Pages

Pages

Kamis, 31 Juli 2014

SAMPAI KAPANKAH KAMI BELAJAR DALAM SITUASI INI?

Spanduk dalam demo FK Uncen (Jubi/Mecky)
Jayapura,30/7—Bhen, Sinthike, Ghaema dan Ahyub yang mengikuti kuliah Farmakologi (ilmu tentang obat) siang itu  duduk berdampingan dan berdesak-desakan. Satu ruangan itu tidak mampu menampung ratusan mahasiswa. Pihak kampus mempertahankan situasi itu tanpa alasan dan penjelasan yang masuk akal.

Herannya,  ratusan mahasiswa itu tidak pernah menyoal kampus mereka. Mengapa kampus mereka kekurangan fasilitas hingga kekurangan tenaga pengajar? Apakah sistem perkuliahannya berjalan sesuai dengan standard pendidikan kedokteran atau tidak?

Mereka tutup mulut. Mereka lebih memilih datang, duduk, dengar, demam, dan pulang. Mereka menikmati itu sangat biasa saja dari hari ke hari. Mereka yang baru tidak mungkin menyoal budaya diam kecuali masuk menjadi aktor baru. Entah sebagai mahasiswa maupun dosen.

“Keadaan ini menjadi sesuatu yang biasa. Kita ikuti saja proses yang sedang terjadi,”tutur para dosen yang hari-hari jungkir balik berhapan dengan ratusan mahasiswa. Panitia penerima mahasiswa baru copy paste pesan kebiasaan itu kepada mereka yang baru.

“Sampai kapan? Kami akan terus belajar dalam situasi seperti ini?”tutur Ghaema, mengelus ruangan yang sesak dan panas sambil membasuh keringat yang terus mengalir di wajahnya yang cantik hitam manis.

Ungkapan itu terlontar begitu saja dengan nada yang datar tetapi terdengar tegas dari tekanannya suaranya.

“Itu lagi. Ini sudah semester 6 baru trada perubahan ini bagaimana? Bukannya setahun lagi, kita akan wisuda? Apa yang mau dibanggakan jika cara belajar dan situasi kampus seperti ini?” tutur Sinthike merespons Ghaema, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kawan, 12 tahun fakultas kedokteran ada di atas tanah Papua ni. Dari tahun ke tahun, bukannya bertambah baik tetapi ini malah menjadi statis, bahkan berkembang mundur.

“Mahasiswa angkatan awal yang su jadi dokter tu dong andalan-andalan e…??? Mereka mungkin karena masih hangat-hangat jadi bagus e….??? Saya pikir kitong skarang ni bisa jadi seperti dong ka tra e…??? Adoo sa mau jadi dokter tapi macam situasi tra mendukung ka??,”Sintikhe menyoal.

“Io kawan, Apalagi dengan satu pemimpin yang sama dia pasti jenuh makanya proses penyelenggaraan pendidikan fakultas ini semakin buruk. Kemungkinan akibat kejenuhan memimpin dan merangkap tugas. Saya pikir dia butuh istirahat dan kosentrasi pada satu subbidang tugas penyelamatan manusia Papua” imbuh Ghaema.

“Kamu, kalau tidak salah, sa dengar tu, kampus ini implementasi Otonomi Khusus Papua, tetapi mengapa pemerintah daerah ini tra pernah tambah fasilitas gedung belajar yang lebih efektif ka? Masa kita belajar begini-begini terus besok kita mau menyembuhkan atau membunuh ini? Kita bisa-bisa menjadi pembunuh berdarah dinggin dengan sistem pembodohan ini,” sambung Ahyub yang sedari tadi hanya mendengar.

“Kalau memang kampus ini implementasi Otsus, pasti akan ada dana yang dianggarkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten tiap tahunnya untuk kedokteran. Saya pikir tidak mungkin tidak ada aggarannya. Saya pikir ada dananya, hanya hilang masuk ke lubang kantong tikus kampus,” sahut Bhen ketus.

