Pages

Pages

Minggu, 24 Februari 2013

Agama Saya Adalah Jurnalisme

Buku : agama saya adalah Jurnalisme
Buku ini menunjukkan kepada pembaca bahwa penulisnya, Andreas Harsono, cinta pada jurnalisme. Buku ini bercerita, penulisnya bekerja dengan telaten, dengan kesungguhan, untuk jurnalisme. Tak ada yang penting di kepalanya, kecuali jurnalisme. Saking seriusnya, dia meyakini, jurnalisme yang bermutu, sebagaimana agama, akan mendatangkan faedah bagi khalayak luas. Itulah sebabnya, ia memasang judul Agama Saya Adalah Jurnalisme.

Tapi, agaknya, buku ini memuat dua hal saja: tentang bahasa dan (pandangan) politik penulisnya. Jurnalisme menjadi jalan, kerangka berpikir, cara kerja, dan alat berjuang. Isinya, dua hal tadi, bahasa dan politik. Unsur kebahasaan dalam buku ini sangat kuat. Terlihat mulai dari pernyataan penulisnya hingga tata cara penulisan buku ini yang dalam. Ia, misalnya, tidak percaya ada bahasa Indonesia, apalagi ditambah dengan kata sifat "yang baik dan benar"
Coba perhatikan pernyataan Harsono dalam esai berjudul Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris, "Sambil menulis dalam bahasa Melayu, saya juga membandingkan dengan bahasa Inggris" (hlm. 82-86). Dia menyebut "bahasa Indonesia" dengan "bahasa Melayu". Lantas dia memberi penegasan, "Saya sendiri enggak punya bahasa ibu yang official.

Dengan fasih, Harsono yang pernah bekerja untuk The Jakarta Post (Jakarta), The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur), dan pendiri serta pelaksana majalah Pantau (Jakarta), menceritakan latar belakang antropologinya. Anak keturunan Hokkian, tanah kelahiran di Jember-Madura, sekolah yang berpindah-pindah, keluarga, lingkungan, dan kawan yang macam-macam, menjadikan dia bermacam-macam pula

Untuk soal ini, ia menulis, "Saya lahir di Jember, satu kota Tembakau di Jawa Timur. Nama pemberian orangtua saya, 'Ong Tjie Liang', tapi oleh rezim Orde Baru kami dipaksa ganti jadi nama 'Indonesia'. Nama Ong Tjie Liang dianggap bukan Indonesia, dianggap belum membaur. Papa orang Hokkian. Mama orang Hakka... Tapi nenek kecil orang Jawa asal Tuntang, Malang... Jadi saya besar dengan budaya campuran. Besar dengan Man Tuka yang Madura. Mbek Wie yang Madura. Pak Tie yang Jawa.

Semua esai dalam buku ini menyajikan keragaman pernik-pernik bahasa yang ada di Nusantara. Bahasa khas Papua, Aceh, Jawa, Madura, Bugis, Jakarta, Hokkian, hingga idiom dalam bahasa Inggris. Semua ditulis dengan enteng dan lincah, juga tak repot dengan segala rupa yang biasa disebut bahasa Indonesia yang baik dan benar. "Enak. Gado-gado," katanya.

Dan, dalam bahasa itu, kita bisa membaca pandangan politik penulis buku ini. Contoh, dalam tulisan berjudul "Asing di Tanah Acheh", Harsono, sebagai jurnalis menggugat penulisan "Aceh" oleh pemerintahan dan media-media. Dia menyatakan ejaan "Aceh" bermuatan politis. Sebab, dari penduduk hingga aktivis di ujung Pulau Sumatera menuliskannya dengan "Acheh". Di sinilah, dan dalam penggunaan ragam bahasa, pembaca buku ini dapat membaca pandangan dan pernyataan politik Harsono.

Maka, bahasa dan (pandangan) politik dioperasikan dengan cara jurnalisme. Jurnalisme adalah "tongkat" yang memandu dan sekaligus menyelamatkan dia dari penilaian politis. Tidak salah. Sebab, dia itu jurnalis. Jurnalis itu harus independen. "Saya sendiri, pertama-tama, seorang yang bekerja sebagai wartawan. Identitas lain, termasuk kewarganegaraan, saya lepaskan saat bekerja. Kewarganegaraan hanya untuk memperkaya pemahaman saya soal Aceh dan Acheh. Kewarganegaraan saya tak akan saya biarkan untuk mendikte liputan saya," tulis dia.

Esai-esai dalam buku ini dibagi dalam beberapa bagian. Esai-esai berisi mengeni etika hingga pendidikan wartawan diberi judul "Laku Wartawan". Sementara esai yang bercerita tentang syarat dan rukun menulis dinamai dengan "Penulisan". Judul "Dinamika Ruang Redaksi" digunakan untuk mengelompokkan perbincangan menyangkut media, keredaksian, hingga tokoh pers. Bagian bertajuk "Peliputan" memuat opini tentang investigative reporting, wilayah peliputan, dan lain-lain.

Esai-esai dalam buku ini kritis sekaligus memberi pelajaran. Renyah, tapi juga mengentak. Sesekali jenaka, tapi juga ada kedisiplinan. Dan karena berisi fragmen-fragmen terputus, bisa dibaca dengan suka-suka. Baca dari pinggir, tengah, ataupun dari belakang.

Agama Saya Adalah Jurnalisme
Penulis: Andreas Harsono
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta, Desember 2010, 268 halaman
 
Sumber :  http://methubadii.blogspot.com/2013/02/agama-saya-adalah-jurnalisme.html