Pages

Pages

Rabu, 20 Maret 2013

INDONESIA TAK BENAR-BENAR PEDULI DENGAN DIPLOMASI MELANESIA

OCEANIA (Dok. Jubi)
Jayapura, 20/03 – Indonesia dinilai lebih peduli dengan masalah internalnya serta posisinya di Asia Tenggara daripada berdiplomasi dengan negara-negara Melanesia.

Jon Fraenkel, Profesor politik Kepulauan Pasifik dari Universitas Victoria, Wellington, Selandia Baru dalam wawancaranya dengan Radio Australia (20/03) mengatakan sudah lazim terjadi dimana isu-isu kebijakan internasional atau regional diperjuangkan dalam politik domestik di negara-negara Melanesia.

“Itu juga terjadi di Vanuatu dimana perbedaan antara dukungan dan oposisi kepada pemerintah Frank Bainimarama di Fiji telah menjadi masalah antara pemerintah dan oposisi di Vanuatu dan sekarang terjadi pada Papua Barat.” kata Fraenkel.

Namun Fraenkel berpendapat, Pemerintah Vanuatu yang belakangan ini berubah sikap terhadap gerakan Papua Merdeka dikarenakan meningkatnya diplomasi Indonesia di kawasan pasifik. Kemudian Indonesia sendiri telah berubah selama dekade terakhir dengan pergeseran ke arah demokrasi serta pengakuan adanya situasi yang rumit dalam sikap kebijakan terhadap posisi Papua Barat dan Papua di Indonesia.

Mengenai simpati besar yang ditunjukkan oleh publik (masyarakat) Melanesia belakangan ini terhadap apa yang terjadi di Papua Barat, Fraenkel mengatakan diantara solidaritas negara-negara Melanesia, apa yang terjadi di Indonesia atau di Papua Barat, masyarakat Melanesia akan melakukan kontak dengan perwakilan gerakan Kemerdekaan Papua Barat. Hal ini berjalan dengan sangat baik, menurut Fraenkel.

Meski demikian, Fraenkel mengakui adanya perbedaan pendapat di Papua Barat. Dalam gerakan di Papua ada yang menginginkan otonomi yang lebih luas, yang lebih besar dari sebuah pemerintahan sendiri. Menurutnya, meskipun ada gerakan kemerdekaan yang menguat dan trend Pemilu yang cenderung menunjukan dukungan untuk pembebasan Papua Barat, tetap saja ada pandangan yang berbeda juga tentang bagaimana menyesuaikan diri dan bernegosiasi dengan Jakarta. Namun situasi ini bisa berubah.

“Tentu saja, itu mungkin berubah jika ada penguatan gerakan kemerdekaan atau kesulitan lebih lanjut di Indonesia. Tapi saya pikir itu pasti sangat penting dalam militer, misalnya, dan elit politik untuk menjaga Papua Barat.” jelas Fraenkel.

Tentang sikap politik Indonesia terhadap Pasifik saat ini, menurut Fraenkel Indonesia tak memandang negara-negara Melanesia untuk dijadikan sekutu. Indonesia lebih peduli pada masalah internalnya dan posisinya di Asia Tenggara.

“Indonesia jauh lebih peduli tentang masalah internalnya sendiri dan posisinya di Asia Tenggara dan tidak begitu peduli dengan diplomasi Melanesia, meskipun telah ada beberapa peningkatan selama beberapa bulan terakhir.” kata Fraenkel. (Jubi/Victor Mambor)