News
Loading...

Kronologis Polisi Rampas Kamera Wartawan di Nabire

Topilus B. Tebai - facebook
Topilus B. Tebai – facebook

Jayapura, Jubi – Saya Topilus B. Tebai, editor di majalahselangkah.com, satu dari beberapa portal berita dan informasi di tanah Papua. Saya akan ceritakan kronologis singkat bagaimana saya sebagai wartawan dilarang untuk melakukan tugas kewartawanan. 

Bertepatan dengan peringatan hari deklarasi kemerdekaan West Papua pada 01 Desember 1961 yang diperingati setiap tahun oleh rakyat Papua, saya yang saat ini tinggal di Nabire telah bersiap sejak pagi hari ini, Selasa 01 Desember 2015, untuk meliput kegiatan doa yang akan digelar di Taman Makam Pahlawan, samping Taman Gizi, Nabire. Pukul 09.00 WIT saya menggunakan motor tiba dekat Taman Makam Pahlawan, Nabire.

Setibanya di dekat Taman Makam Pahlawan, gabungan aparat kepolisian, Brigade Mobil dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) terlingat tengah mengadakan sweeping motor besar-besaran. Saya memarkir motor di samping jalan dan berjalan kaki menuju taman makam pahlawan.

Mama-mama dan puluhan pemuda Papua yang hendak mempersiapkan kegiatan doa bersama memperingati hari deklarasi kemerdekaan tidak diizinkan masuk ke dalam taman. Taman Makan Pahlawan telah dijadikan tempat memarkir motor-motor yang ditilang oleh aparat gabungan yang melakukan sweeping.

Masyarakat protes. Polisi terlihat tidak menggubris. Saya ke toko dekat pasar Oyehe, beli baterai ABC yang kecil untuk kamera, lalu kembali ke Taman Makam Pahlawan untuk memotret. Kartu pers telah saya kalungkan.
Setelah mengambil beberapa gambar aktivitas sweeping oleh aparat gabungan, saya masuk ke dalam Taman Makam Pahlawan, tempat motor-motor yang ditilang itu diparkir. Saya lihat Mama-mama protes di pintu masuk, karena aparat melarang mereka masuk.

“Aparat sengaja pakai Taman Makam Pahlawan di hari 1 Desember ini untuk menggagalkan acara doa oleh bangsa Papua,” ujar Mama Wakei, saat saya tanya. Mama Wakei lalu tunjuk Taman Gizi Nabire, tempat yang dipakai buat kampanye para kandidat yang kosong.

“Harusnya mereka (aparat gabungan) gunakan itu (Taman Gizi), bukan disini,” lanjut Mama Wakei sambil tunjuk aparat gabungan yang sedang berjaga dengan senjata, yang sibuk urus motor dan yang berada di 6 truk Sabhara di sudut belakang Taman Makam Pahlawan.

Saya masuk dalam taman dan mengambil beberapa gambar. Tiba di depan seorang polisi yang kemudian mengaku sebagai pimpinan, yang tidak menyebutkan nama saat ditanya, mengeluarkan kata-kata yang bernada mengejek. “Adik, nanti foto juga dari atas awan ee, dari udara, biar gambarnya dapat semua dan baik.” Lalu dia sambung lagi, “Atau panjat pohon saja (sambil tujuk pohon mangga yang ada di pojok barat taman) dan ambil gambar dari sana,” lalu polisi itu tertawa diikuti teman anggota yang lain yang juga ada di situ.

Saya senyum saja.

Saya kelliling taman, dari pintu masuk yang di utara, lalu lewat barat ke selatan lalu ke timur dan hendak ke arah utara lagi untuk keluar. Di sudut timur, saya dihentikan dua anggota polisi yang saya potret. Mereka meminta kamera. Mereka marah saya, siapa yang izinkan saya masuk dan mengambil gambar. Lalu seorang yang lain mengayunkan kaki mencoba menendang saya.
Saya jelaskan bahwa saya wartawan. Saya tunjukkan kartu identitas/kartu pers. Tampaknya mereka tidak puas. Dengan suara keras mereka tanya, dimana kantor Majalah Selangkah, siapa pimpinan Majalah Selangkah, dan meminta surat perintah peliputan. Saya katakan saya wartawan, kerja 24 jam untuk kebutuhan informasi publik. Saya juga ingatkan mereka tidak berhak melarang saya mengambil gambar, dan itu diatur dalam undang-undang tentang pers.

Mereka protes minta tidak diambil gambar. Mereka lalu mendesak saya menghapus gambar-gambar yang telah saya ambil.

Sekitar 5 anggota yang lain yang berada di pojok selatan dan barat juga datang ke kami. Lalu mereka mengepung saya, mengambil kamera saya secara paksa, dan meminta KTP. Karena belum bawa KTP, saya katakan KTP ada di dompet, di rumah. Aparat gabungan terus desak saya ambil KTP, sementara saya bertanya apakah kartu identitas wartawan yang saya kenakan belum cukup lengkap menjelaskan dan meyakinkan mereka bahwa saya benar-benar wartawan dan berhak meliput peristiwa ini tanpa intimidasi dan larangan.

Karena terus didesak, saya telpon Yermias Degei, pimpinan redaksi (Pimred) Majalah Selangkah. Saya berikan HP kepada aparat agar dapat penjelasan langsung dari Pimred soal keberadaan saya. Aparat menolak bicara dengan Pimred dan ngotot saya harus menjelaskan, sementara saya merasa telah menjelaskan siapa saya.

Lalu seorang anggota mulai menendang dari belakang, mendorong saya untuk keluar. Saya mulai berjalan keluar. Polisi yang mengeluarkan kata-kata yang bernada mengejek tadi datang lalu bilang, saya telah tidak sopan, bicara dengan kasar dengan anak buahnya.

Lalu saya dipaksa keluar dari Taman Makam Pahlawan. Saya minta kamera yang tadi diambil paksa. Setelah kamera dikembalikan, saya diantar seorang anggota hingga keluar dari pagar. Di luar taman, mama-mama dan beberapa pemuda di luar pagar sambut saya dan tanya kenapa saya ditahan tadi dan diperlakukan seperti itu.

Untuk lebih lanjut silahkan hubungi di nomor Hp saya; 081228126433/082227241707 (*)

Editor : Victor Mambor
 
http://tabloidjubi.com/home/2015/12/01/kronologis-larangan-liput-berita-kepada-wartawan-di-nabire/
Share on Google Plus

About Suara Kolaitaga

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar