Pages

Pages

Senin, 26 Mei 2014

Renungan Pileg 2014 Bagi Bangsa Papua

Victor Yeimo Ketua Umum KNPB
Pemilu Legislatif  (Pileg) Indonesia 2014 memang kacau balau. Anda yang kalah -secara wajar atau tidak wajar- tidak perlu kecewa, stress, apalagi mengomel dan memberontak. Anda yang menang akan terlahir sebagai politisi busuk, karena politik kolonial Indonesia memang busuk. Ibarat air jernih dimasukan kedalam wadah yang kotor, begitulah politisi Papua yang masuk dalam wadah politik kolonial yang kotor akan menjadi kotor, sebersih apapun anda.

Kita menyaksikan taktik penghancuran Gerakan Atjeh Merdeka (GAM) oleh politik kolonialisme Indonesia. Kekuatan politik GAM yang mengambil jalur kompromi melalui Parlemen dihancurkan Jakarta melalui politik pecah belah dalam Partai Aceh (PA) dan Partai Nasional Aceh (PNA). Tentu ini bikinan BIN dan Kopassus yang memanfaatkan politisi Aceh yang haus kekuasaan. Kesepakatan Helsikie tidak dihormati Jakarta, Otsus Atjeh pun berjalan setengah hati.

Orang Papua yang mengejar kekuasaan politik Indonesia dalam Pileg 2014 kemarin harus mengambil makna bahwa sistem berdemokrasi yang kacau balau adalah bukti kebobrokan penyelenggaraan sistem politik kolonial. Tidak akan pernah ada sistem demokrasi yang baik dalam kekuasaan politik kolonialisme. Sebaliknya, demokrasi yang bobrok tidak akan melahirkan politik dan politikus yang baik. Dan sudah tentu, janji-janji perubahan dalam kolonial Indonesia hanya menjadi ilusi semata.

Yang memprihatinkan juga, praktek ini tidak hanya membodohi, memanipulasi dan mengeksploitasi rakyat West Papua, tetapi membudayakan rakyat West Papua. Kalau ini terus membudaya, sudah tentu konflik sesama keluarga, sesama suku dan sesama bangsa- bangsa Papua- akan terbuka, persis seperti Afrika pada masa penjajahan Eropa. Tujuan kolonialisme di West papua mulai tercapai, yakni mempolarisasi dan mengkandangkan manusia Papua untuk ribut dan ‘baku bunuh’ dalam sistem politik kolonial Indonesia, sedang negeri yang kaya raya diduduki dan diambil sepenuhnya oleh Indonesia.

Kondisi ini tentu menjadi ancaman bagi gerakan pembebasan nasional West Papua, yang tidak hanya memiliki tujuan membebaskan teritori West Papua dari kungkungan kolonialisme Indonesia, tetapi juga dalam membentuk sistem politik yang demokratis dan terpimpin bagi rakyat West Papua kedepan. Kami sangat menolak proses pembentukan kelas kapitalis birokrat kolonial yang melahirkan ketergantungan rakyat bermental materialistik. Ini suatu proses degradasi martabat dan harga diri orang Papua diatas tanah Papua.

Sudah terlalu jauh kita terbawa dalam sistem berpikir kolonial. Sudah saatnya kita membuka realita Papua yang terselubung. Sudah waktunya kita menentukan langkah kita, menentukan arah politik kita. Yah, kita sendiri, tanpa Indonesia, yakni membangun struktur politik kita melalui Parlemen Rakyat Daerah (PRD) di seluruh wilayah West Papua. Sudah saatnya kita membangun lembaga politik sebagai tempat membangun nilai diri, ideologi, sistem berdemokrasi, sistem berpolitik kita sendiri. Kita pasti bisa!

Victor Yeimo, Ketua Umum KNPB