Pages

Pages

Selasa, 24 Maret 2015

VICTOR YEIMO : KASUS YAHUKIMO .INILAH TRIK PEMBOHONGAN POLDA PAPUA

Foto, IST Edit Kolaiatag
Kasus Yahukimo, Inilah Trik Pembohongan Polda Papua
Victor Yeimo
Dalam kasus kericuhan di Yahukimo, ada pembohongan, ada skenario kriminalisasi gerakan damai rakyat sipil yang dimediasi KNPB, ada juga –dan ini yang utama- pengalihan opini dari penembakan 5 warga sipil di Paniai oleh anggota Polda Papua yang belum mau diungkap oleh Polda Papua. Tetapi juga, ini hanyalah taktik yang bertujuan menyukseskan strategi Kepolisian yang lebih besar yakni perluasan Markas Komando (Mako) Brimob dan promosi jabatan Kepolisian.
Bila kita telusuri, tidak satupun fakta kebenaran yang mampu diungkap dari setiap kejahatan yang dibuat oleh Polisi yang bertugas di Papua. Dari Kapolda berganti Kapolda menunjukan pola yang sama. Kebohongan polisi didukung wartawan bayaran yang beroperasi di berbagai media lokal dan nasional Indonesia. Sangat disayangkan, dalam dunia tehnologi dan informasi yang begitu terbuka luas, fakta yang hendak ditutupi tidak mampu tertutupi, sehingga pola pengalihan dibuat.
Kicauan Kapolda Papua kepada Presiden Jokowoi dan DPR-RI Komisi III untuk bubarkan KNPB membuktikan pengalihan itu. Presiden Jokowi, bahkwan Komis III DPR-RI bidang hukum dan HAM, Benny K Harman saat berkunjung ke Polda Papua beberapa waktu lalu mendesak agar menuntaskan kasus penembakan sejumlah warga sipil di Kabupaten Paniai 8 Desember 2014 yang hingga kini pelakunya belum terungkap.
Untuk menutupi kasus Paniai dari sorotan DPR-RI dan Jokowi, Kapolda sengaja mengirim Brimob Polda Papua ke Yahukimo untuk melakukan penembakan kepada rakyat sipil yang sedang melaksanakan ibadah penutupan penggalangan dana kemanusiaan untuk bencana Vanuatu.
Padahal, aksi penggalangan dana di Yahukimo itu sudah berjalan aman 6 hari atas kesepahaman bersama Kapolres Yahukimo dan Pengurus KNPB, dan bila dibiarkan sudah tentu akan aman seperti biasa. Ini semata-mata dilakukan agar menjadi opini nasional sehingga kasus Paniai tertutupi.
Polisi yang membabi buta menyerang massa menewaskan 1 warga sipil, 6 orang tertembak masih di rawat, dan belasan warga sipil ditangkap dan disiksa. Sementara 14 rumah warga dibongkar polisi. Kapolda justru meminta wartawan untuk tidak berpihak pada KNPB dan memberitakan versi kebohongan Polda Papua.
Buktinya, KNPB telah bertandang ke Polda Papua untuk menjelaskan bahwa KNPB sedang mencari Senjata Api yang dirampas warga dari Polisi, dan setelah KNPB mencari dan mendapatkan dari warga dan mengembalikan ke Polisi melalui Gereja justru Polisi kembali menuduh bahwa mereka mendapatkan Senpi di Sekreatariat KNPB saat Penggrebekan.
Media Indonesia mengutip dan membesarkan pembohongan itu. Dan lagi-lagi, inilah strategi Polda menghindar dari kejahatan penembakan dan pengrusakan yang dilakukan Polisi di Yahukimo, karena tujuan Polda Papua adalah mengambil alih opini nasional untuk menutupi kasus kejahatan yang sedang dilakukan oleh Polisi di Papua.
Sebelumnya, tentu Kapolda memainkan pengalihan opini dengan kasus Penembakan yang dituduhkan kepada Ayub Waker di Timika (1/12/2014). Kemudian, Polda Papua melalui Polres Nabire juga melakukan penangkapan dan penggrebekan secara membabi buta terhadap anggota KNPB di Nabire, dimana barang-barang berharga seperti Laptop dan Handphone milik warga belum dikembalikan.
Skenario ini berlanjut sampai di Merauke dengan penempatan Bom di depan Kantor KNPB Merauke oleh oknum Polisi (5/3/2015), yang kemudian Polisi merusak Kantor KNPB Merauke.
Inilah rangkaian pembohongan, skenario kriminalisasi dan pengalihan yang terang-terangan dilakukan untuk menutupi kejahatan polisi di Papua. Sementara strategi yang lebih besar adalah menjadikan gerakan damai rakyat sipil Papua sebagai kriminal agar proyek promosi jabatan para petinggi kepolisian dan perluasan markas brimob dapat tercapai.
Kita bisa mencermati secara terbuka bahwa Kapolda “ngotot” membuka Mako Brimob di Wamena ditengah penolakan yang dilontarkan oleh berbagai lapisan masyarakat di Jayawijaya. Wilayah pegunungan yang sudah hidup tenang dan damai dijadikan wilayah konflik. KNPB Yahukimo yang selama ini memediasi aksi damai rakyat diganggu Polisi agar tercipta konflik, dengan demikian Pembangunan Mako Brimob dapat terealisasi cepat di Jayawijaya.
Adalah strategi lasim yang tidak perlu ditutupi oleh Polda Papua. Sebab, rakyat yang berjuang untuk Papua Merdeka tidak bersembunyi dan tersembunyi. Perjuangan itu ada di hati seluruh orang Papua yang ada diatas teritori West Papua. Itu fakta dan bukan hal baru. Yang fenomenal dan membudaya adalah kelakukan dan kiat-kiat kolonialisme yang masih menggunakan pola lama dalam masa yang sudah terbuka luas.
Semua orang tahu bahwa ciri-ciri seorang pembohong adalah orang yang selalu berkeras kepala menyalakan orang atau pihak lain. Bila Kapolda terus menyalahkan KNPB, semua orang akan semakin tahu pembohongan bersumber dari mana.

Penulis Adalah Victor Yeimo Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB)