Pages

Pages

Jumat, 18 Juli 2014

“PEMEKARAN MEMBUAT HANCURNYA TATANAN’ HIDUP MASYARAKAT SETEMPAT

(Ilustrasi Foto summber www.Acehterkini.com)
O l e h :  A l e x a n d e r  P a k a g e

Di dalam penulisan ini penulis hanya menguraikan realita kehidupan Masyarakat dan Pemerintahan Kabupaten Dogiyai setelah pemekaran yang perna dan sedang di alami, di lakukan dan berlangsung yang penulis lihat dengan mata dan dengar dengan Telinga sendiri, karena penulis sebagai anak asli Kabupaten Dogiyai. Tetapi penulis tahu bahwa pada intinya permasalahan yang di alami masyarakat dan sodara-sodara yang ada di Daerah Otonom baru Kabupaten lain di PAPUA itu semuanya pasti sama.
 
Dogiyai adalah Daerah Otonom Baru yang dimekarkan pada tahun 2008, Dengan pemekaran itu, masyarakat mengharapkan; Pemekaran ini membawah berkah namun nyatanya tidak. Pemekaran membawah trauma dan Malapetaka bagi Masyarakat setempat. APA yang TERJADI dan BERLANGSUNG saat ini…?

>>>>> Jalannya ronda pemerintahanpun berantakkan. Pembangunan di semua bidang majet total. Masalah-demi masalah tertumpuk. Anak-anak yang berumur sekolah jadi anak jalanan. Pemuda-pemuda jadi tukang-tukang palang jalan raya. Mama-mama Papua asli daerah Dogiya yang biasa jual hasil kebunpun jadi terusir dan terpinggir. Budaya Asing menghantam tatanan Hidup Masyarakat Asli Dogiyai yang harmonis. Akibatnya 100 Permasalahan baru bermunjulan, di kalangan Masyarakat Dogiyai, baik di kalangan Kaum Bapa, Kaum Ibu, anak remaja, pemuda-pemudi, Gembala – Pendeta, Katagis, Guru-guru. Semuanya yang dulunya hanya tahu satu masalah jadi tahu dan terpengaruh dengan 100 masalah (sebagai Bapa mengusahakan Rumah, Kayu Bakar, Daging dll; sebagai Ibu mengusahakan kebun dengan cara menanam dan merawat untuk memnuhi makanan pokok sekeluarga; sebagai guru selalu mengaar mengabdi di SD dimana dia ditempati; Sebagai Hamba Tuhan menyiapkan kebenaran dan menyampaikannya pada hari minggu; sebagai pemuda-pemudi selalu hanya sibuk dengan Kegiatan-kegiatan Rohani; sebagai remaja selalu dengan semangat yang berpudar setiap hari minggu ke Gereja) kesemuanya kini hilang lenyap. Mereka sangat di pengaruhi dengan berbagai Budaya luar membuat kegiatan pokok mereka yang turun-temurun sudah lupa. Mereka di pengaruhi dengan berpolitik, perjudian baik togel maupun minuman beralkohol membuat korban Jiwa semakin bertambah. Mereka sangat di pengaruhi dengan kegiatan-kegiatan yang tidak ada faedahnya.

Di dalam arena politik dan perjudian serta minum mabuk membuat mereka saling bertengkar, saling mengejek, saling menjelekkan bahkan sampai baku bunuh dan jadikan masalah abadi bagi kelangsunagn hidup mereka. Mereka mengandung yang busuk dan melahirkan pulah yang busuk. Mereka di pimpin oleh otak-otak yang virus, maka virus itu semakin berkembang pula.

Di bagian birokrasi di tutupi oleh nyamuk-nyamuk malaria yang berperut diut dari luar Papua, akhirnya anyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah-darah pejabat daerah. Akhirnya otak para pemimpin Daerah baik semua Kepala Dinas, sekda asisten, Bupati dapat Malaria Tropika Pres 4,5 dan 6 sehigga mereka beterbangan lewat Jendela dan lobang-lobang yang ada digedung yang mereka tempati. Mereka makan di Nabire Berak di Jawa-Jakarta, minum di Jakarta kencing di Dogiyai.

 Tidak ada yang emosi untuk berniat yang baik, membangun dan memajukan. Tdak ada yang tulus dan iklas sama masyarakat. Tidak ada yang balas jasa Orang Tua, mereka berlaku seperti Malinkundang. Guru-guru yang dulu selalu mengabdi di SD untuk memanusiakan manusia yang seutuhnya, tanpa kenal lelah kini berlomba-lomba untuk laki ke arena politik (calon DPR). Mereka juga berlombah-lombah untuk memiliki gelar dengan intinya besok selesai dapat gelar mau jadi Kepala bagian, Camat, Bahkan sampai mau calon Bupati.

Dengan ini sebagai kesimpulan saya hanya tiga pertanyaan bahwa “ Bapak - Bapak Senior yang ada di Birokrasi dan kaka-kaka Senior yang ada di DPR Mau bawah kemana kita punya Daerh ini….? Mau bawah kemana kita punya anak-anak dan Masyarakat…? Kapan mau Prioritaskan Pendidikan, Kesehatan Dan Ekonomi pada Masyarakat asli Daerah Kabupaten Dogiyai…?
Ini semuanya terjadi hanya karena pemekaran liar yang tidak memenuhi syarat-syarat pemekaran.


Dengan demikian akhirnya penulis mengharapkan bahwa Masyarakat dan Sodara-sodara Orang asli Papua yang akan membaca artikel ini, tolong sosialisaikan dan sampaikan kepada masyarakat lain (orang asli Papua) bahwa Pemekaran itu membawah ;” MALAPETAKA BAGI KITA”, maka mulai hari ini (kapan, hari apa, dan tanggal berapa anda membaca dan memahami tulisan ini ) keatas kita harus, TOLAK,TOLAK, TOLAK dan TOLAK. KARENA PEMEKARAN ADALAH MALAPETAKA DASYAT YANG BERPOTENSI MENCECER DAN MEMUSNAKAN BAGI PENDUDUK ASLI PRI BUMI PADA KHUSUSNYA DAN RAKYAT BANGSA PAPUA RAS MALANESIA PADA UMUMNYA.
 
Penulis adalah Mahasiswa asal Dogiyai yang Kuliah di Jurusan Keguruan
 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Cenderawasih Jayapurapapaua 
 
Sumber :  www.umaginews.com