Pages

Pages

Jumat, 26 September 2014

R.I.P. OTO PARIANUS KUDIA, RAKYAT TETAP SEMANGAT UNTUK LAWAN !

Foto: Almarhum Oto Parianus Kudia

Foto: Almarhum Oto Parianus Kudia
"Oku, Selamat Mengibarkan Bintang Fajar Bersama Pejuang Papua Lainnya dan Rakyat Yang Tak Bersalah Dibunuh Oleh Kekejaman Indonesia."

Rabu (24/09/2014), Pukul 05:00 Waktu Papua (WP), Oto Parianus Kudiai menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sriwini Nabire, Papua.

Oto Parianus Kudiai adalah sosok Aktivis Papua Merdeka. Bersama kawan-kawan aktivis di Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Oto Parianus Kudia yang akrab dipanggil Oku menghabiskan waktunya dalam AMP.

Oku (Makabe Wiyai Mutopai Umagi) adalah teman diskusi juga bersama kawan-kawan Umaginews West PapuaEmai MogoAbokiChe De Goo, Sonny D, Roy KarobaAngin Selatan, dan kawan-kawan lainnya. Tidak banyak, kami habiskan waktu untuk mendiskusikan Kebijakan Pemerintah Kolonial Indonesia yang seenaknya membuat keputusan dan dilindungi oleh Undang-Undang (UU). Tidak hanya itu, untuk menjalankannya mesti ada korban sebagai tumbal.

Otonomi Khusus (OTSUS) adalah bukti bahwa ada persoalan Sejarah, persoalan Internasional dan Otsus tidak turun dari langit.

UU No. 21 Tahun 2001 adalah UU yang melegalkan keberadaan Otsus. Keputusan pengambilan kebijakan pun tidak berdasarkan status perjalanan Sejarah Papua. Bahkan dalam pelaksanaannya Tokoh Papua Merdeka, Dortheis Hiyo Eluay menjadi korban, tumbal. Pelakunya Megawati, yang saat ini mengcover Joko widodo-JK (red: Presiden Penjajah) melalui Kopasus, Militer Indonesia.

Oku juga banyak cerita tentang PT. Freeport. Ia sendiri adalah buruh kasar di area PT. Freeport lebih khusu pada Teknisi Otomotif, mesin alat berat. Almarhum juga saat itu menjadi tugas belajar di Kota Kolonial, Yogyakarta-Indonesia.

Cerita seksinya adalah PT. Freeport berada di Tanah Papua, Timika. Pada Tahun 1967 adalah tahun kontrak karya PT. Freeport antara Amerika dan Indonesia. Pada Tahun 2008 tercatat penghasilan hanya emas saja 800 Miliar Dolar perhari. Belum termasuk, Tembaga, Batuan-batuan ber-$, Hutan Papua, Flora dan Fauna, Unggas, dan lainnya. Oku hanya terima kurang dari 10 juta Rupiah perbulan, sementara Ia harus habiskan hidupnya hidupkan mesin Monster agar terus menguras dan memperluas ke wilayah lainnya.

Oku sadar bahwa ia adalah korban dari Lusiver, sadar bahwa ia sedang ada dalam perbudakan lusiver.

Di cerita akhirnya, Oku cerita juga bahwa daerah kandungan Alam lainnya juga sama. Kita akan habiskan waktu berpendidikan, sekolah berbasis kurikulum lusiver dan bermuara pada korban lusiver.

Sekitar Tahun 2010/2011, Oku menemui seoarang Pendeta, saat ini Pendeta itu memimpin di sebuah Gereja. Yaitu: Gereja Filipi sebutan akrab.

Oku tergerak memberikan derma atau perrupiah pada Pendeta tersebut. Tujuannya adalah agar memperlanjar kerja-kerja Pak Pendeta kedepan.
Ibadah duka di Asrama Paniai atas berpulangnya Pejuang Papua Merdeka,Oto Parianus Kudiai di sisi Tuhan Yesus Kristus pada hari Kamis (25/09/2014), adalah kesaksian dari Bapak Pendeta itu.

Pendeta punya cerita tersendiri bersama Almarhum Oku.

Dalam kesaksian Bapak Pendeta di sebuah Filipi Family, "Saya rasa bahwa saya dilahirkan kembali untuk menjalankan misi Tuhan. Saya tergerak untuk menyatakan yang sebenarnya bahwa saya harus melawan rasa takut, saya harus membenahi diri saya," kata Oku kepada Pak. Pendeta itu.

Oku menghabiskan banyak waktu bersama kawan-kawan aktivis Papua Merdeka.

AMP dan KNPB adalah Rumahnya. Saat teduh dan Gereja adalah tempat ia mengucap syukur atas campur tangan yang tak terlihat pada setiap ciptaan-NYA lebih khusu Oku. Lawan Lusiver adalah nafas para aktivis Papua Merdeka.

Bapak Pendeta menceritakan tentang kesaksian Ayah dan Ibu dari Pendeta saat dihidupkan kembali setelah meninggal dunia selamat tiga hari.

"Sesungguhnya kehidupan setelah kematian itu benar-benar ada, Surga dan Neraka itu sungguh-sungguh ada," Inti kesaksian itu diceritakan oleh Bapak Pendeta saat Ibadah syukuran, Duka almarhum Oku.

Oku selalu menghadirkan suasana kegembiraan, bagaimana ia harus menghilangkan duka Nasional Papua Barat, duka yang selalu rakyat Papua alami.
Jiwa sebagai pejuang yang semangat, selalau hadirkan jiwa militansi untuk tidak takut pada Lusiver dan masih banyak lagi.

Oku memberikan Diesel Generator, Pengeras Suara, dan Kenangan akan pentingnya perjuangan ini.

AMP, melalui Amp Komite Kota Yogyakarta mengucapkan turut berduka dan menuliskan jiwanya sebagai aktivis Papua Merdeka di akun Facebook tidak lupa ucapan terima kasih atas Diesel Generator, Pengeras Suara, dan Kenangan akan pentingnya perjuangan ini.

Rakyat Papua Barat tetap satukan barisan perlawan, kita capai harga diri kita sebagai manusia Papua yang menghuni di Pulau Papua.

Terima Kasih, rakyat Papua Barat tetap LAWAN!
Jumat, 09 September 2014, Sudut Kota Kolonial.
Sonny Dogopia, Aktivis di Aliansi Mahasiswa Papua.