Pages

Pages

Jumat, 15 Januari 2016

Eksploitasi Gila-gilaan Freeport di Bumi Papua

Mengenaskan, ketika membaca headline Sinar Harapan, Rabu (23/11), yang berjudul, "Ribuan Warga Papua Kelaparan". Ini karena kita semua tahu.

 Perampokan ekonomi dan eksploitasi sumberdaya alam oleh imprealisme barat terjadi di Papua!. Pertambangan raksasa emas dan tembaga itu kini berubah drastis, dari gungung kini menjadi danau!. Pantas saja rakyat Papua ingin memisahkan diri,sebab mereka telah dibodohkan secara sosial,ekonomi dan kultural. Sebagai daerah penghasil tambang emas, tanah Papua mampu mendulang keuntungan US$ 19 juta atau sekitar Rp 114 miliar per hari untuk PT Freeport Indonesia, perusahaan asing milik Amerika Serikat (AS) yang sudah beroperasi selama 44 tahun di Papua. Sejak 1967, PT Freeport Indonesia (FI) beroperasi dan mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) di tanah Papua. Lebih dari 2,6 juta hektare lahan sudah dieksploitasi, termasuk 119.435 hektare kawasan hutan lindung dan 1,7 juta hektare kawasan hutan konservasi. 

Hak tanah masyarakat adat pun ikut digusur. Dari hasil eksploitasi itu, setiap hari, rata-rata perusahaan raksasa dan penyumbang terbesar industri emas di AS itu mampu meraih keuntungan Rp 114 miliar per hari. Jika keuntungan tersebut dikalikan 30 hari, keuntungan PT FI mencapai US$ 589 juta atau sekitar Rp 3,534 triliun per bulan. Tinggal dikalikan dalam 12 bulan, keuntungan PT FI mencapai Rp 70 triliun per tahun. Berdasarkan laporan kontrak karya antara pemerintah Indonesia dengan PT FI yang berlaku sejak Desember 1991 hingga sekarang, kontribusi perusahaan tambang itu ke pemerintah Indonesia ternyata hanya sekitar US$ 12 miliar per tahun. Namun, awal November lalu, sebelum ada pemogokan karyawan menuntut kenaikan upah, PT FI mengaku telah menyetorkan royalti, dividen, dan pajak senilai Rp 19 triliun kepada pemerintah Indonesia atau naik Rp 1 triliun jika dibanding 2010 yang hanya Rp 18 triliun. Berbagai kalangan menilai, kontribusi sebesar itu tentu tidak sebanding dengan hasil eksploitasi yang diperoleh PT FI. Ini karena berdasarkan hasil laporan keuangan PT FI tahun 2010, perusahaan tambang tersebut mampu menjual 1,2 miliar pon tembaga dengan harga rata-rata US$ 3,69 per pon. 

Selain itu, pada 2010 PT FI juga sudah menjual 1,8 juta ons emas dengan harga rata-rata US$ 1.271 per ons, sehingga jika dihitung rata-rata dengan kurs Rp 9.000, total hasil penjualan PT FI mencapai sekitar Rp 60,01 triliun. Karena itu, berbagai kalangan mendesak pemerintah Indonesia mengkaji ulang kontrak karya tersebut. Kerugian. Royalti yang kecil hanya 1% sangat merugikan Indonesia.Penandatanganan kontrak karya pertambangan periode itu sarat korupsi dan kolusi. Secara umum, pemerintah Indonesia tidak hanya dirugikan dalam keuntungan materi saja. Eksploitasi tambang yang dilakukan PT FI juga telah merusak lingkungan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat, sedikitnya 291.000 ton limbah pertambangan Freeport dibuang ke sungai setiap hari. Jumlah itu menjadi lebih banyak 44 kali lipat dari sampah harian yang ada di Jakarta. Sementara kawasan yang dijadikan tempat membuang limbah Freeport mencapai 230 kilometer persegi, atau 27 kali lebih luas dibandingkan danau lumpur panas PT Lapindo Brantas yang menenggelamkan sebagian wilayah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Akibatnya, sumur-sumur milik warga di Papua saat ini menjadi tercemar merkuri. Bahkan bisa jadi, jika tidak boleh dipastikan, derita ribuan warga Papua yang kelaparan seperti yang diberitakan SH Rabu kemarin, salah satu penyebabnya adalah PT FI. Ini karena tak dapat dipungkiri, kerusakan alam yang diakibatkan eksploitasi tambang itu tentu dapat memperparah kondisi alam pertanian masyarakat Papua di saat cuaca buruk. Bencana kelaparan dan gizi buruk atau busung lapar pun melanda para balita yang ada di tanah Papua. Jika hal ini dibiarkan dan pemerintah tidak cepat tanggap dalam merespons derita kelaparan masyarakat Papua, tidak menutup kemungkinan keutuhan NKRI akan semakin terancam.

