News
Loading...

Bhineka Tunggal Ika atau Tunggal Ika Bhineka?


“Bhineka Tunggal Ika” adalah moto atau semboyan negara Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan frasa “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Apabila frasa “Bhineka Tunggal Ika” diterjemahkan kata perkata, maka (1) kata “bhineka” berarti “beraneka ragam” atau “berbeda-beda” (kata “neka” dalam bahasa Sanskerta berarti “macam” dan menjadi pembentuk kata “aneka” dalam bahasa Indonesia); (2) kata “tunggal” berarti “satu”; dan (3) kata “ika” berarti “itu”. Jadi secara harfiah, “Bhineka Tunggal Ika” diterjemahkan menjadi “Beraneka Satu Itu”, yang kemudian diartikan sebagai “berbeda-beda tetapi tetap satu”, yang menggambarkan beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan, tetapi tetap satu Indonesia. Frasa “Bhineka Tunggal Ika” sendiri merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuno, yakni kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular, semasa kejaraan Majapahit, sekitar abad ke-14.


Apakah moto atau semboyan ini salah? Tentu saja tidak. Inilah moto atau semboyan negara Indonesia yang telah diakui dan diterima oleh segenap warga negara Indonesia. Tetapi, tanpa bermaksud menghujat moto atau semboyan tersebut, saya merasa susunan kata dalam frasa tersebut tidak begitu tepat, dan oleh karenanya saya berpendapat sebaiknya susunan kata dalam frasa tersebut diganti menjadi “Tunggal Ika Bhineka”. Tentu saja saya mempunyai empat alasan sebagai berikut.

Pertama, Frasa dan pengertiannya. Menurut saya, frasa yang tepat untuk moto atau semboyan Indonesia adalah “Tunggal Ika Bhineka”, yang secara harfiah berarti “Satu Itu Beraneka” (bukan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti “Beraneka Satu Itu”). Frasa ini mengandung pengertian bahwa, “Tetap satu tetapi berbeda-beda”, yang menggambarkan Indonesia yang satu tetapi beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Dengan demikian, penekanan dan esensi ke-indonesia-annya terletak pada fakta keberagaman atau pluralisme yang membentuk kesatuan, bukan kesatuan semata yang cenderung mengabaikan fakta keberagaman atau pluralisme.

Kedua, mengakui fakta keberagaman atau pluralisme. Indonesia sebagai sebuah negara (yang ikut membentuk moto atau semboyan “Bhineka Tunggal Ika”) merupakan sebuah entitas politik yang dibentuk pada tahun 1945. Tetapi perlu dipahami bahwa keberagaman atau pluralisme di Indonesia sudah ada sebelum itu. Entah negara Indonesia mau ada atau tidak, keberagaman budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan adalah fakta. Maka, berkaitan dengan moto atau semboyan Indonesia, seharusnya fakta keberagaman atau pluralisme lebih penting (karena sudah ada lebih dahulu dan masih ada) dari pada sekedar persatuan yang cenderung mengabaikan fakta keberagaman atau pluralisme. Negara Indonesia yang ideal adalah “tetap satu tetapi berbeda-beda”, karena perbedaan atau pluralisme adalah fakta dan anugerah.

Ketiga, keberagaaman atau pluralisme membentuk persatuan. Persatuan selalu lahir dari keberagaman atau pluralisme (perbedaan dan keterpecahan). Persatuan Indonesia pun lahir dari fakta keberagaman budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Tetapi persatuan Indonesia tidak boleh meniadakan fakta keberagaman atau pluralisme tersebut. Untuk melindungi dan melestarikan fakta keberagaman atau pluralisme Indonesia tersebut, maka moto atau semboyan Indonesia harus lebih menonjolkan dan mengutamakan keberagaman atau pluralisme, dari pada sekedar persatuan yang mengabaikan fakta keberagaman atau pluralisme. Penonjolan dan pengutamaan fakta keberagaman atau pluralisme itu dapat tercermin melalui “tetap satu tetapi berbeda-beda”.

Keempat, keberagaman atau pluralisme adalah kekayaan masa depan Indonesia. Keberagaman atau pluralisme jangan dipandang sebagai “penyakit kehidupan”, tetapi harus diterima sebagai “anugerah kehidupan”. Indonesia masa depan harus dibangun di atas landasan keberagaman budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Maka, berkaitan dengan moto atau semboyan negara Indonesia yang paling tepat adalah “Tunggal Ika Bhineka”. Indonesia masa depan adalah “Indonesia yang tetap satu tetapi berbeda-beda”.

(Dumupa Odiyaipai)

Demi Hak CIPTA Jangan HAPUS Sumber ini : http://www.odiyaiwuu.com/2015/08/bhineka-tunggal-ika-atau-tunggal-ika.html#ixzz3kRgHPJOW
Share on Google Plus

About Suara Kolaitaga

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment