Pages

Pages

Jumat, 26 September 2014

AMERIKA SERIKAT LEBIH LAYAK DI SEBUT TERORIS DUNIA ! INI DAFTAR KEJAHATANNYA

Setiap orang yang melihat sejarah Amerika yang mengakui bahwa mereka adalah bangsa beradab. Mereka adalah negara maju. Peradaban mereka juga merupakan peradaban mutakhir di muka bumi. Amerika ingin memublikasikan nilai-nilai dan keadilan, dengan dalih melawan terorisme global. Namun sejatinya Amerika adalah pelaku terorisme dan kejahatan terbesar di dunia.

Tidak perlu banyak bicara untuk mengungkap bahwa Amerikalah yang paling besar kejahatannya dalam sejarah peradaban manusia …. Mereka melakukan kejahatan yang paling mengerikan. Tak seorang pun dari penduduk dunia yang tidak tahu. Kami akan menghadirkan catatan tentang mereka, di antaranya:

Pertama: Suku Indian
Amerika menamai penduduk asli benua Amerika dengan sebutan Redkins dan mengangkat slogan slogan “Genosida lebih mudah daripada mengkristenkan” terhadap mereka.

Pada tahun 1664 M, dirilis sebuah buku yang berjudul: (Giant) ditulis oleh (Jordjack) yang berisi saran bagi para pimpinan negara-negara Protestan Anglo-Saxon (Britania Raya) ke benua baru, Amerika. Dikatakan: Pemusnahan bangsa Indian jauh lebih mudah daripada upaya mengkristenkan atau menjadikan mereka terpelajar. Mereka adalah orang idiot, barbar dan telanjang. Dengan keadaan seperti ini sulit menjadikan mereka terpelajar.

Sesungguhnya mengalahkan mereka itu mudah, tetapi menjadikan mereka terpelajar memakan waktu yang lama. Genosidalah cara untuk mempersingkat waktu ini. Sarana untuk meraih kemenangan atas mereka banyak: dengan kekerasan, kejutan, kelaparan, membakar tanaman, menghancurkan kapal dan rumah-rumah, merobek jaring ikan, dan di tahap akhir pengejaran dengan kuda yang cepat dan anjing yang dapat menakut-nakuti mereka. Karena ini dapat merusak tubuh mereka yang tanpa pakaian.

Kedua: Afrika
Setelah benua Amerika terbebas dari para budak (RedSkins), orang Amerika memutuskan untuk mengimpor jutaan budak (berkulit gelap) untuk melayani “bangsa terpilih”. Para koboi pergi ke laut berkeliaran di pantai-pantai Afrika untuk berburu “budak” dan memasukkan mereka ke dalam kapal kargo. Kejahatan-kejahatan mereka yang lain digunakan untuk “mengobati” kejahatan pertama tentang perampasan hak suku Indian!

Kejahatan-kejahatan lain masih dilakukan, namun mereka merasa belum cukup, kemudian membangun kejahatan-kejahatan baru!
Pertama kalinya, orang Eropa dan Amerika telah membawa setidaknya 12 juta orang Afrika untuk diperbudak. Mereka datang dengan tangan diborgol. Portugal di antara negara-negara Eropa lainnya termasuk yang paling banyak membawa mereka ke negeri-negeri dunia baru di Amerika, tanpa memberikan jaminan apa pun bagi makhluk Afrika ini. Ulah mereka tidak lebih baik daripada saat mereka berurusan dengan segerombolan tikus.

Kejadian ini telah dilaporkan ke UNESCO pada tahun 1978. Laporan ini menceritakan kengerian yang terjadi pada orang-orang Afrika dan bencana kemanusiaan yang menimpa mereka untuk memuluskan tujuan “rekonstruksi” Amerika, negara yang terlibat dalam kekerasan dan kejahatan serta pilar pokok tersebarnya keburukan.

Dinyatakan bahwa Afrika telah kehilangan anak-anaknya sekitar 210 juta orang dalam perdagangan budak. Setidaknya 25 juta orang Afrika dikirim dari seluruh benua Afrika dari (pulau Gore) yang letaknya menghadap ibukota Senegal (Dakar). Sebagian dari mereka telah mati sebelum tiba di dunia baru, dikarenakan menempuh perjalanan yang penuh siksaan di dalam kapal kargo ternak. Mereka dikebiri agar mereka tidak menghasilkan keturunan. Jika ada yang sudah berusia dan tidak dapat bekerja untuk melayani masyarakat pendukung Protestan –penyeru surga, cinta, perdamaian, kebebasan, persaudaraan dan persamaan–, mereka menembaknya dengan peluru yang dinamai dengan “peluru rahmat”. Banyak dari mereka berduka dan dibunuh sia-sia dengan peluru pembunuh ini!