“Kalau begitu, mesti ditelusuri perjalanan dana itu, takandas di kamar mana? Masa kita mahasiswa dirugikan sementara pemimpin menutup mata dan berbuat seolah-olah semua yang ada baik-baik saja dan masih dalam batas kewajaran ini tidak benar dan ini satu proses pembunuhan,” sambung Ahyub lagi.

Keringat terus mengucur diwajah tiap mahasiswa karena suhu dalam ruangan yang sangat panas. Panas cuaca di luar ruanganmaupun karena panas tubuh yang ada dalam ruangan. Ruangan merubah seperti oven dan mahasiswa seperti roti yang sedang dipanggang.

Karena itu, sejak 10 menit awal pertemuan, mahasiswa sudah tidak dapat berkosentrasi dengan materi yang disajikan. Sebagian besar mahasiswa memilih berpura-pura mengikuti kuliah, walaupun mereka sudah sangat ingin meninggalkan ruangan.

Ruangan sangat sempit hingga memuntahkan mahasiswa harus duduk hingga di koridor. Mereka duduk dalam rungan saja kehilangan kosentrasi, apali mereka yang duduk diluar. Mereka mencari jalan mengtasi apa yang mereka rasakan. Ada yang membuka laptop untuk menghilangkan rasa bosan atau mempersingkat waktu ceramah atau seminar di ruang kuliah itu.
Bhen memperhatikan situasi ruangan dan menggelengkan kepala. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan dengan kasar.

“sudah tiga tahun kami belajar, dengan situasi dan kondisi yang sangat tidak mendukung. Ini lebih seperti formalitas supaya orang mengatakan ada fakultas kedokteran di Papua, pemimpin di fakultas ini saja tidak pernah ada di tempat lalu bagaimana persoalan-persoalan real ini bisa terselesaikan?” ungkap Bhen dengan kesal.

Ungkapan itu menarik perhatian Ghaema, Sinthike, dan Ahyub tidak konsentrasi belajar. Mereka berkostrasi kepada ungkapan Bhen dan sibuk mempersoalkan keadaan yang sungguh sangat tidak mendukung proses belajar itu.

“Kebanyakan pemimpin berkoar-koar untuk meningkatkan angka kesejahteraan rakyat Papua tetapi mereka tidak kerja untuk mewujudkannya. Papua ini banyak kematian sebelum waktunya. Banyak orang mudah mati karena penyakitt dan luka. Fakultas kedokteran mesti memberikan jawban atas situasi itu, namun apakah dengan realita belajar yang seperti ini semua harapan dapat tercapai?

Saya pikir tentu akan sangat sulit. Tempat pendidikan yang mempersiapkan manusia mengatasi masalah itu sungguh menjadi tempat yang formalitas belaka. Orang pikir yang penting ada fakultas kedokteran, ada sertifikat para lulusannya tanpa memperhatikan kualitasnya. Sangat memprihatikan”, tutur Bhen panjang lebar.

“Itu lagi! Jadi ini sebenarnya dana Otonomi Khusus Papua su sampe di Fakultas kedokteran ka belum ni? Kalau belum mengapa ada fakultas ini? Kalau sudah, hilang dikamar mana ni? Pasti ada yang sangat bertanggung jawab untuk semua ini? Dia itu yang paling tahu kamar-kamar FK ni jadi dia yang ada di kamar mana ni?” tambah Ahyub

Pernyataan itu membuat situasi berubah. Suasana ruangan menjadi tenang dan sunyi. Dosen menghentikan ceramah panjangnya. Teman-temannya sesama mahasiswa menatap Bhen dan berpikir apa yang akan terjadi.

“Nanti tunggu sms saja dari ketua kelas kapan lagi kita kuliah. Saya ada mau keluar kota jadi, selamat siang…” kata dosen sambil mengambil tasnya dan keluar ruangan. (Auragahe/Mawel)

Sumber :  www.tabloidjubi.com