Pages

Pages

Senin, 26 Mei 2014

ROMBONGAN PEJABAT DINAS MIMIKA DAN LPMAK TERBALIK DENGAN PERAHU DI MUARA AINDUA

Salah Seorang korban perahu terbalik yang di evakuasi ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) di Kota Timika. (Jubi/Istimewa)
Timika, 21/5 (Jubi) – Perahu yang membawa rombongan Pejabat Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Dikdasbud) Kabupaten Mimika dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK), dihantam gelombang laut di muara Kampung Aindua, Distrik Mimika Barat, Selasa (20/5) sekitar Pukul 05.00 Wit, saat akan meninjau pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Sekolah Dasar (SD) Kipia. Akibatnya, perahu terbalik. 

Sekretaris Dinas Pendidikan Dasar, Yonas Lewerisa saat ditemui di Hanggar Bandara Moses Kilangin membenarkan musibah tersebut. 

Kata Yonas, di dalam rombongan itu terdiri dari Fitria Fivie Palenewen (Ka.Dikdasbud), Yosefina Daidore (Wartawan Timex), Lamek Fadiban (Ajudan Kadis), Dominggus Kapiyauw (Kabid Paud dan SD), Markus Wora (Biro Pendidikan LPMAK), Yance Meyauw (Biro Pendidikan LPMAK), Paul Weti (Ketua Yayasan YPPK Tilemans) dan Vincen Ngamel (Motoris).

Menurutnya, rombongan bertolak dari pelabuhan Poumako pada Minggu (18/5), sekitar pukul 11.00 Wit, dengan tujuan Kampung Aindua untuk membuka pelaksanaan UN Tingkat SD di YPPK Aindua. 

Selain itu, rombongan juga berencana memantau pelaksanaan ujian di SD Kipia. “Mereka melakukan kegiatan pembukaan UN tingkat SD yang dipusatkan di SD YPPK Aindua Mimika Barat Jauh,” kata Yonas yang juga sebagai Ketua Panitia Ujian Nasional Tingkat SD dan SMP.

Sementara itu, Kapolsek Potowaiburu, Inspektur Dua (Pol) Barnabas yang ditemui di tempat yang sama usai melakukan evakuasi korban dari Kampung Aindua ke Kota Timika mengatakan, saat itu rombongan usai melakukan pembukaan UN di SD Aindua, Senin (19/5). 

Namun pada, Selasa (20/5) sekitar pukul 05.00 Wit, rombongan bertolak ke Kampung Kipia untuk melakukan monitoring di SD Kipia. Di saat rombongan melewati muara Kampung Aindua, perahu yang mereka tumpangi kandas dengan posisi melintang.

Ketika gelombang pertama penumpang melompat, ketika datang gelombang kedua perahu miring dan gelombang ketiga langsung perahu tertelungkup. Kebetulan tempat tersebut dangkal sehingga rombongan masih bisa ditolong masyarakat,” jelas Kapolsek.

Dijelaskan Kapolsek, saat dirinya dan tim evakuasi dari E mergency Rescue PT Freeport Indonesia mendarat di halaman sekolah, seluruh korban sudah dievakuasi ke rumah salah satu guru. Sehingga dalam melakukan evakuasi hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga menit.

Dalam waktu tiga menit korban dievakuasi ke dalam copper dan dibawah ke bandara Timika. Mereka dievakuasi atas bantuan sepenuhnya masyarakat ke perumahan guru. Tim penyelamat hanya melakukan penyelamatan dan selama evakuasi tidak ada hambatan. Semua berjalan mulus,” jelas Kapolsek.

Ditambahkan Kapolsek, empat korban yang dievakuasi pertama dalam kondisi lemas. Namun dua korban masih bisa berjalan. Sementara dua korban lainya, termasuk Fitria Fivie Palenewen, Kadis Diknas Mimika harus ditandu, karena diduga terlalu banyak menelan air laut.

Dalam proses evakuasi dikatakan Kapolsek, dilakukan sebanyak dua kali dengan menempuh waktu perjalan dari dari Timika ke Kampung Aindua selama satu jam. “Sementara kondisi perahu yang ditumpangi berwarna biru berbahan viber, sudah berada di pinggir pantai dan masih bisa untuk diamankan,” ujarnya.

Kasus kecelakaan laut yang terjadi di muara Kampung Aindua ini, lanjut Kapolsek, bukan yang kali pertama. Kejadian yang sama sudah pernah juga terjadi sebelumnya, karena kondisi muara terlalu dangkal, sehingga apabila melewati wilayah itu harus menunggu air pasang.

Sering ada kejadian seperti itu karena kondisi muara terlalu dangkal. Sepertinya perahu yang mungkin terlalu cepat keluar, sering mengalami kendala seperti itu,” kata Kapolsek.

Dari pantauan di Hanggar Bandara Moses Kilangin sejak pagi, keluarga dan kerabat sudah menantikan kedatangan korban dari Kampung Aindua, terlihat juga Penjabat Bupati Mimika, Ausilius You.

Sekitar pukul 11.20 Wit, empat korban yang dievakuasi pertama dengan menggunakan Helikopter Airfast tiba di bandara Moses Kilangin. Mereka adalah Fitria Fivie Palenewen (Ka.Dikdasbud), Yosefina Daidore (Wartawan Timex), Dominggus Kapiyauw (Kabid Paud dan SD) dan Markus Wora (Biro Pendidikan LPMAK). 

Setibanya di hanggar bandara, empat korban kemudian langsung dibawa ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) dengan menggunakan mobil Ambulance yang sudah disiapkan sejak pagi.

Sekitar pukul 13.20 Wit, empat korban lainnya adalah Lamek Fadiban (Ajudan Kadis), Yance Meyauw (Biro Pendidikan LPMAK), Paul Weti (Ketua Yayasan YPPK Tilemans) dan Vincen Ngamel (Motoris) tiba di Bandara Moses Kilangin. Selanjutnya, keempat korban juga dibawa ke RSMM untuk menjalani perawatan.

Dominggus Kapiyau, salah satu korban selamat menceritakan, perahu yang mereka tumpangi diterpa ombak. Peritiwa itu berlangsung begitu cepat dan membuat perahu terbalik. Semua penumpang saat itu berada di luar badan perahu, terkecuali Fitria Fivie Palenewen (Ka. Dikdasbud), Yosefina Daidore (Wartawan Timex) yang sejak perahu diterpa ombak berada di bagian dalam perahu.

Sehingga pada saat kejadian, mereka berdua masih di dalam perahu. Dalam keadaan panik, kami berusaha saling tolong, meskipun kondisi kami masing-masing lemas. Tapi kami semua berusaha untuk selamat sampai adanya bantuan dari warga dengan menggunakan perahu kayu,” tutur Dominggus.

Hal senada juga di disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Tilemans, Paul Weti, salah satu penumpang perahu itu.

Saat perahu sudah terbalik, saya hanya bergantungan pada bagian perahu karena pesan orang tua-tua dahulu, kalau perahu terbalik penumpang harus tetap berpegang pada perahu terlebih jika adanya gelombang. Dengan nasehat itulah saat kejadian, saya hanya berpegang pada badan perahu karena ombak cukup besar,” katanya.

Saat bergantungan di badan perahu, katanya, dia meraba-raba dalam air dan saat itulah dia mendapatkan kaki wartawan menariknya keluar dari dalam perahu dan bergantungan di badan perahu. 

Kondisi wartawan ini cukup mengkhawatirkan karena banyak minum air dan menyebabkan muntah-muntah sampai lemas. Tetapi puji Syukur kami semua selamat dan bisa bertemu dengan keluarga kami masing-masing setelah melawan ombak di lokasi terbaliknya perahu kami,” ungkapnya. (Jubi/Eveerth)

Sumber :  www.tabloidjubi.com