Pages

Pages

Jumat, 20 Juni 2014

Mahasiswa Mapia Tolak Isu Mapia Raya Mekar

Ilustrasi penolakan pemekaran oleh mahasiswa Papua. Foto: Ist.
Nabire, MAJALAH SELANGKAH -- Mahasiswa Papua dari Dogiyai, Mapia, dengan keras menolak hadirnya kabupaten baru di Dogiyai yang sedang diupayakan beberapa elit lokal asal Mapia untuk memekarkan kabupaten baru, Mapia Raya.

Mengenai isu sedang diupayakan hadirnya kabupaten Mapia Raya, menurut para mahasiswa yang duduk untuk diskusi pada Rabu (18/6) di Wonorejo, Nabire, menyikapi isu ini, sudah lama terdengar.

Bahkan disinyalir beberapa elit politik asal Mapia sudah membentuk tim pemekaran secara diam-diam.

Philipus Petege mengaku isu itu sudah ditelusuri dan masih buram. Akan tetapi, terlepas dari benar tidaknya isu itu, ia menilai pemekaran di Papua sudah harus dihentikan. "Benahi dulu yang ada," tegasnya.

Mekarkan sebuah daerah otonom baru, ada syaratnya, seperti kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, kependudukan, luas daerah, kemampuan keuangan serta sumber daya manusia.

Yermias Kotouki, salah satu mahasiswa Uswim Nabire asal Mapia mengatakan, terlepas dari benar tidaknya isu pemekaran Mapia Raya, Dogiyai yang adalah kabupaten induk yang menjadi tolak ukur saja masih kacau dan sebenarnya ketika awal dimekarkan, masih belum memenuhi kriteria sebagai daerah otonom baru.

"Kabupaten Dogiyai yang kabupaten induk saja masih kacau, bagaimana Mapia Raya mau dimekarkan? Dogiyai saja karena sebenarnya tidak memenuhi kriteria hadirnya otonom baru, sekarang kacau, apalagi Mapia," tegas Kotouki. (Yohanes Kuayo/MS)