Pages

Pages

Senin, 28 Oktober 2013

MAHASISWA PAPUA MENGAKU TANDATANGANI KUITANSI KOSONG

Ilustrasi Mahasiswa Papua (pelitaonline.com)
Denpasar, 27/10 (Jubi)Mahasiswa Papua yang mengikuti Kursus Bahasa Inggris dalam Program Kerjasama Dinas P dan P Provinsi Papua dengan Indonesian Australian Language Foundation mengeluh transportasi yang disediakan Pemerintah karena tidak sesuai dengan kesepakatan awal dan juga menandatangani empat kuitansi kosong.

“Kami lagi bingung urus bagasi di Bandara Ngurah Rai, Bali karena Dinas P dan P hanya memberikan tiket pulang tetapi tidak pusing dengan urusan di bandara ini,” keluh Ester Haluk, salah satu mahasiswi Papua yang mengikuti program ini kepada tabloidjubi.com via seluler, Minggu (27/10).

Ester menyayangkan sikap pemerintah yang seperti ini karena menurutnya biaya pendidikan diisap sebanyak mungkin dan hanya mensisakan setetes bagi pihak yang sebenarnya berhak mendapatkan dana tersebut. Dalam kesepakatan awal, pihaknya seharusnya mendapat tiket pulang pergi Papua dengan Penerbangan Garuda Airlines tetapi dipindahkan ke Penerbangan Lion Air.

“Enam bulan di sini, kami punya banyak barang termasuk buku-buku. Over bagasi kami harus tanggung sendiri. Ini program resmi Pemerintah Provinsi Papua dengan menggunakan Dana Otonomi Khusus pendidikan tetapi ada hal-hal tertentu yang mereka pres dengan menggunakan kuitansi kosong sebanyak empat lembar yang kami tandatangani sebelum berangkat ke Bali,” ungkap Ester lagi.

Senada dengan Ester Haluk, Ricky Waromi yang juga mengikuti program ini juga mengeluhkan proses kepulangan rombongan ini kembali ke Papua. Ricky juga membenarkan penandatanganan empat lembar kuitansi kosong sebelum keberangkatan ke Bali.

“Soal empat kuitansi itu memang benar. Kami menandatanganinya tanggal 4 Mei 2013 lalu di Jayapura karena pada 5 Mei kami berangkat ke Bali dengan menggunakan pesawat Garuda,” tutur Ricky kepada tabloidjubi.com via seluler, Minggu (27/10). (Jubi/Aprila Wayar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar