Pages

Pages

Minggu, 17 Agustus 2014

SEBAGIAN MAHASISWA UNIVERSITAS SOUTH PACIFIC DUKUNG KEMERDEKAAN WEST PAPUA

Tarian. Mahasiswa asal Fiji dalam Pameran ( Jubi/Mawel)
    Suva, 17/8 (Jubi) – Gerakan mendukung penentuan nasib sendiri bagi rakyat West Papua mulai merambat ke Kampus Universitas South Pacific (USP). Kampus terbesar di Pacific Selatan yang menampung 11 ribu mahasiswa dari sejumlah negara Pacific, seprti Vanuatu, Papua New Guinea (PNG), Salomon Islands, Polynesia, dan Kribaty ini misalnya, sebagian dari mereka mendukung Papua merdeka atau kemerdekaan West Papua.
    Mahasiswa yang tergabung dalam Asosiasi Mahasiswa Universitas Pasifis Selatan mengekspresikan dukungan mereka dengan cara mereka. Misalnya dengan melukis, menari dan bersyair. Hasil karya ini dipamerkan dan dipertunjukkan kepada masyarakat luas.
    Dukungan itu terlihat dalam pameran yang mereka selenggarakan dengan tema: “Inap Yu Harem Mi/Hear My Voice (Dengarlah Suaraku)”, yang sedang berlangsung di Geduang Pusat Kesenian Osenia, Kampus USP, Laucala Fiji, yang digelar sejak pukul 06.30 hingga 9.00 malam pada Jumat (15/8) 2014 lalu. Sekadar diketahui, pameran ini yang kedua setelah pameran pertama mereka pada tiga bulan lalu.
    “Tema ini satu seruan mendengarkan suara hak penentuan nasib sendiri, yakni mengingatkan dan mengatakan, dukungan kita. Kemerdekaan West Papua adalah angenda tinggi yang sedang berlangsung,” kata Jay Jirauni, salah satu anggota panita pameran, sebelum pembukaan pameran.
    Dalam kegiatan pameran ini, puluhan mahasiswa berdatangan bersama para pengunjung. Pengujung terus diantar dari satu dinding ke diding lain menyaksikan sejumlah karya seni yang dipamerkan. Misalnya ada Noken, Pinang, Batik motif Papua, lukisan Bendera Bintang Fajar, dan militer sedang menembak juga dipamerkan.
    One sea, one people, one osean, kita bersatu,” tutur Whitlam Utula, Presiden Mahasiswa USP dalam sambutan pembukaan pameran. Pria asli Salomonds Island ini mengajak teman-temanya mengekpresikan kebebasan, merayakan kehidupan bersama.
    Sambutan itu membuka seluruh rentetan pameran. Mulai dari tarian hingga puisi-puisi yang mengenai mengenai masalah di Pacific dan West Papua dibacakan. Puisi yang dibawakan menarik pendengar untuk tertawa, tapi juga menarik pendagar untuk merasakan kesedihan yang sedang berlangsung.
    “Saya datang dari Kribaty. Saya tidak pernah melihat, tetapi saya merasakan yang sedang terjadi pada saudara-saudari di West Papua,” tutur wanita sebaya itu membacakan puisinya.
    “Pembungkaman dan pembunuhan yang terjadi di Papua. Saya membaca dan mendengarnya. Saya marah dan saya bawa hati saya, tangan saya, mesti Papua harus bebas,” tutur Peter Tepele membacakan puisinya penuh perasaan dan simpati.
    Simpati mahasiswa USP terhadap dukungan Papua merdeka pasang surut bersama diplomasi pemerintah Indonesia. “Sebelumnya, mahasiswa asal Fiji dan Salomon Isaland juga banyak, tapi setelah krisis keuangan dan pemerintah Indonesia memberikan bantuan, mereka mundur dan berkurang. Mahasiswa PNG dan 400 mahasiswa Vanuatu yang kuliah di sini sangat mendukung,” tutur Smith Wuwut Koro, mahasiswa asal Vanuatu.
    Menurut Smith, rakyat Vanuatu sudah komit mendukung perjuangan rakyat Papua. Karena itu, rakyat melalui para kepala suku akan mengajukan mosi tidak percaya kepada pemerintah yang salah langkah dalam berdiplomasi dengan pemerintah Indonesia.
    “PM kami sebelumnya sangat kurang bangus. Dia bicara West Papua tetapi tidak sebepenuhnya, sehingga rakyat tak percaya. PM kami yang sekarang ini orang asli Vanuatu yang pernah tahu sejarah perjuangan Papua. Jadi sangat tidak main-main mendukung West Papua,” tutur Smith, pria yang juga anggota militer Vanuatu yang sedang menyelesaikan tugas belajar ini. (Jubi/Mawel)