Pages

Pages

Rabu, 10 September 2014

KONFLIK PAPUA, PENGKONDISIAN MENGHABISI ORANG PAPUA?

Peta Papua (Doc.Jubi)
    Jayapura, 10/9 (Jubi) – Dewan Nasional Papua (DNP) menilai hidup orang Papua terancam bersama orang barbar yang mencari keuntungan. Kata-kata mereka mengandung racun kebencian dan rasialis yang mengancam eksisnya orang Papua di negeri Papua Barat.
    Mereka melemparkan kataka-kata yang membedakan orang gunung dan pantai. Orang Papua dan non Papua. Orang pintar dan bodoh. Orang kaya dan miskin. Orang pedesaan dan perkotaan dari pedalaman gunung hingga persisir pantai.
    “Kata-kata ini memupuk konflik,” kata Engelbertus Surabut, ketua DNP kepada jubi melalui pesan singkat, pada Rabu (10/9), di Abepura, Kota Jayapura, Papua.
    Kata-kata mereka itu telah merasuk jiwa, membentuk jarak, pola, cara padang satu terhadap yang lain. Mereka yang menjadikan itu bagian dari kehidupan, mulai keluar mengambil bagian ke dalam kelompok yang suka memeras dengan bahasa kasih, keadilan dan kesejahteraan kosong.
    Kasih yang pura-pura mulai bermain api membakar jiwa warga Papua maupun yang mendatangi Papua. Mereka menyebarkan kabar kejahatan yang sangat sadis. Warga mulai menghadapi kasus teror dan pembunuhan warga warga Papua maupun non Papua, warga gunung maupun persisir dari satu wilayah ke wilayah lain.
    Surabut mencontohkan pembunuhan sejumlah tukang ojek, warga sipil, sopir taxi, pedagang di Puncak Jaya, Jayawijaya, Jayapura, Mimika, Merauke dan Sorong. Pembunuhan yang sangat sadis terjadi di Mimika, Sorong dan Keerom lima bulan terakhir dalam tahun 2014 ini.
    Di Mimika, misalnya, penemuan mayat Korea Waker, kepala suku Dani, tanpa kepala. Di Jayapura, terjadi konflik antara penjudi dan Polisi di pasar Youtefa. Di Sorong, penemuan mayat ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Martinus Yohame tewas dalam karung dengan kaki tangan terikat tali dan mayat Catur Widiastuty tewas dalam kondisi berbadan di Arso I, Keerom.
    Menurut Surabut, mereka yang berkepentingan terus mengobarkan kebencian melalui media sosial. Foto-foto mayat berlumuran darah, tanpa anggota tubuh yang benar hingga hoax atas nama peristiwa yang telah terjadi disebarkan untuk memancing emosi warga.
    “Saya mengikuti media sosial. Orang mulai sebarkan infromasi, membangun diskusi. Misalnya, ada yang bertanya, orang mana yang melakukan ini. Kita ramai-ramai balas ka?” kata Engelbertus.
    Surabut mencontohkan konflik di Mimika pasca penemuan mayat Korea Waker. Orang-orang yang tidak tahu menahu menjadi korban. Mayat-mayat korban kena benda tajam. Timah panas aparat maupun panah berserahkan di jalanan.
    Kejadian yang sama terjadi di Arso. Orang-orang yang menamakan diri keluarga Nusantara dari berbagai Lokasi Trans mendatanggi tempat kejadian pembunuhan Catur Widiastuty. Mereka secara spontan mencari dan membakar 21 rumah warga yang dianggap keluarga pelaku.
    Menurut, ketua Dewan Adat Papua (DAP) wilayah Lapago, Lemok Mabel, perilaku warga yang melakukan pembakaran rumah pasca pembunuhan ini sangat aneh.
    “Mereka ko tahu rumah mana yang harus mereka bakar. Sementara mereka ini datang dari lokasi yang berbeda. Siapa yang memerintahkan ini?” tanya Lemok serius.

    Lemok menilai ada yang berusaha memancing emosi warga pemilik rumah. Ada yang sedang berusaha menerapkan sistem sabung ayam antara warga negara di Papua.
    Menurut Lemok, ada dua dampak yang muncul. Pertama, mereka yang berkepentingan berhasil menyebar kemarahan meluas ke seluruh daratan. Kedua, mereka menyebar ketakutan pada semua warga. Anak-anak hingga ibu menjadi takut dan menangis. Ketakutan menguasai warga.
    Kalau emosi menumpuk, menurut Lemok, mereka yang tidak menahan emosi pelan-pelan bisa melampiaskannya. Pelampiasan emosi bisa melalui kata-kata dan tindakan kekerasan pemukulan, pembunuhan, pengerusakan fasilitas dan pembakaran rumah.
    Menurut Surabut, kalau ini yang terjadi, darah dan air mata akan terus mengalir dari waktu ke waktu. Upaya pihak-pihak tertentu menghabisi orang Papua berjalan lancar.
    “Pengkondisian dengan target menghabisi etinis bangsa Papua Ras Melanesia di negeri Papua Barat,” tuturnya.

    Warga sulit memastikan ujung dari semua ini. Karena itu, Surabut berharap kesadaran warga Papua membaca semua rencana.
    Kalau orang asli Papua tidak mampu membaca rancangan jahat, penghabisan orang Papua dari daratan Papua suatu keniscayaan. “Kita menghadapi kondisi ini dengan fisik, kekhawatiran jumlah orang asli Papua sedikit ini akan punah,” tegasnya.
    Karena itu, Surabut mengajak seluruh warga Papua Barat mempersatukan barisan, melakukan perlawanan secara etis.
    “Lawan dengan cara damai, sopan santun serta dialogis,” ajaknya. Kalau perlawanan damai itu berjalan, Surabut yakin semua persoalan dapat selesai dengan baik.

    Sementara itu, Lemok mengharapkan adanya satu pengakuan hukum yang jelas terhadap orang asli Papua. Kalau mereka warga negara yang perlu dilindungi pemerintah mesti ada jaminan hukum yang jelas.
    “Kita butuh perlidungan hukum yang jelas sebagai warga negara,”tegasnya. (Jubi/Mawel)