Disebutkan di sini bahwa Amerika, dan khususnya Amerikalah yang menggagalkan konferensi (Durban) pada tahun 2000 saat orang-orang Afrika menuntut kompensasi atas apa yang terjadi pada mereka. Bahkan sekedar meminta maaf saja, Amerika menolak! Amerika menentang kehendak masyarakat internasional, saat mereka mengajukan perang dan pembunuhan terhadap kaum Muslim di Irak, dengan restu dari Arab Saudi dan para ulama serta negara-negara budaknya. Sebagaimana halnya saat mereka menentang kehendak 3500 organisasi kebangsaan untuk Hak Asasi Manusia dan 184 negara. Amerika dan anak kesayangannya, Israel, menarik diri dari Konferensi. Meskipun demikian, banyak orang lupa kejahatan Amerika dan justru mengangkat slogan: Amerika Sang Penghapus Perbudakan!

Pemilik akal merasakan kenikmatan dengan akalnya
Sedangkan orang bodoh merasa nikmat dengan kesengsaraan

Amerika sibuk mencampuri urusan dunia selama tiga abad, meninggalkan negara asli bangsa Saxon (Inggris). Setelah pecahnya Perang Dunia II, Amerika memutuskan untuk menampakkan keburukan, kejahatan, dan gangguan mereka kepada dunia. Hal ini dimulai dengan Tragedi berdarah yaitu dengan menjatuhkan bom atom di Jepang, meskipun Perang Dunia II hampir berakhir dalam waktu dekat dan saat Stalin tidak menghentikan pergerakan pasukannya ke jantung Jerman.

Amerika ingin menyampaikan pesan bahwa mereka memiliki berbagai senjata. Maka Jenderal George Marshall Komandan Militer AS pada saat itu memerintahkan untuk melaksanakan pemboman terhadap sebuah kota yang luas di Jepang yang padat penduduk, maka diterbangkanlah 334 pesawat Amerika untuk menjatuhkan bom untuk menghancurkan area seluas 16 mil persegi. Membunuh dalam hitungan jam, sekitar 100 ribu orang, dan sekitar satu juta orang mengungsi dalam operasi neraka di Tokyo dan 64 kota di Jepang lainnya.

Kemudian diakhiri dengan adegan berdarah, adegan terakhir paling berdarah di era kemanusiaan yang tidak ada sebelum datangnya era Amerika. Sungguh pada hari ini Amerika –sebagai otoritas yang paling di depan– menyerukan peringatan terhadap penggunaan senjata pemusnah massal. Padahal merekalah manusia pertama kali yang menggunakannya saat yang lain belum menggunakannya. Yaitu saat mereka menjatuhkan dua bom nuklir di atas kota Hiroshima dan Nagasaki, yang menyebabkan puluhan ribu jiwa tanpa perbedaan antara sipil dan militer, atau seorang pria, wanita dan anak.

Setelah Perang Dunia II berakhir, terjadi kemelut antara Amerika dan Korea Utara dikarenakan ketakutan Amerika atas penyebaran pengaruh Soviet di Asia Tenggara. Atas hal ini, Amerika masuk ke wilayah Korea. Orang Amerika melengserkan pemerintahan rakyat (demokrasi), memasukkan negara itu ke dalam perang brutal sehingga terjadi kebakaran dan kehancuran.

Pada saat yang sama, Amerika memberikan kepuasan psikologis di hati para pemimpin (orang-orang terpilih). Noam Chomsky, penulis Amerika ketika menggambarkan hasil perang itu mengatakan, “Kami telah mengobarkan perang berdarah, dan menewaskan 100 ribu orang …. Di provinsi yang kecil, 30.000-40.000 dari mereka tewas selama pemberontakan yang dilakukan para petani”.

Noam Chomsky menggambarkan bagaimana pemerintahnya menginjak-injak “nilai-nilai” demokrasi – ketika demokrasi dirasa menghalangi kepentingan mereka sendiri. Dia berkata, “Revolusi fasis di Kolombia tidak akan mendatangkan kekayaan kecuali sedikit, maka Amerika pun tidak punya alasan untuk ikut campur. Amerika juga tidak tertarik dalam kudeta militer di Venezuela, dan kembalinya kekuatan fasisme di Panama. Namun, kepahitan dan permusuhan yang memanas dalam pemerintah kita ketika Guatemala memiliki sebuah pemerintahan hasil demokrasi untuk pertama kalinya setelah dalam sejarah Guatemala.”[1].

Sementara itu, Amerika tidak peduli bahwa rezim diktator yang bertentangan dengan demokrasi selama mereka melayani tujuan Barat. Amerika telah membinasakan – seperti kata Chomsky – ketika banyak pemerintahan demokrasi tidak melayani kepentingan kriminalitas mereka. Dia mengatakan, “Pemerintah kita telah menghambat beberapa pemerintah parlemen, dan menjatuhkan beberapa dari mereka, seperti yang terjadi di Iran pada tahun 1953, Guatemala pada tahun 1945, dan Chile pada tahun 1972, dan proses ini berlangsung sangat tidak alami.

Pembunuhan yang biasa tidaklah terjadi. Kita biasanya menggerakkan pasukan khusus seperti di Nikaragua, atau pekerjaan agen teroris kita di El Salvador atau Guatemala. Akan tetapi dengan cara yang jelas, yaitu pembunuhan dan penyiksaan yang sadis: menggantung kaki para wanita, setelah memotong payudara, merenggut keperawanan, memenggal kepala dan menancapkannya di tombak, dan membenturkan anak-anak kecil di dinding sampai mereka mati.”

Jumlah korban tewas Vietnam saat perang berakhir pada tahun 1957 lebih dari satu juta jiwa, inilah angka yang populer. Majalah New York Times (8/10/1997) menerbitkan bahwa jumlah sebenarnya mencapai 3,6 juta orang. Namun ini tidak cukup untuk memuaskan haus darahnya mereka. Pemerintah Amerika pada awal Maret 2002 telah mengungkapkan bahwa mantan presiden Amerika Richard Nixon dalam sebuah percakapan telepon dengan Kissinger pada bulan April 1972 mengatakan, “Saya lebih memilih menggunakan bom atom.” Kissinger menjawab, “Saya pikir pilihan ini sangat berbahaya.” Nixon lalu berkata dengan marah, “Apakah ide ini mengganggumu? Aku ingin kamu menjadi lebih berani.”[2]

Adapun apa yang terjadi antara tahun 1952, 1973, tidak pantas untuk diekspos (menurut Amerika) karena jumlah korban yang meninggal bukan dari kalangan mereka, orang Amerika, Israel maupun Inggris. Sungguh Amerika telah membunuh dalam rentang waktu di atas sekitar sepuluh juta orang Cina, Korea, Vietnam, Rusia dan Kamboja.

Pada awal Perang Vietnam, perang yang sampai pada pertengahan 1963 tersebut menyebabkan pembunuhan 160 ribu orang, penyiksaan sekitar 700 ribu orang, pemerkosaan terhadap sekitar 31 ribu wanita, pembelahan perut orang yang masih hidup hampir 3000 orang, pembakaran 4000 lainnya sampai mati, menyerang 46 desa dengan zat beracun, menyebabkan penghancuran kota Hanoi pada tahun 1972 yang mencederai lebih 30 ribu anak-anak sehingga menjadi tuli permanen, dan hilangnya 300 ribu keluarga atau salah satu anggotanya.

Di Guatemala, tentara Amerika yang kuat dan pemberani membunuh 150 ribu lebih petani pada periode antara 1966-1986. Dan secara tidak langsung orang-orang Amerika membunuh ratusan ribu orang dalam pembantaian di Indonesia, Nikaragua, El Salvador dan Honduras. Pembantaian juga terulang kembali di Angola, Mozambik, Namibia dan negara-negara lain di benua Afrika.

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah mengenal sejumlah thaghut yang berasal dari bangsa mereka dan didukung, seperti Somoza di Nikaragua, Pinochet di Chile, Marcus di Filipina, Bhutto di Pakistan, Batesia di Kuba, Diem di Vietnam, Dovalih di Haiti, Soeharto di Indonesia, Franco di Spanyol, Keluarga Saud di Arab Saudi, Para penguasa minyak di Teluk, Hafez Assad di Suriah, Syah Mohammad Reza Pahlevi di Iran dan para pemimpin lain. Mereka ditolak dunia, tetapi malah dipelihara Amerika, di antaranya Mafia-mafia ( Presiden) Israel dari Ben-Gurion sampai Sharon, di mana tidak seorang pun dari mereka ( padahal Amerika punya semboyan kebebasan ) yang di cap sebagai teroris. Mereka tidak dipanggil untuk ditangkap dan dibawa ke pengadilan untuk diadili atas kejahatan kemanusiaan, atau bertanggung jawab atas catatan terorisnya. bahkan para calon presiden Amerika menyerukan dalam program pemilu mereka untuk menjaga keamanan Israel dan selalu menjaga Israel agar menjadi yang terdepan.

Giliran Irak, yang disebutkan dalam nubuat Taurat –yang sudah terdistorsi– bahwasanya Irak adalah sumber bahaya orang Yahudi. Maka Amerika atas dukungan materi dan tentara dari negara-negara sekutu menghancurkan Irak. Untuk menyenangkan Yahudi dan agar negara sekutu dan para cendekianya mendapatkan apa yang mereka harapkan, dan Allah berikan mereka apa yang pantas mereka terima.

