Pages

Pages

Senin, 17 November 2014

Jepang Bantu Kelola Pariwisata Biak, Pendidikan dan Kesehatan

Tampak peninggalan perang dunia dua milik Jepang di depan goa Jepang Biak (Jubi/Marten Boseren)
Biak, Jubi – Potensi pariwisata di Pulau Biak dan Numfor akan dipamerkan di dua kota besar di Jepang, yaitu Tokyo dan Osaka, pada 29-31 Oktober 2014.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Papua, Meky Kapitarauw mengatakan, beberapa waktu lalu, pihaknya telah melakukan promosi potensi wisata ke negari Sakura itu dan mendapat respon positif dari pemerintah Jepang. Pulau Biak memiliki sebuah situs bersejarah dan sangat penting khususnya bagi warga Jepang. Yakni, lokasi peninggalan tengkorak prajurit Jepang dalam perang dunia ke-II.

“Dikarenakan ada peninggalan Perang Dunia dua Jepang di Biak, Papua, Indonesia. Pemerintah Jepang juga menyetujui kerjasama untuk pengembangan Pariwisata di Biak untuk peninggalan perang dunia ke-II mereka yang ada di Biak,” kata Kapitarauw ketika ditemui Jubi Sabtu, (14/11).
Tak hanya itu. Pemerintah Jepang juga menwarkan bantuan di bidang pendidikan dan kesehatan di Pulau Biak. “Bantuan di bidang pendidikan berupa pemberian beasiswa kepada 10 siswa-siswi SMA/SMK di Biak yang berprestasi, terutama siswa-siswi yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris,” jelas Kapitarauw.

Sedangkan bantuan di bidang kesehatan, berupa pemberian mobil ambulance dan alat pemurni air. Kapitarauw mengatakan, bantuan di bidang kesehatan itu sedang dalam perjalanan dari Jepang ke Biak. “Dua-duanya buatan Jepang sendiri. Penggunaanya akan diatur oleh Pemda dalam hal ini bapa Plt. Bupati,” Kapitarauw menjelaskan.

Ketua Himpunan Pemandu Pariwisata Biak, Papua, Rudolf Boy Ronsumbre, mengharapkan, adanya perhatian dan perawatan atas bantuan mobil ambulance dan permurni air tersebut , sehigga dapat berfungsi hingga beberapa tahun mendatang.

Sementara untuk pemberian beasiswa, ia meminta kepada pihak Dinas Pariwisata agar melakukan pendataan dan menyeleksi secara ketat calon penerima beasiswanya tepat sasaran.

”Jangan yang orantuanya mampu tapi dapat beasiswa. Ini kan mubasir namanya,” ujarnya. (Marten Boseren)

Sumber :  www.tabloidjubi.com