 Ini karena sejak kehadiran PT FI, masyarakat Papua merasa tidak mendapat perlindungan yang baik dari pemerintah Indonesia. Apalagi eksploitasi alam yang dilakukan PT FI selama ini dirasa tidak menguntungkan masyarakat adat setempat. Sejak kehadiran dan kedatangan perusahaan tambang asal AS itu, kemerdekaan masyarakat adat Papua terancam. Bahkan sebagian merasa kemerdekaannya sudah dirampas. Ini karena banyak tanah adat atau tanah ulayat yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat adat hilang dan berubah menjadi kawasan tambang yang tidak dapat dinikmati masyarakat. 

Selain mengambil langkah cepat dan tepat untuk mengatasi bencana kelaparan di tanah Papua, pemerintah juga harus segera menata ulang kontrak karya dengan Freeport karena perusahaan itu telah merugikan rakyat Papua. Hak atas kepemilikan tanah ulayat harus dikembalikan, dan struktur kepemilikan tanah yang telah melahirkan ketimpangan harus dirombak total, sebagaimana amanat UUPA No 50 Tahun 1960 dan Pasal 33 UUD 1945 yang asli. Apalah artinya Freeport, apalah artinya eksploitasi SDA, jika tidak membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi kehidupan umat manusia. Tentu menjadi tidak ada artinya juga jika hanya merasa memiliki, namun tidak pernah dapat menikmatinya. Pengapalan Sumber mineral dari Papua diolah menjadi liquid,hasil olahan Freeport Indonesia inilah yg disedot oleh pipa-pipa raksasa , lalu dikapalkan keluar negeri oleh tangker-tangker, sehingga hasil akhirnya hanya mereka yang tahu Kelaparan di Papua Sekitar 55 orang dilaporkan meninggal dan 112 dirawat di rumah sakit akibat kelaparan di Kabupaten Yahukimo, Papua. Kelaparan di Kabupaten Yahukimo terjadi di 17 titik sejak 11 November silam. Tepatnya, di tujuh distrik dan 10 pos peninjauan pemerintah.

 Mereka umumnya tinggal di pegunungan dan mengandalkan umbi-umbian sebagai makanan pokok. Akibat curah hujan yang tinggi, umbi yang ditanam penduduk gagal panen. "Apa yang mereka tanam selama empat bulan itu hasilnya hanya ubi sebesar ibu jari karena kelebihan air," kata Wakil Bupati Yahukimo, Daniel Rending. Daniel mengaku telah meninjau lokasi kelaparan bersama Bupati Yahukimo Ones Pahebol. Para korban yang sakit parah hanya dirawat di pusat kesehatan masyarakat karena letak rumah sakit yang sangat jauh. Daniel tak bisa memastikan ke-55 korban meninggal akibat kelaparan atau penyakit lain. Sebab dia memperoleh data itu dari pihak gereja setempat.

 Dia berjanji menurunkan tim medis besok untuk menyelidiki lebih lanjut kasus ini. Kelaparan di Yahukimo sebenarnya bukan hanya terjadi kali ini. Pada 1997 kasus ini pernah terjadi dengan jumlah korban tak kalah banyak. Berbeda dengan kelaparan kali ini, menurut Daniel, penyebab kelaparan tahun silam akibat kemarau berkepanjangan. Kasus ini kembali terulang karena warga setempat hanya menanam umbi-umbian. "Tak ada pesawahan kecuali mereka dipindahkan ke daerah dataran," saran Daniel. Sementara itu, malam ini, sekitar pukul 21.00 WIB pemerintah akan mengirimkan bantuan makanan ke Papua. "Selain melakukan koordinasi kita akan membawa bantuan untuk korban dan potensi korban. Malam ini menurut rencana Menko Kesra dan rombongan juga akan berangkat ke sana," kata Staf Khusus Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Rizal Malarangeng kepada pers di Jakarta, Jumat sore. 


