News
Loading...

PRIBUMI TERLANTAR, USKUP AGUNG MERAUKE TEKANKAN PEMBANGUNAN MANUSIA MELALUI SURAT GEMBALA

Penduduk Pribumi Merauke terlantar diatas tanah pusaka sendiri. (Dok. Tribunarafura.com)
Penduduk Pribumi Merauke terlantar diatas tanah pusaka sendiri. (Dok. Tribunarafura.com)
Uskup Agung Merauke Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC pada 19 September 2015 lalu mengeluarkan Surat Gembala menyikapi momen Pilkada Serentak di Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel.
Salah satu poin penting yang menjadi perhatian Uskup dalam Surat Gembala itu adalah soal Pembangunan Manusia.
“Bila keluarga dan masyarakat yang menjadi tujuan pembangunan baik jangka pendek maupun jangka panjang, pikiran-pikiran, harapan dan rencana kerja masyarakat yang dituangkan dalam program pembangunan pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya semestinya pertama-tama diarahkan kepada pembangunan manusianya, bukan pada proyek fisik atau kegiatan atau sarana penunjang lainnya,” tulis Uskup dalam Surat Gembala-nya.
Penekanan Uskup pada ‘Pembangunan Manusia’ berangkat dari kondisi nyata kehidupan masyarakat Pribumi Papua di Kabupaten Merauke yang terpuruk di tengah-tengah gencarnya Pemerintah Kabupaten ini membangun kantor, tugu, jalan, jembatan, drainase dan berbagai sarana fisik lain.
Pemandangan mengerikan tersedia di depan mata ketika kita menyaksikan sekelompok pengemis pribumi yang dipimpin oleh seorang nenek tua setiap hari menyambung hidupnya dengan sedekah pemberian orang.
Atau sekelompok anak-anak usia Sekolah Dasar meninggalkan sekolahnya karena harus menjalankan peran sebagai pemulung atau tukang parkir di depan toko – hanya untuk bertahan hidup.
Ada juga kaum pribumi yang berstatus tuna wisma,  yang hidupnya terlunta-lunta, menjadikan teras rumah orang mampu sebagai tempat tidurnya.
Perumahan kumuh di pinggiran kota juga menyimpan segudang persoalan. Dihimpit oleh beban hidup yang tidak kenal kompromi, setiap upaya mereka untuk mendapat sentuhan tangan Pemerintah, pasti disabotase oleh sekelompok pencuri.
Hak Asasi Manusia yang menjelma menjadi Raskin diselewengkan, para penikmat Raskin bebas berkeliaran, anak-anak  mereka menikmati pendidikan secara baik, sementara pada saat yang sama, anak-anak penerima manfaat yang jatah Raskin mereka disabotase tidak dapat mengembangkan pendidikan.
Tuntutan mereka yang jatah Raskin-nya dirampas oleh kelompok yang berkuasa untuk mendapatkan keadilan selalu dianggap sebagai manuver politik kepentingan dan hukum yang seharusnya memberi rasa adil bagi segenap warga negara tampil membela kekuasaan.
Gizi buruk menghantui kehidupan mereka, membatasi pertumbuhan otak anak-anak sehingga di kemudian hari mereka tidak akan mampu bertahan terhadap kencangnya arus perubahan. Tanah pusaka mereka tidak akan bisa dipertahankan sehingga negeri ini akan segera menjadi milik orang lain.
Mereka pembayar pajak yang turut membangun Kabupaten Merauke, tetapi hak-hak mereka sebagai warga pembayar pajak tidak dihitung secara adil.
Fakta mengerikan ini terjadi di kota Merauke, di sekitar pemukiman para pemegang kekuasaan.
Bagaimana dengan pribumi di kampung-kampung?
Sebagai pemimpin Gereja Katolik, Sang Uskup memiliki data yang valid tentang pembangunan manusia di Kabupaten Merauke.
Statistik pemerintah menafsirkan kehidupan kaum pribumi sesuai selera politisi yang kemudian menjadikan kaum pribumi sebagai materi kampanye menjelang Pemilu.
Suara bisa ditukar dengan jaring, kampak, garam, rokok dan bahan kontak lainnya, persis seperti nenek moyang pribumi dan nenek moyang pendatang bertemu untuk pertama kalinya di abad lalu.
Kualitas Pemilu menjadi rendah karena hubungan antara kandidat dan pemilih berada di level persaudaraan  semu yang dibangun menggunakan bahan-bahan kontak.
Penipuan pejabat terus dilancarkan untuk menutupi kebobrokan yang sesungguhnya. Radio, TV, Koran menulis fakta yang sudah dipoles sesuai permintaan pejabat. Komentar pejabat disebarluaskan untuk diterima oleh pribumi yang menderita.
Kebangkitan pribumi dianggap berbau politik, bahkan secara ekstrim dikatakan belum siap agar ada alasan untuk terus memimpin mereka.
Pribumi diadu-domba, yang satu melihat yang lain sebagai saingan, sehingga lemah dalam mempertahankan eksistensi.
Bapa Uskup. Apakah ada solusi konkret? Atau kita serahkan saja kepada Tuhan?

http://tribunarafura.com/index.php/2015/11/26/pribumi-terlantar-uskup-agung-merauke-tekankan-pembangunan-manusia-melalui-surat-gembala/
Share on Google Plus

About Suara Kolaitaga

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar