Pages

Pages

Kamis, 31 Juli 2014

Longginus Pekey: Papua Butuh Pendidikan yang Mencerdaskan

Longginus Pekey, pendidik, pegiat sejarah,
ketua Lembaga Pendidikan Papua (LPP). Foto: Dok. MS
Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Dalam situasi terbelenggu dan tertindas dalam berbagai aspek hidup, orang Papua saat ini membutuhkan pendidikan yang mencerdaskan. Mencerdaskan, menurut Pekey, adalah ketika peserta didik dirangsang untuk dapat memahami, menyikapi dan menyiasati kehidupan.

Setidaknya itu yang menjadi inti artikelnya berjudul Penididikan Mencerdaskan yang dimuat di Majalah Selangkah cetak edisi 13, Oktober-Desember 2008.

Pekey menilai, penidididikan di Papua saat ini masih sentralistik, dan menampakkan diri sebagai alat propaganda dogma penguasa, agama, dan negara sehingga tidak mencerdaskan orang Papua. Hal ini yang membuat orang Papua miskin, pemalas, karena pendidikan gaya sentralistik ini menanamkan ketergantungan.

Meminjam kata-kata Antonio Grasci, sekolah seperti ini identik sebagai lahan subur untuk menanamkan ideologi milik yang berkuasa secara berlebhan. Artinya, anak-anak dirampas kemerdekaan berpikirnya.

Atau menggunakan kata-kata Erich Fromm, anak didik di Papua dibuat menjadi pribadi automaton: individu yang bergerak serupa mesin, serba otomatis sesuai rancangan, tanpa jiwa dan jati diri. Bahkan Chomsky mengejek sistem pendidikan ini dengan mengatakan sistem ini menjadi mesin pencetak anak didik sebagai intelektual pengabdi ideologi penguasa. 

Sayangnya, kata Ketua Lembaga Pendidikan Papua (LPP) ini, sistem pendidikan model sentralistik dan automaton ini yang sedang diterapkan di tanah Papua.

Pegiat sejarah dan pendidik di Papua ini memberi contoh. Candi misalnya, atau rel kereta, atau kapal laut, juga sejarah kerajaan-kerajaan pada masa lalu di tanah Jawa, yang masih kental dijumpai dalam buku-buku pelajaran sekolah dasar di Papua. Padahal, semua itu tidak dapat ia bayangkan karena tidak bersinggungan dengan kehidupannya.

Hal di atas akan membuat siswa tidak terdidik untuk memahami kehidupannya: mengenal siapa dia, dimana dia tinggal, bagaimana sejarah hidupnya dan bangsanya, dan apa saja persoalan-persoalan hidup yang sedang terjadi di sekitarnya, yang dialami kaumnya. 

Anak Papua dibuat lupa dengan kondisi nyata di Papua, dan dipaksa berimajinasi jauh, menelaah kehidupan Jawa dan sejarahnya di seberang lautan. Pendidikan gaya ini tidak mencerdaskan anak Papua, khususnya di poin pertama, memahami kehidupanya.

Menurut Pekey, karena kesalahan itu, banyak intelektual Papua saat ini tidak menyikapi dan mesiasati kehidupannya dan kehidupan bangsanya dengan baik, takut-takut, karena berasal dari pendidikan yang automaton dan sentralistik, yang menjadikan dirinya intelektual pengabdi ideologi penguasa yang lupa siapa dirinya.

Sekolah yang ketat seperti itu mempraktekkan muatan kurikulum pusat yang sampai sekarang melakukan penyemaian benih ketergantungan dengan berpegang teguh pada peradigma industri pemerintah dan kapitalismenya. Dalam sistem seperti ini, anak Papua menjadi ruang polos untuk diisi dengan dogma ideologi negara dan kapitalis untuk kelestarian kekuasaan mereka di tanah Papua.

Menurutnya, pendidikan yang mencerdaskan yang bertitik pada tiga hal: memahami, mensikapi untuk mensiasati kehidupan sejalan dengan pendidikan kembebasan bagi kaum tertindas yang dicetuskan Paulo Fraire.

Kebebasan dari belenggu segala aspek hidup terwujud berkat kehendak dan derap langkah bersama dari rakyat. 

Di sanalah letak pendidikan yang mencerdaskan: pendidikan yang akan membantu anak Papua memahami  diri dan kehidupannya (siapa dirinya, bangsanya, kehidupannya saat ini, dinamika masa lalunya) dan memahami taktik menyiasati dan meyikapinya bersama-sama semua masalah kolektif tersebut sebagai satu bangsa.

Menurut Pekey, pergerakan rakyat Papua menuju kehidupan yang lebih baik dari semua pergolakan hidup dan belenggu berbagai aspek hidup harus digerakkan dan berjalan atas kehendak bersama karena kesadaran penuh rakyat sebagai satu bangsa. 

Dan itu dimulai dari sini: pendidikan yang mencerdaskan bagi segenap orang Papua. (Topilus B. Tebai/MS)