Pages

Pages

Senin, 30 Juni 2014

TERUNGKAP, PENYEBAB 20 MAHASISWA STIP-AN DEMO KANTOR PENGHUBUNG PAPUA DI JAKARTA

Orang Tua 20 Mahasiswa STI-PAN (Ronny/Jubi)
Jayapura,29/6(Jubi) Penyebab 20 puluh mahasiswa asal Jayawijaya menduduki kantor penghubung Provinsi Papua di Jakarta sehingga menyebabkan mereka ditahan Metro Jakarta Selatan, akhirnya terungkap, menyusul adanya tanggapan pihak Pemkab Jayawijaya terhadap aksi para orang tua mahasiswa yang ditahan.

Ternyata, puluhan mahasiswa itu berunjuk rasa di kantor penghubung di Jakarta karena ingin mendapatkan perhatian dari Pemkab Jayawijaya yang tidak membayar kuliah mereka di STIP-LAN sehingga mereka tidak bisa kuliah pada tahun ini.

Pihak Pemkab Jayawijaya tidak membayar biaya kuliah mahasiswa asal daerahnya itu dengan alasan pada 2014 mengalami defisit anggaran.

Para orang tua mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmi Pemerintahan dan Administrasi Negara (STIP – AN) Asal Jayawijaya yang ditahan di Polres Metro Jakarta Selatan, beberapa hari lalu, berunjuk rasa di kantor Buapati Kabupaten Jayawijaya Wamena (26/06/14).

Mereka menuntut pemerintah Jayawijaya segerah bertanggung jawab atas penahanan 20 mahasiswwa STIP – AN asal Jayawijaya oleh Polres Metro Jakarta Selatan akibat mereka menduduki kantor penghubung di Jakarta. Hingga kini para mahasiswa itu  masih ditahan di Polres Metro Jakarta Selatan.

Pada aksi tersebut para orang tua / wali itu memasang sejumlah pamflet berisi tuntutan kepada Pemkab  Jayawijaya untuk segera bertanggung jawab.

Salah satu orang tua dalam kesempatan tersebut mengatakan jika pemerintah tidak mampu membiayai mahasiswa Jayawijaya, pihaknya atas nama semua orang tua Mahasiswa STIP-AN, meminta agar anak-anak mereka segera dipulangkan.

Menanggapi aksi tersebut, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya melalui Asisten Dua Sekda, Gaad Piramid Tabuni, SP, M.M.,  mengatakan bahwa awalnya Pemda merencanakan untuk membiayai mahasiswa yang kuliah di  salah satu perguruan tinggi swasta  di Jakarta Selatan. Namun, kata Tabuni, pada tahun 2014 ini anggaran Pemda Jayawijaya sangat terbatas karena mengalami difisit yang tinggi sehingga Pemda  tidak membayar biaya perkuliahan dan mahasiswanya tidak bisa mengikuti kuliah.

“Kami waktu itu berjanji untuk menganggarkan. Tetapi, kondisi keuangan Pemkab  saat 2014 ini defisit tinggi sehingga janji itu tidak bisa terlaksana. Akibatnya, tahun ini  anak-anak ini tidak bisa ikut kuliah karena kewajiban mereka belum disetor,” ungkap  Gaat Tabuni.

Menurut Tabuni,  sejak beberapa waktu lalu pihaknya telah menyampaikan hal ini kepada Bupati Kabupaten Jayawijaya untuk bertemu perwakilan mahawsiswa yang ada di Jayawijaya. Namun,  karena adanya agenda penting yang harus diselesaikan sehingga pada aksi tadi Bupati tidak menghadirinya.

Tabuni mengatakan,  Bupati Jayawijaya Wempi Wetipo menginginkan adanya solusi untuk menyelesaikan persoalan ini secara bijaksana. “Tentunya kebijakan menyangkut pembiayaan,” ujarnya.

Sementara itu, terkait penahanan 20 mahasiswa STIP-AN di Polres Metro Jakarta karena menduduki kantor penghubung, Tabuni mengatakan hal itu di luar dugaan Pemda Jayawijaya. Menurut Tabuni, tidak mungkin pihak aparat menahan hanya karena menyampaikan aspirasi.

Menanggapi Jawaban Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Musa Mawel, perwakilan mahasiswa STIP-AN, mengaku  tidak puas. Jawaban itu menurut Musa  tidak bisa memberikan kepastian. Padahal, kata Musa,  hingga saat ini 20 mahasiswa masih berada di tahanan Polres Jakarta selatan.

Ia juga mengaky kecewa karena dari sejumlah pejabat Pemda yang ditemua sejak beberapa hari lalu tidak ada satu pun yang bisa memberikan jawaban memuaskan. Hingga pada aksi orang tua kemarin pun tidak ada jawaban kepastian.

“Saya sudah lama datang ke sini.  Semua pejabat yang saya temua menolak.  Saya tidak tahu siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab.  Sampai dengan aksi orang tua hari ini juga belum ada jawaban pasti. Padahal, teman-teman saya masi di tahanan sampai detik ini,”ujar Mawel.

Mawel memintah agar Pemerintah Kabupaten Jayawijaya segera mendatangi Polres Jakarta Selatan untuk menemui mahasiswa yang ditahan, kemudian menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi. “Saya atas nama teman-teman mahasiswa yang masih ditahan minta Pemerintah Daerah turun menemui mereka yang masih disel, untuk kita bicarakan sama-sama,” ujarnya.

Sebelumnya, tabloidjubi.com menulis, “pada 25 juni 2014 jam 02:00 WIB Polresta Metro Jaya Jakarta selatan melakukan penjemputan paksa mahasiswa/I STIP_AN asal pengirim Pemda kabupaten Jayawijaya yang menduduki kantor penghubung Propinsi Papua di Jalan SuryoNo. 60 Kebayoran Baru Jakarta Selatan,” pesan Musa Mawel kepada tabloidjubi.com dari Jakarta, 25/6

Menurut Mawel, penjemputan paksa itu di lakukan  Polres a Metro Jaya Jakarta Selatan dengan alasan mahasiswa itu menganggu aktivitas perkantoran badan penghubung Provinsi Papua di Jakarta yang diduduki oleh mahasiswa/I STIP-AN Jakarta asal Kabupaten Jayawijaya selama dua hari dua malam. (Ronny Hisage/Mawel/Jubi)

Sumber :  www.tabloidjubi.com