keganasan.

Mata hari de su mulai jatuh ke bawah. Adohh, kalau sa lama disini berarti sa bisa mampus sudah. Terpaksa, sa harus balik, ikuti jalan yang tadi. Tra baik juga nonton2 orang jg. He he heheee

Terpaksa, sa harus tinggalkan tempat itu.

Lompat kembali ke pagar yang tadi, karena takut dapat kejar dari penjaga Air Port lg jadi, sa bikin jalan di pinggiran Lapangan Terbang.

Lariii, tahan lapar, tahan haus, tahan takut dapat kejar lagi dari manusia pendatang satu tu. Larii trussss, lari trusss, sampee tiba di ujung Lapangan Terbang.

Adohhh, sa su tra bisa tahan lagi. Sa su tra bisa jalan lagi, dengan keadaan yang mampus begini. Sa su tra berdaya. Jalan pelan-pelan dengan lambat.

Sampe di pinggiran kali. Sa lihat air kali ni macam bersih. Air yang baru saja sa masak dan bersih untuk diminum. Ahahahah..

Sudah, tra tunggu lama, lompat macam orang yang baru kaget bangun. Kepala kasih masuk dalam air, dan air ko masuk dalam perut sudah. Kepala dalam air hamper 4 menit. Sampe perut ko terisi.

Setelah barang de masuk, sa mulai angkat kepala langsung. Karena su tra haus jadi, sa mulai perhatikan air kali yang mengalir tu. Pelan-pelan, minyak limba di kali tu lewat karena tra sadar jadi. Lihat ke arah timur kali, di atas ada satu tempat pembuangan kotoran manusia. Adohh sa mati sudah.

Pikir tabolak balik, sampe, pikiran positif muncul lagi. Ahh, nanti perut yang atur, yang penting sa sudah tra haus lagi. Tunggu beberapa menit, sa langsung angkat kaki.

Tra tunggu lama lagi, sa langsung lari ke rumah dan isi perut lagi dengan air bersih 4 gelas sedang. Sampe perut de mampus benar.

Sa ingat kembali setelah sa mau minum air pipa di sebelah sa pu tempat tinggal disini. Sa lihat air pipa dan sebelum sa minum, sa hancur tertawa 20 menit, setelah itu sa minum air pipa lagi, yang penting perut yang atur. He he hee He he he he heeee….

Karena hancur, sa tuliskan kembali di "Media sosial" langsungg...

@kudiai_m


Share on Google Plus

About Suara Kolaitaga

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment