Pages

Pages

Rabu, 17 September 2014

POLA PENDEKATAN INDONESIA, TIMBULKAN KONFLIK

Pemaparan materi Tim Peneliti Teluk Bintuni dan Lembah Baliem (Jubi/Mecky)
Yogyakarta, 15/9 (Jubi)  – Orang Lembah Balim mengalami dua masa pola pendekatan yang berbeda, yakni masa Misionaris Katolik dan Kristen serta masa pemerintah Indonesia.

”Orang Balim menerima dengan baik para misionaris serta pendekatan pendidikan yang dijalankan karena pola pendekatannya sederhana dan merakyat” ujar Dr. C. Wisnu Nugraha, dosen Sastra Nusantara UGM dalam seminar bertajuk Perjumpaan budaya lokal dan global pada masyarakat Teluk Bintuni dan Lembah Balim di ruang Grafika, Hotel UC UGM, 15/9.

Dr. Wisnu yang juga anggota tim peneliti terkait topik di atas menambahkan, pendekatan yang dinilai sukses itu tidak  dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia namun menggunakan pendekatan yang berbeda sehingga menimbulkan konflik,

“Awalnya setelah misionaris langsung membina orang asli, kemudian dibina oleh para guru tamatan Sekolah Pendidikan Keguruan (SPG) dan ini masih baik. Namun pemerintah Indonesia dengan pola pendidikan Inpres, semua wajib berseragam, semua wajib membayar, wajib duduk di kursi dan mencatat di atas meja, maka terjadi kesulitan untuk menyesuaikan apalagi mencari uang untuk membayar biaya sekolah anak” ujarnya.

Albertus Heryanto, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura menambahkan, pertemuan budaya dalam hidup beragama, menyampaikan perjumpaan secara langsung orang Balim dengan dunia luar terjadi tahun 1938 oleh tim ekspedisi kemudian oleh misionaris.

Lanjut Heryanto, kehadiran misionaris lebih khusus dari katolik diterima baik oleh orang-orang Lembah Baliem. Hal itu ditandai dengan telah terjadinya inkulturasi antara ajaran agama katolik dengan budaya Lembah Balim.

Seminar bertema “Perjumpaan budaya lokal dan global pada masyarakat Teluk Bintuni dan Lembah Balim sebagai respon budaya-budaya terhadap penyusupan dan penyisipan sosial, ekonomi, politik serta budaya modern”  ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Asia Pasifik UGM dan dihadiri oleh puluhan mahasiswa jurusan antropologi maupun jurasan lain dari kampus UGM. (Jubi/Mecky)

Sumber : www.tabloidjubi.com/