Pages

Pages

Rabu, 22 Oktober 2014

Ini Kronologi Pertikaian Mahasiswa Papua & Warga Kampung Tataaran, Tondano-Sulut.

Mahasiswa Papua Berkumpul di Asrama Kamasan 5 Papua, Kota Manado
Doc: Pribadi
Tondano-Sulut. Pada tanggal, 18 Oktober 2014 pukul 18.00 Wita, ada beberapa mahasiswa asal Papua melaksanakan acara syukuran sesuai tradisi masyarakat Papua dengan cara bakar batu, kemudian usai kegiatan syukuran minum-minum keras (miras) untuk refresing bersama.

Kemudian pada 19 Oktober 2014 pukul 03.00 Wita, mahasiswa Papua yang sudah terpengaruh miras, turun ke pertigaan Kel. Tataaran II dan membuat keributan, karena keadaan terganggu kondisi miras. Kemudian menyerang warga masyarakat Kelurahan Tataaran, sehingga mengakibatkan munculnya korban antara lain: 1).Jon Moningka dan Viki Rambing terkena lemparan batu dibagian kepala. 2). Meidy Semampo (mahasiswa asal Sangihe), luka parang di bagian kepala.

Dengan adanya korban dari masyarakat Kelurahan Tataaran II tersebut, menyebabkan warga Kel. Tataaran II melakukan aksi balas dendam terhadap mahasiswa Papua sehingga mengakibatkan 1 orang korban mahasiswa asal Papua tewas atas nama Fetius Tabuni, (20 tahun, suku Dani, Kab. Lanijaya, Propinsi papua, mahasiswa Politeknik.

Pada pukul 04.00 Wita, mahasiswa asal Papua bersatu dan menyerang kembali masyarakat Kelurahan Tataaran II dengan menggunakan batu karena merasa kecewa atas jatuhnya korban teman-teman mereka.  Serangan itu yang mengakibatkan, beberapa rumah, kios, dan kendaraan yang diparkir warga Kelurahan Tataran II mengalami kerusakan, serta membongkar dan mengambil barang-barang yang ada di dalam kios dan membakar kayu, serta barang lain di pertigaan Jalan Tataaran Vatar.

Pada pukul 05.30 Wita, Kapolres dan Dandim 1302/Minahasa langsung berada di TKP dan menenangkan masyarakat serta mahasiswa asal Papua. Situasi di lokasi kejadian ini saat ini relatif kondusif dengan penjagaan aparat keamanan.

Sementara itu, pada 19 Oktober 2014, pukul 10.00 s.d 10.30 Wita, di aula komplek asrama mahasiswa Papua, Kel. Tataaran, Kecamatan Tondano Selatan, Kab. Minahasa, telah berlangsung pertemuan antara Rektor Unima Tondano (Prof. Dr. Ph. ÈA. Tuerah, MSi, DEA), Kapolres Minahasa (AKBP Ronald Rumondor), Dandim 1302 Minahasa (Letkol Teguh Hery Susanto), dengan mahasiswa Papua yang dihadiri sekitar 150 orang mahasiswa Papua.

Dalam pertemuan tersebut, Rektor Unima intinya menyampaikan agar mahasiswa tidak lagi melakukan tindakan anarkis dan untuk kegiatan yang bersifat tradisi maupun syukuran agar tidak menyediakan minuman keras.

Selain itu, persoalan perkelahian tersebut agar sepenuhnya diserahkan kepada pihak aparat kepolisian, dan bila penyampaian tersebut dilanggar, maka pihak Unima akan mengambil tindakan tegas dengar mengeluarkan mahasiswa tersebut.

Data yang dihimpun, suarawiyaimana.blogspot.com; beberapa mahasiswa papua yang dapat luka-luka sementara dilarikan ke - RSUD Malalayang, Manado untuk mendapatkan perawatan.

Mahasiswa asal papua dari Tondano, Tomohon dan Manado dikumul kemarin sore, jam 4 sampai selesai  di Asrama kamasan 5 di Manado, dibawa payung Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) untuk menceritakan kejadian sebelumnya, di Tondano. Dan saat ini, mahasiswa asal papua berada di Honai Laki-laki, dan belum pastikan keadaan teman-teman lain yang masih tinggal di Tondano.

“Kami hanya inginkan perdamaian, semuanya kami serahkan ke pihak berwajib. Tidak ada yang mau ini semua terjadi, kami hanya ingin ada perdamaian untuk semua,” ujar ujar salah satu mahasiswa papua Ketua Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) cabang Tondano, saat dijelaskan kepada media ini, melalui via selulernya dari Unima Tondano, kepada pengelola media ini.
“Diharapkan kepada semua pihak, baik warga tataaran, Tondano maupun kami mahasiswa asal papua jangan terpancing dengan isu-isu yang kurang membangun sesama warga, sehingga proses penyelesaikan akan diselesaikan melalui proses hukum,” harapnya. (Awimee G /SW)
sumber:suarawiyaimana.blogspot.com;