Pages

Pages

Kamis, 11 April 2013

Ekonomi Koloni dalam Dekapan Sang Kolonial

Illustrasi PT.FI.Ekonomi Koloni dalam Dekapan Sang Kolonial
Oleh :  Topilus B

Penjajahan selalu dilandasi tujuan penjajahan. Alasan ekonomi sering menjadi alasan utama, bila dilihat dari kamus penjajahan dunia sepanjang sejarah dunia. 
 
Dalam tulisan ini, dengan keterbatasan penulis, yang ingin diperkenalkan adalah mengenai gambaran umum perekonomian zaman kolonial, menyangkut perekonomian dan struktur perekonomian, disertai trik-trik ekonomi untuk memperkuat kedudukan kolonial di tanah koloni.

Untuk memahami yang saya maksud, baiklah dimengerti dahulu apa itu kolonial. Kolonial, sebuah kata yang berasal dari kata dasar; koloni, yang artinya, tanah jajahan. Kolonial adalah sebutan bagi bangsa yang menjajah. Sementara kolonialisme secara sederhana dapat dimengerti sebagai sebuah paham untuk menguasai semua aspek hidup daerah koloni oleh sang kolonial.

Ekonomi Kolonial
Ekonomi kolonial, yang dimaksud adalah perekonomian di daerah koloni yang dijalankan oleh pemerintah kolonial di daerah koloni. Seperti lazimnya sistem kolonialisme, dalam menjalankan ekonomi di daerah koloni, bukan kemakmuran rakyat koloni yang diutamakan. Yang diutamakan tentu adalah kesejahteraan bangsa kolonial.

Ada beberapa ciri utama yang menjadi cerminan, yang memberi kita gambaran dari ekonomi kolonial pada daerah koloni pada umumnya. Berikut dijabarkan satu persatu.
Pertama: Perekonomian di daerah koloni hanya diposisikan sebagai pemasok bahan mentah bagi negara kolonial dan negara-negara sekutunya yang ikut menancapkan cakar-cakarnya di tanah koloni.

Bahan mentah dieksploitasi di tanah koloni. Diangkut semuanya keluar dari tanah koloni, di pabrik-pabrik pengolahan barang mentah milik sang kolonial. Yang ada di daerah koloni adalah lebih kepada peredaran uang upah kerja pengeksploitasian, dan pengangkutan bahan mentah ke pabrik kolonial di luar tanah koloni. 

Tanah koloni, tidak lebih, tidak kurang, hanya dibuat sebagai tempat menghasilkan barang mentah, untuk pabrik-pabrik milik kolonial, untuk majunya perekonomian mereka.

Kedua: Pasar dan sistematika perputaran perekonomian pada daerah koloni dijadikan sebagai pasar barang-barang jadi yang dibuat oleh negara kolonial, dan negara-negara lain yang ikut menancapkan cakar ekonominya di tanah koloni.

Barang mentah yang diambil dan dibawa ke pabrik-pabrik milik sang kolonial kembali ke tanah koloni dalam bentuk barang jadi dan setengah jadi. Intinya, semua yang telah memunyai nilai guna, hasil pengolahan barang mentah itu, didatangkan untuk dipasarkan kembali kepada rakyat koloni.

Ketiga: Perekonomian di daerah koloni dijadikan tempat pemutaran kelebihan uang bagi negara kolonial, juga sekutunya, untuk mengeksploitasi sumber daya alam daerah koloni, mengeksploitasi sumber daya manusia untuk menggerakkan segala sektor perekonomian ala kolonial, untuk semakin mempertebal pipa hisapan sang kolonial.

Ketika modal berlipatganda hasil eksploitasi yang pertama, yang dipikirkan sang kolonial adalah bagaimana menambah pipa-pipa hisapan baru, untuk menghisap habis sumber daya alam yang ada, untuk dibawa ke pabrik-pabrik miliknya di luar tanah jajahan, untuk kemudian dipasarkan.

Keempat: Pembunuhan kreativitas dan kemandirian usaha dan hidup ekonomi. Atau lebih tepatnya, pemotongan nafas hidup ekonomi rakyat koloni dengan berbagai program kolonial. Di sini, banyak program ala kolonial yang manis di bibir dan teori, tetapi sepahit empedu bagi rakyat koloni dimunculkan.

Kemandirian hidup dalam skala kecil mungkin dapat ditolelir. Tetapi bila dianggap akan membahayakan keberadaan pasar milik kolonial di tanah koloni, akan ada banyak cara untuk mematahkan usaha lokal yang ingin mandiri itu.

Perlu diketahui, bahwa dasar bagi penjajahan adalah adanya ketergantungan masyarakat koloni kepada pemerintah kolonial. Ketergantungan ini bila disingkronkan dalam konteks kemandirian, artinya kolonial tidak ingin adanya kehidupan mandiri. Ia ingin semua bergantung padanya, sehingga rakyat terjajah selalu merasa membutuhkan sang kolonial.
Karena hanya ketika rakyat mandirilah, ia akan merasa tidak membutuhkan sang kolonial, dan mata hati untuk melihat keburukan sang kolonial ada. Ini bisa jadi menjadi cikal bakal perjuangan menentang kolonial.

Kolonial akan lebih bersifat kapitalis. Pemilik modal adalah sang kolonial atau badan atau organ bentukan bersama untuk menjalankan semua entitas usaha di daerah koloni, juga dengan tujuan sama: pengerukan kekayaan tanah koloni untuk laba.

Struktur Sosial Ekonomi Kolonialis
Dalam catatan sejarah dunia kolonialisme, sang kolonial dengan perekonomiannya pada akhirnya melahirkan strata sosial ekonomi dalam hidup rakyat koloni di tanah koloni. Berikut ini dijelaskan secara rinci, tiga struktur (strata) sosial ekonomi dalam perekonomian ala kolonial, yang biasa ada di daerah koloni, yaitu: kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah.

Kelas Atas. Mereka yang berada pada strata teratas ini semua adalah bangsa kolonial. Mereka adalah golongan orang yang jumlahnya sedikti dibanding golongan menengah dan golongan bawah, tetapi memunyai kekuasaan untuk mengatur segala sesuatu masing-masing menurut fungsinya. Intinya, tidak ada rakyat koloni dalam strata teratas ini, walau di atas tanah mereka sendiri.

Kelas Menengah. Kelas menengah, terdiri dari dua bagian besar. Pertama, kaum kolonial yang jabatan, pangkat, penghasilan, dan kemapanan ekonominya lebih rendah dari mereka yang berada pada strata teratas. Kedua, kaum elite lokal, dari antara rakyat koloni. Biasanya adalah orang-orang terkemuka dari antara rakyat pemilik SDA, rakyat pemilik tanah koloni. Mereka menempati posisi ini.

Perlu diingat, kemungkinan besar, kaum elite lokal ini adalah mereka yang berdiam diri atas kebutuhan dan kepentingan rakyat koloni, juga mereka kemungkinan adalah pelayan (hamba) pemerintahan sang kolonial. Bila tidak (ia golongan elite lokal, tetapi berjuang mengusir sang kolonial misalnya) dalam strata sosial ekonomi milik kolonial, tempatnya bukan di strata ini.

Kelas Bawah. Kelas bawah ini adalah kaum buangan dari bangsa kolonial, dan seluruh rakyat koloni. Mereka menempati kelas terbawah. Biasanya, mereka hidup dalam ketergantungan yang diciptakan kolonialis. Sehingga mereka seperti terantai.

Bila mereka menentang kolonial, mereka tidak mampu, dikarenakan mereka makan dari kolonial. Bila mereka terus bersama kolonial, nasib mereka tidak akan semakin baik. Mereka pasar potensial bagi pemasaran broduk kolonial.

Kelas bawah dasar, lebih mendekati kematian. Kelas bawah menengah dan atas, ibaratnya: mati segan, hidup tak mau. Ini dibuat terjadi di atas tanah air mereka sendiri.

Penciptaan Ketergantungan
Pada tulisan saya pada media ini sebelumnya, berjudul; Rakyat Pemilik SDA dalam Dekapan Kapitalis (me), telah saya singgung mengenai penciptaan ketergantungan ini. Ketergantungan, pada dasarnya diciptakan dengan tujuan agar rakyat koloni merasa tidak dapat hidup tanpa kolonial, dan terus membutuhkan kolonial untuk hidup.

Cara menciptakannya terlihat baik. Misal: memberian makanan dan upah (gaji) bagi pegawai yang bekerja pada pemerintahan kolonial. Dengannya, lama kelamaan, ia menjadi tergantung pada makanan pemberian kolonial, mengesampingkan makanan lain yang mungkin dapat dihasilkan sendiri. Juga karena ia hidup dari upah kolonial.

Intinya, ketergantugan diciptakan dengan memberikan dengan gampang, segala sesuatu yang vital, yang langsung bersentuhan dengan hidup rakyat, sehingga lama kelamaan, pemberian bantuan ini menggeser cara bertahan hidup mencukupi kebutuhan vital yang sama dengan cara lama. Akibatnya, beberapa generasi kemudian, setelah cara-cara lama itu semakin dilupakan, dan sang kolonial telah berhasil menciptakan ketergantungan.

Aturan-aturan juga menjadi suatu alat untuk menciptakan ketergantungan. Ketergantungan ini menjadi kunci bila suatu saat rakyat koloni memberontak. Ini penciptaan penjara hidup bagi rakyat koloni. Kemandirian hidup ditentang, dan yang ada hanya ketergantungan kepada pemerintah kolonial.

Politik Etis
Politik ini muncul ketika Belanda menjajah Indonesia. Politik Etis sama dengan politik balas budi. Inilah inti politik balas budi:

Kolonialisme dan penjajahan oleh sang kolonial terhadap bangsa koloni telah menimbulkan kemelaratan hidup, kemiskinan, penyakit, dan macam-macam hal. Di sisi lain, rakyat koloni (rakyat terjajah) telah memberikan segalanya: tenaganya untuk pabrik dan perusahaan pengeksploitasian, sumber daya alamnya untuk dieksploitasi, membesarkan pundi-pundi provit kolonial.

Ini tidak adil. Rakyat yang memberi, malah melarat karena sistem kolonialisme, penjajahan. Oleh karenanya, lahir politik etis, politik untuk membalas budi rakyat koloni, rakyat terjajah.
Lihat baik! Penyebab utama kemelaratan hidup rakyat terjajah adalah karena adanya sistem penajajahan oleh kolonial, dan untuk mengatasinya, sistem kolonialisme harus dihapus. Tetapi tidak dalam sejarah kolonialisme. Kolonialisme tetap berjalan, dan politik etis adalah semacam pencitraan nama baik kolonial.

Beberapa saluran politik etis: pemberian dana, peminjaman dana dalam jumlah besar untuk usaha. Pemberian daerah otonomi. Pelimpahan kekuasaan. Pemberian uang dalam skala besar. Irigasi dan pengairan. Transmigrasi, macam-macam, dan semua baik.

Faktanya, dalam kamus kolonialisme di dunia ini, politik balas budi dalam rupa saluran di atas pada akhirnya menjadi sarana memperkokoh ketergantungan, sarana memecah belah, sarana mengadu domba, sarana memperkokoh kedudukan mereka di daerah koloni.

Sementara di luar sana, politik etis ini memberi citra positif kepada negara kolonial dari pandangan masyarkat luar negeri, menyangkut kesengsaraan, dan kemelaratan hidup bangsa koloni.

Perlawanan Rakyat Koloni
Tirani penindasan dan penjajahan akan berakhir. Perlakuan kurang baik dan tidak manusiawi dari kolonial membuat benih kebencian tumbuh subur dalam sanubari rakyat terjajah. Ketergantungan menjadi hama yang memperlambat tumbuhnya benih perjuangan menentang kolonial.

Pendidikan selau jadi pintu utama. Di sana, dan melaluinya, kesadaran akan nasib bangsa terjajah ada. Kesadaran inilah yang dicari. Uskup Desmond Tutu pernah berujar: Ketika rakyat sadar bahwa dirinya dijajah, dan dengan sadar, menyatukan diri dan melawan, tak akan ada satu kekuatan pun yang bakal berhasil menghentikan mereka.

Kesadaran menyangkut kesadaran senasib dan sepenanggungan antar sesama sebangsa koloni. Kesadaran akan siapa yang mengakibatkan derita mereka. Kesadaran akan bagaimana cara mereka bertindak. Dan yang terpenting, kesadaran akan adanya pelangi indah di balik guntur, kilat, dan hujan deras.

Ketika kesadaran muncul, lahir tokoh perjuangan. Darah dan tetasan keringat mereka, menyuburkan api revolusi. Kata-kata, dedikasi, dan ketokohan sang pemimpin perjuangan adalah semangat berlipatganda yang diberikan, atau lebih tepatnya, menjadi media pembangkit revolusi rakyat. Meraka (rakyat terjajah) ibarat sekam yang siap dibakar. Ketika pemimpin mampu membakar api revolusi, dan menajadikan darah juang mendidih, itulah, saatnya telah tiba.

Yang terpenting, kebangkitan kesdaran dibarengi dengan aksi nyata. Perekonomian misalnya. Lihat contoh Serikat Dagang Islam (SDI) dalam sejarah pergerakan Indonesia, yang berusaha melindungi pebisnis lokal dari dominasi perekonomian penjajah.

Penutup
Kolonialisme adalah paham untuk menguasai dan menjajah. Ini dimunculkan oleh bangsa kolonial. Bangsa terjajah selalu menderita, karena pada hakekatnya, tak ada penjajahan yang tidak membuat kesengsaraan di pihak terjajah.

Inti alasan dari penjajahan umumnya ekonomi. Karena daerah koloni kaya SDA, atau kaya SDM. Motif ekonomi menggerakkan niat ekspansionis penjajah. Awalnya imperialisme. Setelahnya Kolonialis akan bersifat kapitalis. Pemilik modal adalah mereka, bangsa kolonial. Ada penciptaan ketergantungan.

Satu yang pasti: Tirani penjajahan selalu berlalu dengan kemerdekaan bangsa terjajah! Urutan perjuangan selalu sama: Kesadaran, persatuan, dan perlawanan dalam satu komando, kemerdekaan!

Penggambaran perekonomian zaman kolonial ini semoga saja menjadi media refleksi dan edukasi bagi kita semua, semoga menjadi media pembanding yang cukup, untuk menggali dan menambah pengetahuan kita bersama. Pintu tetap terbuka bagi masukan dan kritik yang membangun.

Topilus B. Tebai mahasiswa Papua, kuliah di Yogyakarta