Pages

Pages

Selasa, 28 Oktober 2014

Siswa SD Batu Putih Minta Guru Rajin Mengajar

Darius Kliff Tokoro (kiri) dan rekan-rekannya (Jubi/Mawel Benny)
Darius Kliff Tokoro (kiri) angkat tangan dan rekan-rekannya (Jubi/Mawel Benny)
Abepura, Jubi – Siswa Sekolah Dasar (SD) Batu Putih Jalan Baru, Kampung Puai baru, distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura berharap  para guru bisa  rajin datang dan  mengajar di sekolah.
Darius Kliff Tokoro,  siswa kelas lima , berharap agar  para guru rajin datang dan mengajar di sekolah ,   Senin (27/10). “Saya  mau guru-guru rajin  mengajar di sekolah agar kita semua pintar  dalam  belajar  seperti teman-teman di kota,”kata Tokoro.
Siswa kelahiran 19 November 11 tahun lalu itu bersama siswa lainnya  berharap agar  para guru sering  datang dan   mengajar di sekolah  setiap harinya . Ada guru yang bisa  datang setiap hari dan ada yang datang pada hari  tertentu saja.
“Ah ada yang masuk setiap hari ada juga yang tidak ,”katanya.
Siswa-siswa ini bahkan  tahu siapa saja guru  yang rajin  mengajar dan  siapa yang tidak rajin. “Ibu Dimara, guru   yang paling rajin,” ungkap Tokoro bersama siswa lainnya.
Ibu separuh baya itu digelari guru yang rajin datang mengajar walaupun tinggal di Dok V, Kota Jayapura.
Harapan yang sama juga  datang dari siswa kelas enam. Mereka sangat mengharapkan para guru datang dan  memberikan persiapan ilmu untuk kelanjutan pendidikan maupun ujian. “Kita berharap agar para guru  rajin tapi kalau gurunya ada yang tidak rajin, kita tidak tahu,”kata Kevin Inwar.
Guru  Orpan Dimara membenarkan selama ini guru-guru kesulitan  dalam  mengajar setiap hari lantaran lokasi rumah dengan sekolah sangat jauh. “Semua guru-guru tinggal di luar .Guru yang  tinggal di wilayah lain karena tidak ada perumahan guru di sekolah,” kata Dimara.
Selain jarak, menurut Dimara, tidak ada transportasi umum yang menuju ke sekolah. Motor ojek satu-satunya sarana transportasi ke wilayah yang berada hanya satu kilo meter dari Kelurahan  Heram, Kota Jayapura ini. Ongkos ojek pun sangat mahal ,  dari pangkalan utama di jalan raya Abe – Sentani bisa menghabiskan Rp 20 ribu.
Uang itu belum terhitung dengan ongkos angkutan umum dari pangkalan ojek ke rumah. Misalnya ibu Dimara yang tinggal di Dok V Jayapura harus tiga hingga empat kali ganti transportasi umum. Oleh karena itu  guru yang bertugas disini hitung-hitungan dalam mengunakan gajinya  setiap bulan.
“Tunggu ongkos. Kalau ada ongkos, datang. Kalau tidak ada ya…”ujarnya.
Guru yang datang pun tidak bisa mengajar lama. Mereka  bisa meninggalkan kelas secara  mendadak kalau ingin  ke kamar kecil . “Tidak ada kamar kecil,  kalau ada yang sakit perut, kita tidak bisa tahan. Saya bilang pulang saja,”ungkap kepala sekolah, Yakob Olua S. Pd. (Jubi/Mawel)