Pages

Pages

Kamis, 24 Oktober 2013

ORANG PAPUA HARUS MERAGUKAN EKSISTENSI PARA PEMIMPIN, INTELEKTUAL DAN KAUM PENGUASA

Ilustrasi
Saatnya Orang Papua hidup dengan pengandaian-pengandaian yang tidak dipercaya begitu saja. Misalnya bahwa orang yang beragama itu dianikan pasti baik. Atau orang yang kaya secara ekonomi itu diandaikan pasti pintar. Namun seringkali pengandaian itu belum tentu benar. Sebelum mempercayai suatu pengandaian, ada baiknya kita menguji dulu pengandaian tersebut. Di tahun 2012 ini, kita perlu menggunakan paradigma “belum tentu”, sebelum salah sangka, atau malah tertipu.

Terhadap Kekayaan 

Orang kaya belum tentu pintar. Banyak juga orang kaya, karena mendapat warisan. Bisa juga ia menang lotere, menang judi, menipu, atau korupsi, lalu menjadi kaya. Tidak ada hubungan yang pasti antara kekayaan dan kecerdasan.

Di Papua, orang kaya seringkali dianggap orang cerdas. Pendapat-pendapat mereka didengarkan, bukan karena pendapat itu benar, melainkan karena yang berbicara adalah orang kaya. Bahkan orang kaya dengan mudah dicalonkan menjadi anggota DPR/DPRD bukan karena ia layak, melainkan semata karena ia kaya. Padahal seperti saya bilang sebelumnya, banyak orang kaya mendapatkan kekayaannya dari warisan, atau dari sumber-sumber lain yang tak menuntut kecerdasan.

Maka kita perlu menerapkan paradigma “belum tentu” di dalam melihat orang kaya. Kita perlu berhenti mendewakan orang kaya, karena mereka belum tentu benar, dan pendapat mereka belum tentu berisi. Orang kaya adalah manusia, dan manusia bisa salah, maka orang kaya pun bisa salah. Kita tidak boleh tertipu.

Orang kaya belum tentu berhati baik. Di balik sumbangan yang diberikan, ia seringkali punya motif-motif tersembunyi yang tak selalu luhur. Ia seringkali punya agenda politik ataupun bisnis yang menipu. Tidak ada hubungan pasti antara kekayaan dan kebaikan hati.

Di Indonesia umumnya dan khususnya di Papua orang kaya, terutama ketika menyumbang, langsung dianggap orang baik. Berbagai cap positif ditempelkan ke mereka secara naif, apalagi jika yang memuji terciprat harta dari si kaya. Uang yang berlimpah menutupi sikap kritis. Orang lalu buta terhadap si kaya, ketika ia dilumuri oleh harta berlimpah. “Maju tak gentar membela yang bayar”, begitu kata orang.

Kita perlu menerapkan paradigma “belum tentu” di dalam menghubungkan antara kekayaan dan kebaikan. Orang kaya belum tentu baik, walaupun ia tampaknya baik dengan menyumbang banyak orang. Kita tidak boleh tertipu, walaupun diiming-imingi harta berlimpah.

Terhadap Beragama dan Bergelar
Orang beragama juga belum tentu baik. Bisa juga kedok agama digunakan untuk menutupi kejahatan yang telah ia lakukan. Ia ingin tampil suci untuk menutupi aksi jahat yang telah dilakukan atau sedang direncanakan. Tidak ada hubungan pasti antara orang yang beragama dengan orang yang baik.

Di Papua orang beragama dianggap pasti bermoral baik. Makanya orang takut untuk tidak beragama. Institusi-institusi tertentu sering menggunakan nama agama tertentu, walaupun isinya jauh dari hal-hal baik. Agama disamakan begitu saja dengan kebaikan, tanpa pernah secara kritis dipertimbangkan.

Kita juga harus menerapkan paradigma “belum tentu” di dalam menghubungkan antara status beragama dengan sifat baik. Jelas sekali bahwa orang beragama, serajin apapun dia beribadah, belum tentu adalah orang baik. Kita tidak boleh tertipu dengan slogan-slogan religius, jubah-jubah yang tampak suci, gelar-gelar religius, dan keahlian mengutip kitab-kitab, melainkan berani belajar untuk melihat apa yang ada di baliknya.

Orang bergelar akademik panjang, seperti professor doktor, belum tentu orang cerdas. Seringkali mereka adalah orang-orang yang bekerja sebagai dosen puluhan tahun, tetapi tidak menghasilkan karya-karya bermutu yang mencerahkan masyarakat di bidang keahliannya. Dengan kata lain gelar akademik seringkali adalah gelar formalitas yang tak selalu mencerminkan kecerdasan orang-orang yang memakainya.

Di Indonesia gelar adalah segalanya. Semakin banyak gelarnya maka ia akan semakin dianggap jenius oleh lingkungannya. Omongannya tetap didengarkan dengan penuh kagum, walaupun mungkin tak ada isinya. Gelar dipampang di forum-forum publik, seolah tak percaya diri dengan nama yang telah diberikan orang tuanya.

Orang bergelar panjang “belum tentu” cerdas dan bermoral baik. Paradigma “belum tentu” pun perlu kita terapkan di dalam memandang orang-orang bergelar panjang. Kita tidak boleh tertipu oleh kedok gelar yang dikenakan seseorang, dan perlu untuk sungguh belajar melihat apa yang sungguh ada di baliknya.

Terhadap Etiket
Orang sopan juga belum tentu baik. Seringkali ia menutupi maksud jahat dengan tata krama yang tampak baik. Kata-kata lembut dikeluarkan untuk memberi kedok bagi maksud jahat yang tetap tersembunyi di balik kata-kata. Sikap sopan hanyalah topeng dari sesuatu yang tak jelas dibaliknya.

Di Indonesia orang tergila-gila dengan tata krama. Sikap sopan langsung diangap sebagai tanda kebaikan. Kata-kata lembut dianggap amat penting, tak peduli maksud tersembunyi apa yang ada di baliknya. Penampilan dan tata krama adalah ukuran bagi kebaikan seseorang.

Paradigma “belum tentu” perlu diterapkan untuk melihat kesopanan. Yang jelas orang sopan belum tentu baik. Jangan sampai kita tertipu, karena hanya terpaku melihat etiket serta tata krama, namun buta pada karakter asli yang seringkali tersembunyi di baliknya.

Terhadap Litani “Belum Tentu”

Ada banyak lagi litani “belum tentu” dalam hidup kita. Orang miskin belum tentu bodoh. Orang miskin belum tentu tak bahagia. Bisa saja ia miskin, karena ditipu orang, atau karena hidup mempermainkannya tanpa tujuan. Bisa saja ia miskin, karena ia bahagia dengan kesederhanaan hidup, dan tak mau menjadi budak materi. Ada banyak kemungkinan.

Orang tua belum tentu bijaksana, karena bisa saja ia jarang menimba pelajaran dari pengalaman hidupnya. Orang muda belum tentu tidak tahu apa-apa, karena bisa saja ia amat reflektif di dalam menggali pelajaran dari pengalaman hidupnya. Ada banyak kemungkinan.

Orang yang berperilaku tidak lazim belum tentu sakit, atau gila. Bisa saja karena ia adalah orang yang amat kreatif, yang mampu melihat dunia dari sudut yang unik, yang tak dimiliki oleh orang-orang lainnya. Begitu pula sebaliknya; orang waras belum tentu sehat. Bisa saja ia menutupi kegilaannya dengan perilaku normal. Mayoritas pembunuh dan pemerkosa berantai adalah orang-orang yang sehari-harinya tampak normal.

Institusi ternama belum tentu bermutu. Sekolah terkenal belum tentu kualitas pendidikannya bagus. Universitas besar belum tentu mampu mendidik secara tepat. Perusahaan besar belum tentu memberikan kepuasan dan kebahagiaan pada pegawai maupun konsumennya. Ada banyak kemungkinan lain yang harus kita pertimbangkan lebih jauh.
Orang berjenggot, bersorban, dan tampak ganas belum tentu teroris. Begitu pula orang berpenampilan rapih belum tentu orang baik. 

Orang berijazah belum tentu mampu mampu bekerja dan punya karakter bagus. Dan sebaliknya juga benar, orang yang tak punya ijazah belum tentu tak mampu bekerja dan berkarakter jelek. Hasil ujian belum tentu mencerminkan kualitas diri peserta didik. Hasil psikotes belum tentu mencerminkan karakter, kepribadian, ataupun potensi diri si peserta tes. Ada banyak kemungkinan lain.

Terhadap Keterbukaan

Di tahun 2012 ini, kita perlu lebih berpikir terbuka. Kita perlu untuk lebih menggunakan paradigma “belum tentu” di dalam hidup sehari-hari kita. Semakin banyak orang tidak bisa lagi digolongkan di dalam satu kategori pengandaian (beragama maka baik, atau sopan maka bermoral). Dunia kita semakin banyak diisi oleh hal-hal yang “belum tentu”.

Jangan sampai kita tertipu, atau salah membuat tindakan, karena kita masih berpegang pada pengandaian-pengandaian naif yang tak terbuktikan. Ada banyak kemungkinan lain di balik pengandaian-pengandaian tersebut, yang justru merupakan peluang untuk bertindak kreatif dan menghasilkan hal-hal bermutu. Tahun 2012 adalah tahun baru, namun “belum tentu” kita semua bisa berpikir secara baru. Semoga yang terakhir ini tidak benar. “Belum tentu”…..

 Oleh: Yustinus G. Ukago 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya


Sumber: http://yimuna.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar