Pages

Pages

Senin, 22 September 2014

13 Tahun Jatuh Bangun, Kini Jubi Menjelma Koran Harian

Contoh Koran Jubi (dok/Jubi)
Abepura,Jubi – Setelah tiga belas  tahun bertahan sebagai anjing penjaga (watchdog) di tanah Papua, kini  tabloidjubi.com tampil kembali dalam bentuk surat kabar harian.

“Teman-teman tidak terasa, tabloidjubi sudah 13 tahun. Jatuh bangun akhirnya kita cetak koran. ,” ungkap Victor Mambor Pemimpin Redaksi Jubi, dalam acara syukuran penerbitan Koran cetak Jubi di Restoran B.One, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (20/9) kemarin.

Jubi pertama kali terbit antara tahun 1999/2000 dalam bentuk tabloid mingguan. Penerbitan tabloid terhenti akibat masalah internal. Jubi pun  mulai beralih ke dalam jejaring (online). Sambil online, Jubi mulai coba terbit mingguan lagi pada tahun 2013 namun itu berhenti.

Kegagalan itu tidak membuat Jubi menyerah. Jubi bangkit dengan semangat cetak koran harian. Koran harian akan terbit akhir September 2014 ini.

Jurnalis yang bekerja di masa -masa awal berdirinya tabloidjubi,  Cuding Levi menjelaskan perjalanan tiga belas tahun itu tidak mudah. Jubi harus melalui berbagai tantangan.

Tantangan Internal antara pengelola media dan pemilik media terdahulu,  ( FOKER LSM Papua). Kalau sekarang, Jubi berdiri sendiri, tidak berada di bawah kendali Foker LSM.

Tantangan eksternal datang dari pembaca. Orang kadang memandang Jubi sebagai momok. Bahkan orang melihat Jubi media kelompok pro kemerdekaan Papua.

Menurut Cuding, kalau melihat Jubi dengan logis, orang akan tahu posisi Jubi yang benar. Jubi tidak berada dalam posisi pro atau kontra merdeka. Jubi berada dalam posisi memperjuangkan nilai kebenaran, demokrasi dan kemanusiaan.

Sejak terbit pertama, menurut Cunding, Jubi konsisten jujur bicara kebenaran. Karena jujur itulah, pria yang juga bekerja sebagai jurnalis Tempo ini tidak pernah berpikir meninggalkan Jubi ataupun koran Tempo. “konsistensi Jubi dan Tempo itu sama. Mereka jujur bicara kasus-kasus pelanggaran hukum. Suara hati saya yang paling dalam ada di sana”.

Jurnalis generasi ketiga Jubi, Dominggus Mampioper menambahkan di momen yang sama, mengatakan penerbitan koran ini sangatlah bermanfaat, terutama dalam penyebaran informasi maupun pengetahuan kepada khalayak ramai di wilayah lokal, regional dan internasional.

Menurut pria yang akrab dengan sapaan Minggus ini, Jubi masih mempunyai kesempatan terus berkembang ke wilayah Asia maupun kawasan Pacifik. Harapan berkembang atau tidak itu tergantung kepada semua kru Jubi.

Menulis dalam kerangka lokal maupun regional, menurut Minggus sangatlah penting untuk mencatat segala peristiwa. Catatan jurnalis itu bukan sekedar berita melainkan sejarah. “Kita bisa meninggalkan jejak peradaban,”kata sang Junalis senior.

Kembali kepada pembicaraan Mambor. Mambor mengajak semua kru Jubi saling mengenal, dan bekerja sama dalam mengkawal eksisnya penerbitan koran Jubi. “Kita harap kita terus bergerak maju,”tegasnya mengahiri sambutan pembukaan.

Kefas Matuan, Staf penerbitan memastikan pada 22 september mulai promosi koran Jubi. “Kita langsung promosi. Saya sudah hubungi teman-teman. Kita cetak seribu lebih. Satu koran Rp.3000,”jelas Matuan. (Benny Mawel).

Sumber :  www.tabloidjubi.com