Pages

Pages

Rabu, 22 Oktober 2014

Berat, Bahasa Daerah Jadi Muatan Lokal di Sekolah

Peta bahasa di Tanah Papua (SIL International)
Jayapura, Jubi – Guru Seni dan Budaya Papua SD Advent Abepura, Manase Manay, menilai  upaya untuk memasukkan bahasa daerah  menjadi muatan lokal dalam kurikulum di sekolah  sangat berat. Sebab, jika hal itu diterapkan para guru  harus  mempelajari bahasa milik suku lain di Kota Jayapura. Hal itu disebabkan bahasa daerah yang dikuasasi para guru tidak selalu sama dengan bahasa daerah tempat mereka mengajar.
“Kami  jelas akan merasa berat, karena takut salah ucap atau tulis. Sebab, ini bahasa daerah orang lain,” katanya kepada Jubi, di ruang kelas SD Advent Abepura, Senin(21/10).
Menurut Manase, penerapan bahasa daerah menjadi muatan lokal dan diajarkan di sekolah  kemungkinan mulai dilaksanakan pada 2015. Bahasa daerah yang menjai muatan lokal  khusus hanya untuk tingkat TK dan SD.
“Hanya saja penutur bahasa daerah di daerah pesisir pantai semakin sedikit berbeda kalau mereka yang tinggal di daerah perdalaman Papua,”katanya.
Secara terpisah Victro Reymond Letfa, guru SD Negeri Satu Atap Ereuw Organda, Kota Jayapura, mengatakan  penerapan pemakaian  bahasa daerah di sekolah  tidak mungkin dilakukan di seluruh sekolah di Kota Jayapura. Sebab, kata dia,  hanya sekolah tertentu saja yang sudah secara utuh melaksanakan Kurikulum 2013 di Kota Jayapura.
”Sekolah-sekolah itu misalnya SMA Negeri 4, SMP Negeri Abepura, dan SD Negeri 3.  Sedangkan yang lainnya masih tahap pelatihan dan pemantapan kurikulum 2013,” katanya seraya menambahkan untuk bahasa daerah sebaiknya dilaksanakan di sekolah yang siswanya mengerti dan memahami bahasa lokal tersebut.

Sebelumnya Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Jayapura mengatakan siap melaksanakan muatan lokal dengan memakai bahasa daerah yang terdapat di Port Numbay. Misalnya di  Kampung Tobati, Injros, Kayu Batu, Kajoe Pulo, dan  sebagainya.(Dominggus Mampioper)

Sumber : www.loidjubi.com