Inggris menggambarkan realitas perang tersebut seperti yang dilaporkan oleh surat kabar Inggris The Times setelah pengumuman gencatan, dinyatakan: “Walau bagaimanapun ini adalah perang nuklir dan Marinir. Armada Amerika telah dipersenjatai dengan senjata nuklir taktis, kerusakan yang timbul akibat senjata yang digunakan seperti kehancuran yang ditimbulkan oleh bom atom. Amerika menggunakan bahan peledak yang disebut (BLU-82), senjata seberat £ 15.000 dan mampu membawa kerusakan ledakan nuklir dengan membakar segala sesuatu dalam radius ratusan yard. “

Amerika dan Inggris menggunakan bom uranium yang mana bom ini untuk pertama kalinya digunakan, tank-tank menembakkan 6000 uranium shell, sementara pesawat menembakkan puluhan ribu bom uranium tersebut. Sebagai laporan rahasia kepada Otoritas Energi Atom Inggris, sebagaimana dilaporkan jumlah yang digunakan di Irak adalah 40 ton uranium, dan bom untuk membakar antara 60 ribu sampai 80 ribu bom. Menyebabkan terbunuhnya tidak kurang dari 52 ribu orang, sebagaimana yang diumumkan pihak berwenang Amerika sendiri.

Adapun korban dari pihak Amerika jumlahnya tidak seberapa, karena mereka menyerang dari udara, setelah melumpuhkan Angkatan Udara Irak di darat. Hasil-hasil ini menyenangkan bagi Anglo-Saxon yang menikmati mengalirkan darah orang-orang Irak, berhasrat kepadanya, dan menyebarkan kabarnya (kabar gembira) kepada rakyat mereka yang merdeka dan budak-budak mereka di Saudi.

Surat kabar Inggris The Guardian pada Desember 1991 memuat sebuah laporan berjudul :( Tentara Irak Dikubur Hidup-hidup) yang dikutip dari Kolonel Amerika (Bantoni Marinom) komandan unit kedua tentara Amerika. Ia menceritakan penguburan hidup-hidup tentara Irak, “Sangat mungkin bahwa kita membunuh ribuan tentara Irak dengan cara ini. Saya telah melihat banyak tangan tentara menggeliat di bawah tanah dengan tangan memegang senjata!” Tampaknya, cara ini lebih menarik perhatian daripada jumlah yang dibunuh, sejauh pengamatan orang Amerika terhadap berbagai aksi pembantaian. Yang selalu dipertanyakan, bukanlah berapa jumlah yang terbunuh, melainkan bagaimanakah cara mereka dibunuh, dengan senjata apapun.

Colin Powell pernah ditanya, yang waktu itu menjadi Kepala Staf Angkatan Darat Amerika tentang jumlah korban tewas di Irak. Ia berkata, “Aku tidak tertarik sama sekali!” Ya! Powell tidak peduli ketika 200 ribu tewas akibat perang itu, dan ribuan dari mereka ( tentara Irak ) terbunuh saat mencoba melarikan diri. Tapi yang penting menurut mantan Kepala Staf perang Amerika yang kemudian menjadi kepala diplomasi itu adalah mengetahui bagaimana efektivitas dari berbagai jenis senjata pembunuh milik Amerika.

Pesawat Amerika Serikat membom Ertala saat pasukan Irak melarikan diri dari Kuwait, membunuh ribuan dari mereka, sampai-sampai jalan yang mereka tempuh untuk melarikan diri dinamai Jalan Kematian. Salah satu pilot yang terlibat dalam pasukan operasi pemboman tersebut menggambarkan kejadian itu dengan mengatakan, “Rasanya aku seperti menembak ikan yang berada di drum. Ke mana dia bisa lari? Bagaimana bisa lolos dari sekali gempuran yang dapat menyerang puluhan target?”

Perintah dari atasan tidak hanya sebatas menyerang tentara dan militer Irak. Sekitar 8 ribu warga sipil terbunuh, 400 dari mereka meninggal di tempat penampungan bawah tanah Amiriyah saat mereka bersembunyi dari pemboman yang brutal. Amerika menilai perang ini sebagai perang yang bersih, semata-mata karena —sesuai perkataan mereka— sesuai strategi dengan alat persenjataan militer sesuai keinginan. Orang Amerika menghindari gesekan militer langsung yang mungkin mengakibatkan korban militer mereka!

Mereka kecanduan untuk melakukan perang pembasmian, padahal ini perang yang kotor setelah perang tersebut terjadi. Hal ini dikarenakan rasa haus darah mereka yang diwakili oleh Aliansi Zionis Protestan tidak pernah terpuaskan dan mereka selalu menghindar untuk mengalirkan darah-darah “orang-orang terbaik (Zionis)”.

Perang ini diikuti oleh perang yang lainnya. Hal itu lebih aman bagi orang Amerika, dan lebih mematikan bagi rakyat Irak. Itu adalah perang pengepungan, yang menyebabkan terbunuhnya anak-anak, setidaknya jutaan anak. Kejadian ini sama sekali tidak membuat mereka peduli, baik itu orang Amerika ataupun organisasi kemanusiaan dan umat yang menghamba pada kekufuran. Bahkan, pada tahun 1996 Madeleine Albright mantan Menteri Luar Negeri Amerika yang juga seorang Yahudi ketika ditanya tentang korban pengepungan – waktu itu jumlahnya hanya setengah juta anak-anak – Apakah hal ini dibolehkan dalam peraturan dunia internasional? Dia menjawab, “Keputusan untuk blokade ini sulit, karena menimbulkan korban yang begitu banyak, namun inilah harga yang harus dibayar”.

Mereka juga menggunakan metode yang sama dalam perang di Bosnia dan Kosovo, yang diklaim Amerika bahwa mereka berjuang untuk pembebasan bangsa-bangsa Balkan dari tirani Serbia. Padahal sebenarnya mereka ingin menggantikan Serbia dalam mengontrol Balkan. Maka jika bukan karena keluhan rakyat di negara itu dari pengaruh perang Amerika tersebut membuat sedih hati. Amerika telah melemparkan pada penduduk Balkan lebih dari sepuluh ton uranium selama “pembebasan mereka”. Berita mengabarkan bahwa kasus penyakit kanker melonjak kepada tingkatan yang mengkhawatirkan, di mana penduduk Kosovo dan Bosnia –setelah pembebasan Amerika— merasa menjadi mangsa radiasi dan sulit terlepas dari hal itu.

Adapun di Somalia, kasusnya lebih mengejutkan; Amerika Serikat ketika ingin memantapkan sendiri pijakannya di Tanduk Afrika karena kepentingan strategis bagi Amerika dan Yahudi mereka berlasan dengan kekacauan yang menimpa Somalia, dengan lengsernya klien mereka Siad Barre (Diktator Somalia). Pasukan pun berkumpul untuk intervensi dengan cepat bersama para antek dan mulai mempraktekkan pembantaian ala Amerika yang sudah biasa. Maka mereka membunuh penduduk Somalia dengan alasan menenangkan situasi dan memberi makan yang lapar dalam proses “mengembalikan harapan” setidaknya seribu orang Somalia.

Inilah harga yang harus dibayar pada doktrin Albright, bahkan ada yang bersedia untuk membayar lebih untuk menumpahkan darah orang Somalia, karena hal itu terkait dengan kepentingan strategis Amerika-Israel di Tanduk Afrika, dan juga berhubungan dengan kepentingan masa depan ekonomi di wilayah yang kaya itu meskipun terlihat miskin. Yaitu dengan adanya barang tambang berupa berlian, sebagaimana ditunjukkan laporan pada waktu itu.

Kemudian datanglah peristiwa Afghanistan untuk membuktikan kekejaman Amerika yang tidak perlu diragukan. Ikatan berdarah Anglo-Saxon masih menguasai pergerakan AS secara positif atau negatif. Amerika membunuh dan membantai dengan semua bentuk keganasan dan kebrutalan. Itu mereka lakukan saat merasa aman dengan serangan udara, tanpa takut jatuhnya korban di kalangan mereka.

Pengeboman udara terus berlanjut menyelimuti kota-kota Afghanistan selama sebulan sejak perang bermula. Sehingga poros kejahatan yang ditimbulkan oleh koalisi Protestan Zionis menjatuhkan korban setidaknya dua puluh ribu warga sipil Afghanistan, yang sebagian besar, sebagai pembalasan atas 2700 korban Amerika yang meninggal pada serangan September. Amerika tahu betul bahwa tidak ada warga sipil Afghanistan terlibat di sana seorang pun. Serangan mengerikan terus berlanjut, hingga tidak tersisa lagi di Afghanistan sesuatu pun yang berdiri di atas dasarnya – sekiranya pemimpin Taliban mendapat ilham dari Allah untuk menarik diri dari kota. Hal ini membuat Amerika kehilangan kesempatan untuk menyempurnakan serangan yang tiada alasan kecuali mengalirkan darah baru.

Tapi hal itu sangat berbeda ketika Amerika terpaksa turun dalam serangan darat untuk menyelesaikan proses “keadilan”. Kepengecutan mereka membuat mereka mengganti strategi perang. Tentara Amerika tidak boleh kelihatan di barisan para tentara bayaran Afghan. Yaitu dari kalangan munafik Afghan yang rela menjual agama mereka dengan dunia atau selainnya. Walaupun semua usaha sudah ditempuh untuk menjaga darah orang Amerika yang najis, keburukan tetap menimpa mereka. Hal ini menyebabkan mereka menderita kerugian sumber daya manusia yang sangat besar, sesuai dengan kalkulasi mereka. Namun mereka hanya mengakui sebagian saja. Data lainnya menjadi dokumentasi rahasia kementrian luar negeri agar ketakutan masyarakat Amerika tidak terulang.

Kemudian datang perang Irak kedua, yang menggunakan poros kejahatan Zionis Protestan dengan memanfaatkan isu uranium dan menewaskan lebih dari 200 ribu Muslim Irak. Semua ini didukung dan direstui negara-negara budak dan partisipasi mereka atas semua kejahatan yang nyata ini. [3]

Kami akan menunjukkan catatan kecil dari beberapa kejahatan yang dilakukan AS:
1. AS adalah negara satu-satunya yang telah menggunakan bom atom dan senjata pemusnah massal yang kontra dengan HAM.
2. AS melakukan intervensi terhadap Yunani pada tahun 1949.
3. AS ikut campur tangan dalam konflik di Korea pada tahun 1950-1953 hingga terbagi menjadi dua bagian: Utara dan Selatan. Dan sampai saat ini Amerika masih ikut campur bahkan juga menebar ancaman hingga sekarang.
4. AS melakukan campur tangan di Iran pada tahun 1953 untuk menggulingkan pemerintahan Mushadeq demi Shah thaghut (Muhammad Reza Pahlevi).
5. AS melakukan intervensi di Guatemala pada tahun 1954 dan menebar kekacauan.
6. AS melakukan intervensi di Lebanon pada tahun 1958 dan 1982. Menghancurkan dengan mengebom kota-kota serta masih melakukan intervensi hingga sekarang.
7. AS melakukan intervensi di Kuba pada tahun 1951, 1952 dan 1961 dengan mengirimkan pasukan ke Teluk Babi serta masih berlangsung hingga sekarang.
8. AS melakukan intervensi di Kongo serta membunuh presiden Lumumba pada tahun 1960.
9. AS melakukan intervensi di Panama dan mendudukinya pada tahun 1964.
10. AS melakukan intervensi di Laos pada tahun 1964 dan 1973.
11. AS melancarkan agresi militer di Vietnam pada tahun 1960-1970 dengan menewaskan 300 juta jiwa dan tujuh juta jiwa mengungsi.
12. AS melakukan intervensi di Dominika pada tahun 1965.
13. AS melakukan intervensi di Kamboja pada tahun 1973.
14. AS melakukan intervensi di Chile pada tahun 1973.
15. AS ikut campur tangan di Iran pada tahun 1980.
16. AS melakukan intervensi di Nikaragua pada tahun 1979.
17. AS melakukan intervensi di El Salvador pada tahun 1981.
18. AS melakukan intervensi di Libya dan membombardirnya dengan serangan udara pada tahun 1986 dan embargo pada tahun 1998.
19. AS melakukan intervensi di Chad pada tahun 1983.
20. AS melakukan intervensi di Haiyana pada tahun 1983.
21. AS melakukan intervensi di Kepulauan Alishel pada tahun 1983.
22. AS melakukan intervensi di Grenada dan mendudukinya pada tahun 1983.
23. AS melakukan campur tangan dalam konflik di Teluk dengan menghancurkan Irak bekerja sama dengan sekutunya dalam satu wadah perkumpulan orang-orang kafir dan para teroris. Mereka juga melakukan embargo hingga menewaskan satu juta anak kecil.
24. AS membombardir Afghanistan pada tahun 1998
25. AS melakukan intervensi di Sudan dan membombardir dengan rudal serta menghancurkan sebuah pabrik farmasi Sudan.
26. AS menghancurkan pesawat Mesir di atas Samudra Atlantik yang membawa seorang ilmuwan nuklir dan 30 jenderal pada tahun 1999.
27. AS menyempurnakan penghancuran Irak dengan ikut dalam persekutuan poros kejahatan yang diwakili aliansi, negara sekutu baik Zionis maupun Protestan pada tahun 2003
28. AS memberikan donasi sebesar $300.000.000.000 untuk mendukung entitas Zionis dan penjarahan hak-hak muslim di Palestina.
29. AS menyalah gunakan hak vetonya terhadap masalah hak umat Islam di Palestina sebanyak 57 kali.
30. AS memberi bantuan Air Berat (Air yang digunakan untuk mendinginkan reaktor nuklir) kepada India agar India memiliki bom nuklir melawan Pakistan yang notabene mayoritas muslim.
31. AS mengancam berupa sanksi kepada siapa pun yang mencoba memberi pasokan senjata kepada negara Arab untuk melawan Israel.
32. AS mengancam siapa saja yang mencoba untuk membicarakan kejahatan Yahudi.
33. AS menduduki negara-negara Teluk.

34. AS dan pemerintahan kafir dan teroris internasional telah menempatkan Jabhah Nusrah (Semoga Allah memuliakannya) pada tempat ke-7 daftar teroris. Amerika memberikan izin untuk menyerang JN dan menggiring negara kecil yang merupakan antek mereka untuk ikut dalam perang yang jahat ini. Dengan ini AS menambah masalah penduduk Syam dan rezim Nusairiyah akan langgeng dan patuh kepada Yahudi.

35. Sekarang AS telah menjajah sekitar separuh dunia baik secara terbuka maupun rahasia. Di luar perbatasannya AS memiliki 445 pangkalan AL dan 1.983 pangkalan AU yang tersebar dari Australia ke timur hingga Amerika Latin, ke barat berada di Australia, Selandia Baru, Filipina, Jepang, Korsel, Palestina, Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait, Oman, Yordania, Irak, Mesir, Turki, Maroko, Yunani,Kenya, Somalia, Afrika Tengah, Afrika Barat, Jerman, Inggris, Spanyol, Italia, Belgia, Belanda, Siprus, Bosnia, Masedonia, Kanada, Bermuda, Panama, Guatemala, Grenada, El Salvador, Nortoko, Guantanamo di Kuba dan sebagian besar negara Eropa Timur pasca runtuhnya Uni Soviet. Dalam pangkalan tersebut terdapat lebih dari 650.000 pasukan, 7000 tank, 4.000 meriam, 3.800 pesawat, 1.900 hulu ledak nuklir, 7.000 gudang senjata dan amunisi, 2.500 repositori untuk senjata nuklir dan memiliki beberapa armada laut yang biasanya untuk melakukan pembajakan di laut, termasuk:

  • Armada Kelima di Teluk Persia
  • Armada Keenam di Laut Mediterania
  • Armada ketujuh di Samudra Pasifik
  • Terakhir armada kedelapan di Samudra Hindia

Amerika ikut campur tangan di negara-negara seluruh dunia dan menggunakan dan mengumpamakan PBB ibarat lap yang digunakan untuk menghapus atau menutupi kejahatan yang tidak dapat tertutupi sehingga semua kejahatan itu menjadi diacuhkan.

Padahal sebenarnya jika kita melihat AS dari dalam dia adalah sarang terorisme, gudang kejahatan, dan ladang diskriminasi rasial. Dua penulis AS yang bernama Victor Belwer dan Ilbron mengatakan dalam buku mereka yang berjudul Pokok-pokok Imperialisme AS, “Presiden Roselvelt dalam pidatonya di depan rakyat AS pada tanggal 18 Agustus 1937 mengatakan,’Saya berjanji kepada kalian dan pada diriku sendiri dalam mengambil keputusan menggunakan cara yang baru, kampanye ini lebih jauh maknanya dari kampanye politik biasa. Ini adalah panggilan untuk mengangkat senjata. Dan atas dasar ini saya meminta pertolongan kalian bukan hanya untuk memenangkan suara, tetapi dengan tujuan untuk memenangkan perang salib.”

Yang mengendalikan AS pada umumnya dikenal sebagai komunitas Protestan. Protestan adalah cabang dari Freemasonry yang telah menguasai AS sejak munculnya pemerintahan AS. Terhitung sejak awal pemerintahan hingga sekarang AS telah dipimpin sebanyak 44 presiden. Presiden pertama adalah George Washington pada tahun 1789 hingga sekarang Obama (2014). Hanya satu saja presiden beragama Katolik, yaitu John F. Kennedy pada urutan 35 pada tahun 1961. Namun, pada tahun 1963 kursi ini pun diambil alih oleh Protestan dengan cara operasi pembunuhan. Kemudian saudaranya, yaitu Robert mencalonkan diri, tetapi dibunuh juga. Ketika anaknya baru tumbuh beranjak dewasa pun dibunuh juga. Ini adalah bentuk terorisme domestik.

Pada tahun 1985 terbunuh 20.000 penduduk AS di negaranya sendiri sebagai akibat dari operasi terorisme. Pada tahun 1981 Presiden Reagan mengatakan bahwa 53% warga takut melewati jalan setelah malam tiba. Kriminalitas memakan korban 24.000 manusia setiap tahunnya dan kejahatan yang telah terorganisir hingga menyebabkan kerugian hingga $9.000.000.000.

Di AS, kelompok kejahatan terbesar semisal mafia Yahudi “B’nai Perth”, “Omega 7″, “Alpha 67″, “John Inggris” Yahudi yang merupakan anggota Meir Kahane, “tentara perdamaian” merupakan salah satu tentara yang meninggalkan kesatuan dan secara khusus menangani aksi teror yang terjadi di luar AS. AS memimpin perdagangan narkotika di dunia lewat tangan-tangan CIA dan ini bertujuan untuk membiayai operasi sabotase di dunia. Serta untuk mengamankan anggaran tindakan ini, maka tidak mengagetkan jika jaringan narkoba tumbuh di Peru, Jamaika, Bolovia dan semua negara yang merupakan sekutu AS dan AS tidak pernah keberatan atas semua ini.
AS tidak sepakat atas konvensi HAM yang sementara dikeluarkan sebanyak 21 kesepakatan tentang HAM, kecuali hanya 8 kesepakatan saja yang disetujui AS.

Di AS ada kelompok David Cyrus yang berdiri pada tahun 1942 yang berkeyakinan bahwa alam semesta berhak dihancurkan. Ada lagi kelompok Charles Maxson, sebuah kelompok kuil matahari, kelompok pintu surga dan kelompok Ohm Hitercao.
Sekte yang paling berbahaya adalah sekte Evangelis Protestan yang berkeyakinan bahwa mereka harus mempersiapkan dunia untuk memasuki episode terakhir dan mempersiapkan pertempuran Armageddon, Holocaust Nuklir atau perang dunia ketiga. Mereka bersikeras tentang perlunya menghadapi pertempuran ini yang sekaligus sebagai tanda akan kedatangan Kristus dan milenium yang membahagiakan.

Keyakinan itu tersebar di Partai Republik dan pimpinan yang paling terkemuka adalah Ronald Reagan mantan presiden AS, James Mill kepala senat di era Reagan, Bush, Dick Cheney wakil presiden Bush dan Ramsiveld menteri pertahanan Bush. Beberapa buku telah ditulis berkenaan dengan masalah ini. Di antaranya adalah buku Drama Akhir dunia yang ditulis Otral to Oberch, Buku Bola Dunia, Itulah Perjalanan yang Besar, yang ditulis oleh Hull Linsiy dan buku Rahasia Akhir Dunia oleh Yerzhan Birr, Dimitri, Dr Miriam mereka adalah orang-orang Israel.
Perang Dunia Ketiga menurut kelompok ini tidak dapat dielakkan dan harus siap menghadapinya. Bahkan harus diusahakan menuju ke perang dunia ketiga. Mereka menyebut usaha-usaha untuk hidup saling berdampingan dengan damai adalah upaya untuk menolak ketetapan Tuhan.

Seorang Pendeta, Jimmy Swaggart berkata dalam khotbahnya (22 September 1985), “Saya berharap bisa mengatakan bahwa kita akan mendapatkan ketenangan, tetapi saya yakin Armageddon akan datang. Armageddon akan datang dan akan terjadi di lembah Megiddo. Armagedon pasti datang. Mereka dapat menandatangani perjanjian perdamaian yang mereka inginkan tetapi hal itu tidak akan membuahkan apapun. Hari-hari yang gelap akan datang, saya tidak berencana memasuki neraka di masa depan. Akan tetapi Tuhan (Yesus), akan turun dari singgasana-Nya dan saya senang akan hal itu.

Saya berharap itu akan datang lagi, Armageddon menghidupkan kembali semangatku.”
Gerakan ini menamakan diri sebagai Koalisi Kristen Zionis. Aliansi ini sebagian besar anggotanya berasal dari partai Republik dan mereka menuntut Partai Republik mewujudkan program mereka dalam mengupayakan akhir dunia. Pemimpin Aliansi ini adalah Pat Robertson yang merupakan sekutu paling penting dari Presiden George Bush Senior dan Bush Junior. Aliansi ini telah mengumpulkan dana sebesar 21.000.000 untuk berkontribusi pada program kampanye pemilu Presiden Bush. Sebagai imbalannya mereka meminta Bush untuk melaksanakan rencana ini dan ternyata Bush adalah salah satu anggota koalisi yang tertarik dengan pelaksanaan skema ini.

Jika ingin mendalami lebih lanjut tentang hal ini, silahan lihat buku yang telah ditulis tentangnya. Buku yang paling penting adalah “Nubuat dan Politik” dan “Tangan Tuhan” karya penulis AS Grace Halsell, buku “Dimensi Agama dalam Politik AS” karya Dr. Yusuf Hasan, “Eksploitasi Agama dalam Konflik Politik” dan “Agama dalam Keputusan AS” keduanya karya Muhammad Sammak. Buku “Armageddon” karya Mahmoud Alnajiri, buku “The Antichrist” karya Hassan Ashour, Buku “Injiliy dan masih banyak lagi. Hal ini membuat terorisme dan kebodohan berdasarkan Taurat yang telah terdistorsi yang merupakan program politik bagi bangsa paling kuat di dunia.

Belum hilang dari ingatan kami, bagaimana AS, penguasa bangsa kafir dan majelis teroris yang keras memasukkan kami dalam urutan ke tujuh daftar teroris, maka sesungguhnya suatu hal itu tidak jauh dari sumbernya. Dan segala sesuatu yang ada bersamanya pasti akan matang. Sungguh kami tidak lupa akan firman Allah ta’ala Surat Ali Imran 169-172:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bersuka cita dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”

Diterjemahkan dari tulisan Abu Firas As-Suri Juru Bicara Jabhah Nusrah

=======

[1] Guatemala, terletak di selatan Amerika Serikat setelah Meksiko, mayoritas penduduknya Katolik.
[2] Surat kabar Middle East, edisu 3 Pebruari 2002.
[3] Diadaptasi dari Majalah Al-Bayan, 175 [kiblat/www.tribunislam.com]