Pages

Pages

Jumat, 27 September 2013

Rakyat Papua Minta PBB Bertindak Atas Hilangnya Aristoteles Masoka

Aristoteles Masoka, supir pribadi tokoh Papua, Alm.
Theys Hiyo Elluay yang diculik Kopassus Indonesia (Foto: Ist)
PAPUAN, Jenewa — Sebuah delegasi pembela HAM Papua, Selasa (25/9) lalu telah bertemu dengan pihak UN Working Group on Enforced or Involuntary Disappearances (UNWGEID) di Geneva, Swiss, guna mengangkat kasus Aristoteles Masoka, yang hilang pada tanggal 10 November 2001.

Hilangnya Aristotles Masoka telah dilaporkan ke Working Group di tahun 2004, dan badan PBB ini telah meminta penjelasan/klarifikasi dari pemerintah Indonesia pada tahun 2005, namun tidak ada tanggapan sama sekali dari pihak pemerintah Indonesia. 

Sebagai supir pribadi Theys Hiyo Eluay, Aristoteles pada malam nahas itu sedang mengemudikan kendaraan  mengantarkan pulang Theys setelah menghadiri suatu acara yang diadakan di markas Kopassus di Jayapura, Papua.

Dalam perjalanan pulang ini keduanya disergap. Theys ditemukan keesokan harinya sudah dalam keadaan meninggal dunia. Sedangkan  Aristoteles Masoka, yang terakhir kali terlihat diseret masuk ke dalam Markas Kopassus di Jayapura, tak pernah terlihat lagi.

Bila investigasi pembunuhan Theys Eluay berakhir dengan dihukumnya tujuh orang anggota Kopassus di pengadilan militer, hilangnya Aristoteles Masoka – yang mestinya bisa menjadi saksi kunci dalam pengadilan pembunuhan Theys tersebut – belum pernah diselidiki.

Kala itu sebagai seorang pemuda belia Aristoteles baru memulai kuliahnya di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura. Dalam usia 21 tahun, kuliahnya baru memasuki semester kedua saat ia hilang, meninggalkan tiga adik laki-laki dan perempuan.

Sepuluh tahun telah berlalu namun keluarga dan teman-teman  Aristoteles Masoka masih terus bertanya “Dimana Aristoteles? Dan kenapa kasusnya tak pernah diselidiki?”

Ferry Marisan dari Elsham Papua, yang saat itu melakukan investigasi awal atas kasus tersebut  di tahun 2001, mengatakan bahwa minimnya penyelidikan atau upaya untuk mendakwa Kopassus atas hilangnya Aristoteles, merupakan hal yang sulit dipahami.

“Pihak polisi amat sadar tentang hilangnya Aristoteles, dan ada cukup  saksi, “ kata Marisan. “Sejumlah orang menyaksikan dia diseret ke dalam markas Kopassus. Kenapa susah sekali kasus ini dibawa ke pengadilan?”

Kasus ini telah dilaporkan ke KOMNAS HAM tahun 2003, namun upaya-upaya selanjutnya untuk mendapatkan keadilan yang dilakukan oleh keluarga Aristoteles maupun sejumlah LSM yang memperjuangkan kasus ini, seperti Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), segera menemui jalan buntu.

“Keluarga Aristoteles berhak mengetahui kebenaran nasib dan keberadaan Aristoteles. Masa penantian lebih dari 11 tahun tanpa kepastian merupakan siksaan batin. Pemerintah mestinya tahu bahwa kematian ibu Aristoteles, Dorsila Ayomi tahun 2011, ada kaitannya dengan ketidakpastian ini serta sikap masa bodoh dan penyangkalan pemerintah ,” kata Mugiyanto dari IKOHI.
“Aristoteles Masoka tidak pernah terlupakan,” kata Paul Barber dari TAPOL, sebuah LSM dari London yang peduli HAM di Indonesia.

“Indonesia semestinya memenuhi  kewaijiban Negara untuk koordinasi dengan UN Working Group ini dan menjelaskan tindak lanjutan apa yang akan dilakukan untuk menyelesaikan pelanggaran HAM ini.”

Anggota-anggota Kopassus yang disidang atas pembunuhan  Theys Eluay (dan didakwa atas hilangnya Aristoteles Masoka) adalah: Letkol Inf Hartomo; Kapten Inf Rionardo; Sertu Asrial; Praka Achmad Zulfahmi; Mayor Inf Donni Hutabarat; Lettu Inf Agus Soeprianto; Sertu Lorensius LI.

OKTOVIANUS POGAU

Sumber :  www.suarapapua.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar