Pages

Pages

Sabtu, 28 Juni 2014

Peristiwa Arfai 1965 Dalam Cerita Tapol Papua, Yulius Inaury (Bagian II)

Yulius Inauri Saat Diwawancarai tabloidjubi.com (Jubi/Aprila)
Nabire, 27/6 (Jubi) – Yulius Inaury (70), salah satu Tahanan Politik (Tapol) Papua yang juga merupakan pelaku langsung penyerangan Markas Arfai, Manokwari bersama tokoh legendaris Pembebasan Papua Barat, Permenas Awom atau lebih dikenal dengan nama Ferry Awom, bertutur kisah sebenarnya yang terjadi pada 28 Juli 1965 . Pria renta yang masih terlihat kukuh itu tinggal di Pulau Mambor sejak kembali dari pembuangan di Jawa, sebagai Tapol Papua pasca Peristiwa Arfai. 
 
“Ada satu anak buah Awom yang juga bekas anggota PVK ,terus mengawal Awom sampai di dalam Asrama Cenderawasih untuk mencari senjata. tetapi apa yang dicari tidak ditemukan karena ternyata semua senjata telah disita pimpinan mereka,” di hadapan tabloidjubi.com, Yulius terlihat berusaha menggali ingatannya, menggambarkan peristiwa yang sudah berlalu puluhan tahun.
 
Di pos penjagaan, lanjut Yulius cuma ada komandan dengan sepucuk pistol. Awom sendiri yang menembak komandan di pos penjagaan untuk bisa masuk ke dalam Asrama Cenderawasih. Aiwor, sang prajurit pada masa Amerika menyerang dari sisi depan, Yulius bersama empat kepala suku menyerang dari bagian belakang, ada juga yang lain, menyergap dari samping.
 
“Tetapi karena senjata terbatas, sekitar jam sembilan pagi kami bubar dengan korban di pihak tentara Indonesia cukup banyak . Kami sudah masuk ke Asrama Cenderawasih dari jam sepuluh malam. Masing-masing anggota pasukan kami bertanggung jawab untuk satu barak,” tutur mantan guru di Yayasan Pendidikan Kristen Manokwari ini.
 
Kode dari Permenas Awom terlambat, anak buah sudah terlanjur lapar dan masuk ke dapur, krung kran, dandang-dandang berbunyi mengagetkan penghuni Asrama. 
 
“Ada gerombolan, penjagaan controlling” ada penjaga yang berteriak:. Kemudian ada satu tentara yang terbangun dengan senjata digantung ke belakang pas berjalan ke arah salah satu anggota pasukan Awon yang berasal dari Ansus.
 
“Pace Ansus langsung b’la (potong -red) dia, parang masuk sampe di telinga. Tentara itu sempat berteriak minta tolong dan Pace Ansus tendang tentara itu ke bawah untuk cabut parang yang tertancap di kepala tetapi ternyata tidak bisa karena tertancap kuat,” kata Yulius.
 
Sementara itu, kontak senjata berlangsung tengah malam dan masih berlanjut hingga menjelang pagi. Anggota pasukan Permenas masih berada di dalam Asrama Kodim sehingga tim yang berjaga-jaga di luar terus menyerang sambil menunggu  lain juga masih di dalam, belum keluar semua. Penyerangan dari bagian belakang dan samping adalah untuk melindungi Anggota Pasukan Permenas yang masih berada di dalam Asrama Kodim Arfai.
 
“Kita tidak pakai senjata modern, moser hanya satu yang kami punya. Kami yang lain pakai senjata-senjata jaman dulu yang laras panjang. Tembakan hanya bisa satu-satu saja. Aiwor yang sebelumnya menjaga bagian samping tapi untuk menyelamatkan Awom, dia kemudian bergerak ke depan,”tutur Yulius yang seperti mulai menemukan kembali ceritanya yang lama hilang.
 
Yulius ingat, dia tetap berada di bagian belakang dengan empat orang kepala suku, yang rela bergabung dengan pasukan Awom. Timnya menggunakan tembakan salto karena tidak ada tempat berlindung. Hanya ada kawat duri. Yulius dan kawan-kawan akhirnya mundur karena kehabisan peluru. tetapi Awom belum juga keluar dari Asrama Cenderawasih.
 
“Awom akhirnya keluar dalam keadaan sudah ditembak dengan senjata mesin di bagian kaki saat dia menuju kawat duri. Saya melihat sendiri, kawat duri itu sudah terbuka dengan sendirinya tanpa ada yang membuka,” ungkap Yulius .
Selanjutnya, tutur Yulius, Awom langsung koprol (salto-red) ke dalam tempat timnya berjaga, sayangnya Awom terlambat salto. Kakinya masih di udara saat peluru dari pihak lawan mengenai kakinya, beruntung a tidak terkena tulang. 
 
Seorang Pengawal sekaligus kawannya yang bermarga Prawar, melihat celana yang dikenakan Awom sudah terlalu kembung, Awom juga terlihat berjalan tertatih, ketika itulah dia baru tahu kalau darah sudah memenuhi celana yang dipakainya, celana tentara yang diikat bagian ujung celana dekat sepatu.
 
“Akhirnya kita bawa di ke satu tempat yang aman dan terlindung. Komando keluar kepada beberapa Orang Arfak untuk pergi ke Warmarenda, menjemput satu mantri, saya lupa nama tapi fam (marga) Saway, Orang Inanwatan, Teminabuan untuk tolong Awom.
 
Singkat cerita , Mantri itupun datang, mengobati luka-luka akibat tembakan pada tubuh Sang Legendaris Gerakan Bersenjata di Tanah Papua ini. (BERSAMBUNG) (Jubi/Aprila)