Pages

Pages

Senin, 22 September 2014

Bangunan Gereja Katolik St Petrus Sabon Sangat Memprihatinkan

Bangunan Gereja Katolik di Kampung Sabon, Distrik Waan yang tidak layak. (Jubi/Frans L Kobun)
Merauke, Jubi – Bangunan Gereja Katolik St. Petrus Sabon, Distrik Waan, Kabupaten Merauke, sangatlah memprihatinkan. Betapa tidak, bangunan yang berarsitek dinding dan beratap dari pohon enau itu, telah mengalami kerusakan berat. Pada bagian samping dari bangunan gereja, sudah bolong. Namun tiap hari Minggu, umat tetap datang dan melaksanakan ibadah sebagaimana biasa.

Pastor Paroki Batu Merah, Romo Silvester Tokio, Pr  mengatakan, seperti inilah kondisi bangunan Gereja Katolik di daerah pedalaman Kimaam. “Saya kira rekan-rekan wartawan sudah melihat secara langsung kondisi bangunan gereja yang sebenarnya. Memang untuk mengharapkan derma yang disubangkan masyarakat setempat, sangatlah sulit. Sebab sumber pendapatan yang didapatkan pun sangat terbatas,” katanya kepada tabloidjubi.com, Sabtu (20/9).

Menurut Romo Sil, Kampung Sabon letaknya sangat sangat jauh, termasuk akses transportasi masuk. Ketika spead boat masuk ke kampung, harus menunggu hingga air pasang terlebih dahulu.

Lebih lanjut Romo Sil menjelaskan, beberapa kali dirinya selalu berbicara jika bangunan kandang ayam jauh lebih baik dari pada bangunan gereja. “Ya, dengan statemen yang saya sampaikan itu, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke dibawah kepemimpinan Romanus Mbaraka-Sunarjo memberikan perhatian sangat besar,” tuturnya.

Menurut Romo Sil, pada tahun 2011 silam, pemerintah mengalokasikan anggaran untuk setiap kampung sebesar Rp 200 juta guna pembangunan gereja-gereja termasuk di Kampung Sabon. Dana tersebut, katanya, telah digunakan untuk membeli jendela serta rangka bangunan yang sudah diselesaikan di Kota Merauke. Semestinya, sudah harus dihantar sejak beberapa bulan lalu, namun terkendala biaya transportasi yang sangat besar.

“Terus terang saya harus jujur mengatakan bahwa gereja bergantung seratus persen kepada Pemerintah Kabupaten Merauke. Oleh karena kekurangan biaya transportasi itu, maka pemerintah setempat membantu dana lagi sebesar Rp 500 juta. Uang dimaksud, nantinya akan dimanfaatkan untuk mengangkut rangka bangunan beberapa gereja di wilayah Selatan yang sudah dipersiapkan di kota,” tandasnya.

Bupati Merauke, Romanus Mbaraka mengakui jika  dirinya mendapatkan laporan dari Romo Silvester Tokio kalau  dana senilai Rp 200 juta telah dimanfaatkan untuk menyetel rangka bangunan. Hanya saja, masih kesulitan untuk mengangkut.  “Ya, saya tambah dana Rp 500 juta agar dapat digunakan mengangkut bahan kerangka bangunan gereja,” tuturnya. (Frans L Kobun)

Sumber :  www.tabloidjubi.com