News
Loading...

Noken, Mama dan Anak

Mama, anak dan noken(Jubi/ist)
Jayapura, Jubi-Noken dalam budaya masyarakat Papua melambangkan kehidupan seorang anak sejak bayi hingga dewasa. Bayi selalu tidur dalam noken dan dekat dalam dekapan ibunda yang melahirkannya. Noken juga bisa menjadi petaka kalau si anak mengkhiati mama. Berbahaya dan terkutuk bagi si anak kalau mama sudah merobek dan mengoyakan noken kehidupan itu. 

Tak heran kalau noken, sifatnya sangat sakral dan tabu, orang tak sembarang menggunakannya atau pun memakai secara seenaknya. Bisa kena petaka akibat kutukan. Orang-orang Migani menyebut noken dalam bahasa daerahnya “Ombo.” Sedangkan orang Mee sendiri menamakan “Agiya.” Di daerah Sentani, disebut “Holoboi.”

Ada juga noken besar yang hanya dipakai oleh kaum bangsawan, yang disebut wesanggen. Sekitar 250 suku di Papua, masing-masing mempunyai kekhasan untuk noken mereka. Yang jelas, noken melambangkan kesuburan, serta persatuan, kesatuan, dan kedamaian rakyat Papua.
 
Orang Byak menyebut Inokson atau noken kasun artinya noken kecil. Noken yang dikenakan orang tua dianggap faknik alias pamali jika anak-anak memegang. Kaum lelaki di Byak memakai noken untuk menyimpan rokok dan juga pinang untuk melakukan kinsor atau mawai.

Suku Marind (merauke) menyebut “Mahyan”, Suku Moor menyebutnya “Aramuto” dan Suku Dani menyebutnya “Su”. Meski berbeda dalam bahasanya tetapi noken memiliki makna yang sakral dan penting dalam struktur budaya orang Papua.

Bahan-bahan pembuat noken yaitu kulit kayu, pohon manduan, pohon nawa, sedangkan di Paniai menggunakan dari bahan jenis anggrek hutan, ada enam jenis noken yang dikenal di Paniai-Nabire. Antara lain jenis Agiya, goyake agiya, hekpen agiya, toya agiya, kagamapa agiya, pugi agiya, dan tikene agiya
Fungsi noken mulai dari menggendong bayi, memikul hasil bumi ke pasar. Kini pelajar juga memakai untuk menyimpan buku ke sekolah, bahkan sebagai cinderamata bagi para turis manca negara maupun lokal.


Perempuan dan mama-mama dari pegunungan tengah biasanya membawa noken dengan menggantungkan pegangan tali di atas kepala mereka. Noken bisa tersusun banyak dari ukuran besar sampai yang terkecil gantung di kepala mama-mama Papua. Mereka membiarkan noken tersusun di punggung
Jaman dulu hanya kaum perempuan saja yang boleh membikin atau menganyam noken sebagai lambang kedewasaan mereka. Jika seorang anak perempuan tak bisa membuat noken, dianggap belum dewasan dan belum boleh menikah. Soalnya perempuan akan menganyam noken buat melindungi anak-anaknya.

Tak heran kalau anak-anak sangat takut menyentuh noken mama dan juga bisa mendapat celaka kalau mama merobek noken atau melempar noken ke si anak.(Dominggus Mampioper)

Sumber : www.tabloidjubi.com
Share on Google Plus

About Suara Kolaitaga

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment