Pages

Pages

Jumat, 27 September 2013

Penembakan Pelajar di Deiyai, Aktivis HAM Minta Kapolri Copot Pelaku dan Evaluasi Polisi di Papua

Mayat Alpius Mote. Foto: Ist
Deiyai,  -- Razia judi, minuman keras, dan senjata tajam yang digelar aparat gabungan Polri dan TNI dipimpin Kapolsek Tigi Ipda Indra Makmur, Senin 23 September 2013 berakhir bentrok. 
 
Alpius Mote, seorang pelajar kelas XII di SMA Negeri Wagethe, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua tewas tertembak pada bentrok itu. Alpius Mote adalah anak dari Pendeta Daud Mote. 

Atas peristiwa ini, Juru bicara Polda Papua AKBP Sulistyo Pudjo Hartono mengatakan, penembakan terjadi karena warga tidak menerima razia dan melempari aparat dengan batu. 

Menurut AKBP Sulistyo Pudjo Hartono penembakan itu, sudah sesuai dengan prosedur karena massa warga kian anarki.

Awalnya, kata Juru bicara Polda Papua,
  aparat tidak membalas, tapi warga semakin anarki. Karena warga semakin anarki dengan menyerang satu anggota TNI dari Koramil Wagete, aparat mengeluarkan tembakan peringatan ke atas. 

Tapi massa terus bertindak anarki dengan melempar dan memanah. Akhirnya,  aparat melepaskan tembakan ke arah massa. 

Tembakan itu mengenai  Alpius Mote  di bagian rusuk kanan dan tembus ke belakang punggung. Alpius Mote  tewas dalam perjalanan dari Wagete menuju RSUD Paniai.

Sweeping Berlebihan
Pekerja Hak Asasi Manusia, Yones Douw kepada majalahselangkah.com , Rabu, (26/09/13) berdasarkan informasi yang dihimpunnya dari saksi di lapangan mengatakan,  razia yang dilakukan aparat Polisi dan TNI berlebihan.
"Pemeriksaan berlebihan hingga memeriksa dalam koteka. Aparat kalau sweeping dan telanjangi  itu bukan sweeping. Koteka itu pakaian adat dan alat penutup kemaluan laki-laki pegunungan yang ada sejak dahulu. Siapa pun dia, harus dihormati. Itulah yang memicu sebenarnya," katanya. 

Yones menuding, kalau sampai mulai periksa koteka itu berarti ada kepentingan tertentu. 

"TNI/Polri menggap orang Papua itu bukan lagi manusia. Karena, penembakan atas pelajar ini yang kedua kalinya di tempat yang sama. Tahun 2004, aparat juga menembak mati Moses Douw. Ini sudah dua orang," katanya. 

Warga Tidak Memanah
Pekerja Hak Asasi Manusia ini  juga membantah pernyataan  Juru bicara Polda Papua AKBP Sulistyo Pudjo Hartono yang mengatakan masyarakat membawa panah dan memanah. "Masyarakat tidak membawa panah dan tidak memanah TNI atau Polisi," katanya. 

Hal senada dengan Yones, dikatakan Yohanes Mote, aktivis di Deiyai.  

"Saat kejadian saya ada di sana. Masyarakat tidak bawa panah. Kami kecewa semua karena mereka periksa juga koteka. Dalam koteka ada apa, ada alat kelamin saja to. Kami tanya, kalau mau sweeping togel dan miras kenapa tidak hentikan. Miras dan togel polisi yang biarkan supaya lewat itu kami orang Papua dibunuh dan ditembak seperti ini," kata Yohanes. 

Copot Oknum Polisi
Sehingga Yones kembali menegaskan, polisi Papua harus dievaluasi total. "Kami minta Kapolri Papua harus evaluasi total polisi Papua dan copot segera oknum polisi yang menembak mati pelajar.  Alpius Mote  itu masih sekolah," katanya. 

"Kami aktivis Hak Asasi Manusia melihat, kekerasan di Papua bukan malah berkurang. Kekerasan di Papua terus meningkat di masa Kapolda Papua, Irjen (Pol) Tito Karnavian. Ini harus dievaluasi total oleh Kapolri," pintanya.

Usut Tuntas
Sementara, Direktur Baptis Voice Matius Murib meminta aparat kepolisian mengusut tuntas dan mengevaluasi personelnya. 

Kata Matius, polisi harus memahami kondisi riil masyarakat di Deiyai. Pasalnya, warga memiliki pemahaman dan respons yang berbeda dengan warga di tempat lain.

Menurutnya, yang dihadapi polisi adalah warga sipil. "Ini bukan kelompok bersenjata yang ada di hutan sana. Sehingga, kata dia, penyelesaian kasus juga diharapkan objektif dan apa adanya, tidak boleh sepihak."


Polda dan DPR Kirim TIM ke Deiyai
Kepolisian Daerah (Polda) Papua dipimpin Irwasda Polda Papua Kombes Gede Sugianyar melakukan menyelidiki kasus ini di Deiyai. 

Diberitakan, Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan, pihaknya belum mengetahui secara pasti apa penyebabnya. 

Tetapi, kata Kapolda, berdasarkan informasi yang diterimanya insiden itu terjadi saat aparat keamanan yang dipimpin Kapolsek Tigi mengimbau agar masyarakat tidak membawa senjata tajam saat ke pasar, serta tidak minum minuman keras dan berjudi. 

Tidak hanya tim dari Polda yang turun ke Deiyai. Tim  DPRP juga  membentuk tim investigasi untuk usut kasus ini. 

Kepada majalahselangkah.com,  malam ini,  Ketua Komisi A DPR Papua Ruben Magai mengatakan, pihaknya akan membentuk tim investigasi kasus itu. 

"Tim  investigasi ini  akan melibatkan semua komponen seperti mahasiswa, LSM maupun Pers agar hasilnya independen," katanya. (MS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar