Pages

Pages

Jumat, 17 Oktober 2014

125 Warga Keerom Masih Tinggal di Tenda


Warga Arso Satu, Distrik Arso, Kabupaten Keerom hingga kini masih tinggal di tenda pengungsian (JPIC GKI)
Warga Arso Satu, Distrik Arso, Kabupaten Keerom hingga kini masih tinggal di tenda pengungsian (JPIC GKI)
Abepura, Jubi – Sebanyak 21 kepala keluarga (KK) atau sekitar 125 jiwa warga Arso Satu, Distrik Arso, Kabupaten Keerom hingga kini masih tinggal di tenda pengungsian.

Mereka ini merupakan korban kehilangan rumah akibat amukan massa yang marah paska pembunuhan sadis terhadap seorang ibu hamil bernama Catur Widiastuty pada 6 September 2014 lalu.

Dekan gereja Katolik Dekenat Keerom, Keuskupan Jayapura, Pastor Ronny Guntur SVD, pihak gereja memfasilitasi beberapa tokoh dari Keerom dan pegunungan tengah Papua untuk membicarakan nasib warga dan lokasi pembangunan rumah tinggal.

“Tanah untuk mereka bangun rumah sudah dibicarakan dengan tuan tanah, tapi kapan mulai belum dibicarakan,” katanya kepada Jubi via pesan singkat telepon genggamnya, Kamis (16/10).

Menurut Pastor Ronny, pemerintah Kabupaten Keerom rupanya tak memberikan bantuan finansial maupun material pembangunan rumah.
“Pemerintah malah membiarkan warga negara kehilangan rumah. Pemerintah terkesan menyetujui ulah warga negara yang main hakim sendiri itu,” katanya menjawab pertanyaan Jubi mengenai bantuan pemerintah terhadap warga.

Sebulan lalu, Alue, warga Kota Arso mengatakan, warga kehilangan 21 rumah akibat main hakim sendiri oleh kelompok orang yang menamakan diri keluarga nusantara. Keluarga nusantara ini marah paska pembunuhan ibu hamil bernama Catur Widiastuty. Aksi pembakaran rumah dilakukan lancar tanpa ada pembelaaan dari pihak pemilik rumah karena terjadi dalam pengawasan pihak aparat keamanan.

“Pihak aparat bersama keluarga korban ke permukimam keluarga pelaku membakar rumah-rumah. Sementara aparat menjaganya dengan senjata. Masyarakat yang mau melawan, diancam menemakan ditembak. Akhirnya masyarakat tak berdaya dan hanya melihat saja rumah di bakar tetapi ada yang lari ke hutan,” tutur Alue.

Menurut keterangan masyarakat Arso 1, pelaku pembunuhan Catur Widiastuty yang bernama Hilarius Gombo ini mengalami sakit malaria tropica parah (+4) sekitar 6 tahun lalu yang mengakibatkan jiwanya terganggu. Beberapa rekan kerja pelaku di SMK N 6 Abe Pantai juga konfirmasikan bahwa Hilarius Gombo mengalami ganguan jiwa dan telah dua kali masuk rumah sakit jiwa. (Benny Mawel)

Sumber :  www.tabloidjubi.com