Pages

Pages

Rabu, 15 Oktober 2014

Dibonceng Tidak Pakai Helm, Polisi Pukul Mahasiswa Papua di Yogyakarta

Korban, Yohanes Baru. Foto: Ist.


Yogyakarta, MAJALAH SELANGKAH -- Beberapa mahasiswa Papua mendatangi Polres kota Yogyakarta, Rabu (15/10/2014),  meminta kejelasan dan penanganan masalah atas tindakan pemukulan dan penahanan oleh anggota polisi lalu lintas dari Polres Kota Yogyakarta terhadap seorang mahasiswa Papua di Jl. Aipda Tut Harsono, Timoho, Sleman-Yogyakarta, tadi pagi.

Awalnya, seorang mahasiswa Papua, Yohanes Baru meminta temannya mengantar ke kampus di Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa (STPMD "APMD"). Mereka tinggal di Asrama Papua, dan melalui balaikota Yogyakarta, menuju APMD di Timoho.

Polisi yang sedang berjaga di depan perempatan Balaikota Yogyakarta menahan motor dan menanyakan helm. Saat itu, hanya Yohanes Baru yang di belakang yang tidak memakai helm.

Penghuni Asrama Papua ini bermaksud menjelaskan secara baik kepada polisi yang menahan, Bagus Panji Nugroho, anggota Lantas Polres Kota Yogyakarta.

Saat akan menjelaskannya dengan baik, Polisi Bagus Panji Nugroho langsung melakukan pemukulan terhadap Yohanis yang tidak memakai helm di belakang.

Karena tidak menerima tindakan anggota lantas Porles Sleman ini, Yohanes membalas dengan sekali pukulan.

Kemudian Yohanes dipukul lagi beberapa kali oleh beberapa anggota lantas lainnya yang mucul dengan serta merta dari arah belakang, bagian dalam balaikota Yogyakarta.

Akibatnya, Yohanes Baru mendapat memar di bagian pelipis mata dan bibir. Ia kemudian Ia dibawa ke Porles.

Temannya yang mengantar tadi melarikan diri dari keroyokan polisi dan melaporkan  peristiwa ini kepada mahaswa Papua lainnya di  Asrama Papua Yogyakarta.

Setelah mendengar kejadian ini sekitar belasan mahasiswa Papua turun ke TKP untuk meminta kejelasan dan kronologi kepada Polisi atas peristiwa ini.

Ternyata polisi juga menyeret para mahasiswa yang datang ke TKP menuju mobil Shabara yang kemudian mengangkut mereka menuju Polres kota Yogyakarta.

Menurut Manfret Tenouye, salah satu mahasiswa Papua yang datang ke TKP dan ikut dinaikkan ke Sabhara menuju Polres kota Yogyakarta mengatakan, mereka juga ditendang oleh polisi saat dipaksa naik Sabhara.

"Tadi kami ada belasan mahasiswa mau datang meminta kejelasan dan kronologi, tapi mereka paksa kami naik ke mobil Shabara. Polisi mereka juga menendang saya di belakang," lanjutnya.

"Sampai di Polres, kami yang lain dibebaskan, tapi teman yang tadi dapat pukul ditahan. Karena polisi bilang dia sebagai pelaku pemukulan anggota polisi tadi," jelas Tenouye lagi kepada majalahselangkah.com.

Menanggapi kejadian ini beberapa mahasiswa Papua lainnya mulai berdatangan ke Porles.

Emanuel Gobai, senior mahasiswa Papua di Yogyakarta yang bekerja untuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) kota Yogyakarta, setelah bertemu Yohanes di ruang Satlantas.

"Tadi adik Yohanes diminta keterangan terkait kejadian ini, dia bilang sudah menjelaskan semuanya yang sesuai dengan apa yang tadi terjadi," kata Gobai.

"Besok kami akan mediasi mahasiswa Papua, untuk bertemu Lantas tadi dan Kanidlantas Porles Yogyakarta untuk bicara soal ini," jelas Gobai lagi.

Dari halaman Polres kota Yogyakarta, ketua Himpunan Mahasiswa Papua di Yogyakarta (Ipma Papua Yogyakarta), Aris Yeimo mengatakan, kronologis korban berbeda dengan kronologis versi polisi.

"Polisi menjelaskan kepada mahasiswa, bahwa yang pertama memukul adalah Yohanes Baru, sementara adik yang dapat pukul ini menjelaskan bahwa dia dapat pukul duluan. Emosinya terpancing dan balas memukul," jelas Yeimo.(Abraham Goo/MS)