Pages

Pages

Sabtu, 30 Maret 2013

Upaya-upaya Kolonialisme, Impirialisme, dan Militerisme di Tanah Papua Barat

HUT West Papua''Bendera Negara West Papua
“Tiga Poin dibawah ini upaya Kolonialsime Indonesia untuk membunuh rasa Nasionalisme Papua Barat.  ini pengamatan saya selama ini, jika kawan-kawan ingin tambakan mohon konfirmasi saya melalui emial: westpapua_wiyaimana@hushmail.com. Agar sayapun dapat bahan acuan yang lebih detail dan/atau akurat dari  pengamatan kawan-kawan seperjuangan selama ini di Tanah Barat”

Oleh: Wiyai Papua

Pemberlakuan RUU Ormas dan Kamnas di Tanah Papua Barat

      Ratusan Organ pergerakan di Indoensia menolak tegas pemberlakuan RUU Ormas dan Kamnas, dengan melakukan Aksi-aksi damai oleh rakyat Indonesia didepan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) berkali-kali. Namun, hingga belum ada tanggapan dari pihak wakil Rakyat itu sendiri. Sedangkan di Tanah Papua, Pemerintah Indonesia sudah berlakuakn RUU Oramas dan Kamnas di Tanah Papua, sehingga ruang untuk menyampaikan aspiras kepada Pemerintah sangat tertutup hingga kini dan perlawan Rakyat Papua pun dibungkam. Ketika Rakyat Papua menggelar Aksi Demontrasi, pihak keamanan melakukan aksi penangkapan terhadap Aktivis di Tanah Papua.


Saat Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menggelar Demontrasi damai sehingga gabungan TNI/POLRI paksa membubarkan masa aksi didepan Kampus Universitas Negri Papua (UNIPA) di Manokwari, 23 Oktober 2012 lalu. Dalam insiden tersebut pihak TNI/POLRI menangkap 11 Aktivis KNPB dan gabungan TNI/POLRI juga memukulii salah satu wartawan suarapapua (Oktovianus Pogau) saat hendak meliput berita.


Bukan hanya di Manokwari tetapi di seluruh wilaya di Tanah Papua hadapi nasib yang sama. Jika persoalan ini terus terjadi di tanah Papua, maka para elit Politik dan pihak kapitalisme, Imprilialisme, bahkan Kolonialisme memanfaat memon ini untuk selamatkan kepentingan mereka. Kondisi seperti ini rakyat Papua sudah hadapi dari sejak Papua di integrasikan kedalam  Negara Kesatuan Repubilik Indonesia (NKRI) sampai dengan saat ini.


Di Paniai Papua, Pihak TNI/POLRI sedang swiping handphone yang menyimpang foto-foto Budaya Papua, dan menyita atribut-atribut Budaya suku Mee di Tanah Papua. Dalam hal, banyak kalangan mengatakan, masa Soeharto sama nasib dengan resim SBY.


Tindakan brutal pihak Militer Indonesia di Tanah Papua sangat ironis dan/atau tidak manusiawi, maka hal ini dikategorikan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) yang dimasudkan dalam UUD 1945 tentang HAM. Sepertinya, Hak Hidup (life), Hak Kebebasan (liberty), dan Hak Memiliki (property).
Oleh sebab itu, jangan biarkan persoalan ini terus terjadi di Tanah Papua, dan perlu ada kerja sama antara tokoh agama, Masyarakat di Tanah Papua Barat. Karena hal ini sangat urgen dan/atau perlu ada kerja sama yang baik antara beberapa pihak yang dikemukakan diatas ini.


Bahkan, Pemuda dan Masyarakat di Tanah Papua juga jangan biarkan upaya Kolonialisme Indonesia untuk membungkam ruang Demokrasi di Tanah Papua, karena ini suatu upaya Indonesia yang  sangat buruk tujuannya mematikan rasa  Nasionalisme Papua yang mana berawal dari sejak puluhan tahun lalu diatas Tanah Papua. Jika pembumkaman ruang Demokrasi terus terjadi maka  Eksitensi Orang Papua sangat terancam dan juga akan punah, sehingga Bangsa lain akan mengatakan bawah, “Dulunya ada Orang Kulit hitam rambut Kriting yang hidup di Pulau ini tetapi mereka sudah Punah, sedangkan Sumber Daya Alam mereka itu berlimpah”

Jika RUU Ormas dan Kamnas disahkan, maka tidak secara langusng Pemerintah Indonesia membuka pintu kemerdekaan bagi masing-masing  wilaya di Indonesia.


RUU Oramas dan Kamnas diperlakukan atas desakan kaum impirialisme, Neokapitalisme, neolibelarisme dan/atau pihak asing, demi kepentingan  Ekonomi Politik di Indoensia khususnya di Tanah Papua Barat.
Perjuangan Bangsa Papua bukan hanya melawan Kolonialisme Indonesia tetapi melawan juga Impirialisme Amerika Serikat. Sepertinya, Victor Yeimo Ketua Komite Nasional Papua  (KNPB) menulis didinding akun Facebooknya, perjuangan ini sangat berat karena berskala Internasional, “Tulisnya.

Program e-KTP 

          Pemberlakuan e-KTP Rakyat Papua menilai bagian dari penyakit  pembunuh rasa Nasionalisme Papua dan melemakan pergerakan perjuangan Rakyat Bangsa Papua yang dijuangkan dari sejak 1960-an sampai dengan saat ini. Oleh karena itu, Rakyat Papua menolak tegas pemberlakuan e-KTP di Tanah Papua.

Dan sebagian umat  Gereja pun manilai, e-KTP bagian dari angka 666 yang akan menggenapi Akhir Zaman. Seperti apa yang Tuhan memperlihatkan kepada Yohanes di pulau Patmos, saat hendak menulis kitab Wahayu

Saat ini, sebagian Rakyat Papua merasa trauma untuk miliki e-KTP Karena e-KTP memiliki sistem yang sangat canggih bahkan orang yang memegang sitem tersebut sudah mengetahui apa yang kita sedang pikirkan,  dan  juga ke luar Negri tidak perlu menggunakan Pasword (hal ini sama dengan miliki Kartu 666 menurut Firman Tuhan).


Kurikulum Pendidikan

             Upaya Kolonialsime Indonesia untuk membunuh Nasionalisme Papua melalu Pendidikan yang diterpakan oleh Kementrian Pendidikan melalui buku-buku sejarah Indonesia tentang konteks  Papua. Menurut beberapa pengamat Sejarah Papua mengatakan, buku sejarah yang diterbitkan oleh Indonesia itu dimanipulasi dan  tidak sesuai dengan apa yang pernah terjadi di Tanah Papua pada tahun 1960-an lalu. Sepertinya Aneksasi Papua dalam NKRI, PEPERA dan lain-lain, dan Perjuangan Indonesia Mereka Orang Papua juga pernah berjuan. Misalnya, Mathen Indey, Silas Papare, Frans Kaisepo yang dijuluki Palawan Indoensia. Itu semua omong kosong yang dibuat NKRI. Agar orang Papua percaya dengan Sejarah Palsu Kolonialisme Indonesia.


Jika hal ini terus menjadi Kurikulim dalam Pendidikan, sangat sayang sekali dengan Generasi muda Papua. Nasib ini saya pun sering perna hadapi saat  di bangku Sekolah Dasar. Ketika saya membaca “Papua dari Pangkuan ke Pangkuan” yang ditulis oleh Alm. Agus Alua. 


Sehingga saya menyadari bawah, Kurikulum Pendidikan di Papua yang terapkan oleh Kolonialsime Indonesia itu bohong. Akhirnya, saya menyadari dengan apa yang saya perna pelajari. Maka itu ditandaskan kepada Pendidik-pendidik yang masih eksis di Tanah Papua perlu mengajar Pendidikan Sejarah Papua dan Budaya Papua yang dikelabui oleh Kolonialsime Indonesia melalui Kurikulum bohong itu.


“Harapan saya terus berdiskusi mengenai Judul Artikel diatas, agar mengetahui steratege dan/atau taktik Kolonialisme Indoensia untuk membunuh rasa Nasionalisme Bangsa Papua”

Penulis adalah satu anak muda asal Papua Barat, sekarang Ia berdomisi di Holandia
Share To:

Sumber : http://www.malanesia.com/2013/03/upaya-upaya-kolonialisme-impirialisme.html