Bantuan lain yang dari Ibu Negara Ani Yudhoyono yang jumlahnya belum dipastikan karena masih dikoordinasikan, menurut Juru Bicara Kepresidenan Andi Malarangeng yang hadir dalam pertemuan itu, juga akan dikirimkan malam ini. "Presiden mempertanyakan mengapa sistem peringatan dini dan informasi tentang gagal panen di daerah bisa tidak tersampaikan kepada pemimpin yang ada di struktur pemerintahan karena itu akan dilakukan investigasi," katanya. Walaupun pemerintah setempat sudah membentuk satuan tugas khusus untuk menangani bencana di Kabupaten Yahokimo namun karena sulitnya kondisi medan hingga saat ini pemerintah daerah belum bisa menjangkau lokasi bencana dan melakukan verifikasi korban serta kondisi nyata lapangan. 

"Petugas lokal sudah ada tetapi karena hambatan cuaca mereka belum bisa tiba di lokasi dan melakukan verifikasi," kata Rizal. Data tentang jumlah korban yang sakit dan meninggal, kata dia, hingga saat ini baru diketahui berdasarkan laporan para misionaris di gereja-gereja yang berdekatan dengan lokasi bencana. Laporan sejumlah media menyebutkan saat ini sekitar 55 orang di kabupaten itu meninggal karena kelaparan dan 112 orang lainnya juga sakit parah karena kelaparan. "Ini baru laporan dari misionaris, karena itu kita harus melakukan pengecekan lagi. Tapi kompleksitas masalah geografis masih menjadi kendala," katanya. Daerah-daerah di Kabupaten Yahokimo terletak di lokasi yang sangat terpencil dan sulit dijangkau alat transportasi darat, satu-satunya cara untuk menjangkau daerah itu adalah dengan pesawat berukuran kecil."Untuk mengirimkan bantuan ke lokasi-lokasi itu pun tidak mungkin melalui jalan darat atau dengan dipikul sekalipun, karena itu harus mencarter pesawat," kata Sekretaris Menko Kesra Sutedjo Yuwono. Kini Saatnya Indonesia menuntut politik etis ke Amerika!.Minta ganti rugi sepatutnya atas eksploitasi di bumi Papua! =============================================================== Sajak renungan…….. Aku muak dengan kapitalis karena ia merupakan raksasa tak berkaki serta berotak anak ayam, jelmaan lintah yang tak pernah kenyang. Aku; kamu; dan mereka semua; serta bayi-bayi ini…mereka adalah para pewaris bangsa yang terpasung dan terkekang, karena kemiskinan telah merantai tangan-tangan dan tubuh mereka dalam belenggu kebodohan. Aku bukanlah seorang provokator, atau anarkis bukan pula komunis, aku mengajarkan kepada mereka tentang Tuhan, dan ketika mereka marah meradang , aku redam mereka dengan akal dan nurani, Aku seorang motivator , sekaligus orang yang terpasung, roda-roda kehidupan kudapati berlawanan arah denganku, ia melindas dengan angkuh setiap benih yang kutanam dan hendak bertunas Dan aku melihat disana, dibalik tumpukan sampah ada budak sedang tertidur , aku tak ingin membangunkan dia kalau-kalau ia sedang memimpikan “kebebasan.” Bila ia telah terbangun akan aku jelaskan tentang arti kebebasan kepadanya. Tapi aku juga mencintai para budak itu, seperti cintaku pada kebebasan, sebab mereka mengecup dengan mata tertutup taring binatang buas dalam hening ketidaktahuan, tanpa tahu senyum maut yang menunggu, dan tak pernah menyadari, sedang menggali kuburan dengan tangan mereka sendiri. kehidupan berbangsa laksana sebuah kursi singgasana, bila rusak atau patah sebagian maka pincanglah sebuah bangsa. Dan Matilah sebuah bangsa bila hukum dapat dibeli dengan uang, serta para pemikirnya membiarkan kebohongan sedangkan ia mengetahuinya -kemudian karena sesuatu hal ia hanya diam terpaku , lalu menyerah dalam kubangan belenggu yang bernama kekuasaan. ============================================================================ Kunjungi situs pribadi saya www.indonesiabangga.com

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/tarzanningrat/eksploitasi-gila-gilaan-freeport-di-bumi-papua_550b4073a33311226a2e414c

Tidak ada komentar:

Posting Komentar