Pages

Pages

Selasa, 29 Oktober 2013

Spanduk penolakan gereja kian marak

Spanduk penolakan gereja kian marak   setelah sempat mereda. Penolakan warga Kelurahan Sudimara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang atas rencana pembangunan Gereja Paroki Santa Bernadet di kawasan tersebut kembali mengemuka.

Selain masih menutup akses keluar masuk ke lahan 7.000 meter yang rencananya akan dibangun gereja, kini spanduk penolakan atas rencana pembangunan gereja yang mengatasnamakan Forum Umat Islam Sudimara Pinang Bersatu mulai bermunculan.

Berdasarkan pantauan, Senin (21/10), setidaknya terdapat tiga spanduk berukuran besar berisi penolakan atas rencana pembangunan gereja terpasang di sekitar lahan yang akan dibangun gereja.

Spanduk pertama terpasang di ruas jalan menuju akses utama lahan gereja yang bisa langsung tembus ke Graha Regency. Spanduk kedua terpasang di akses utama yang langsung tembus ke kawasan Pasar Bengkok, Kecamatan Pinang. Sementara spanduk ke tiga justru terpasang di akses masuk ke lahan gereja yang melalui kawasan perkampungan warga di Kelurahan Sudimara.

Spanduk antara lain bertuliskan, “Menolak Keras Harga Mati Pembangunan Gereja dan Peribadatannya di wilayah Sudimara Pinang”.

Nur, seorang warga Kelurahan Sudimara saat ditemui SH mengatakan, pihaknya tetap akan menolak pembangunan Gereja Paroki Santa Bernadet.
“Pokoknya 99,9 persen warga di sini menolak rencana pembangunan gereja itu. Kalau tidak percaya, ente (Anda-red) bisa cek langsung satu per satu warga di sini,” katanya.

Menurutnya, pengurus Gereja Paroki Santa Bernadet sudah melanggar perjanjian di atas materai yang pernah ditandatangani dulu. “Pihak gereja tolong jangan remehkan aspirasi warga,” tegasnya.

Nur yang mengaku juga turut serta saat aksi demo warga memprotes rencana pembangunan gereja itu sebulan lalu itu menjelaskan, salah satu dasar penolakan warga adalah bahwa gereja itu akan dibangun di tengah permukiman.

“Kalau di kompleks sih terserah saja, tetapi kalau di tengah permukiman, ya tentu saja akan bersinggungan langsung dengan warga. Apalagi sejak beberapa bulan belakangan ini, yang datang beribadah justru berasal dari wilayah luar Tangerang,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Babe, warga setempat. Pria sepuh ini bahkan curiga bahwa gereja yang akan dibangun itu merupakan pusat dari kegiatan umat Katolik se-Jabodetabek.

Akhir September 2013, ratusan warga Kelurahan Sudimara, juga telah menggelar aksi demo menolak adanya aktivitas peribadahan yang berlangsung di rumah tinggal di atas lahan yang juga akan dibangun gereja tersebut.

Puncak dari protes tersebut, warga akhirnya menutup paksa akses utama keluar masuk ke lahan yang akan dibangun gereja. Penutupan dilakukan menggunakan bambu, balok kayu, dan triplek. Selain itu, warga memasang spanduk penolakan di ruas jalan yang sudah diblokade itu.

Asikin, warga Kelurahan Sudimara, yang memimpin jalannya aksi demo pada September lalu mengatakan, penolakan warga atas rencana pembangunan gereja sudah dilakukan sejak 1985.

Bahkan, keberatan warga kala itu sudah disepakati dengan pihak Gereja Paroki Santa Bernadet dan dituangkan dalam surat perjanjian bermaterai. Namun, sejak penandatangan kesepakatan dilakukan, pihak Gereja Paroki Santa Bernadet yang awalnya berada di Kompleks Tarakanita masih saja menggelar ibadah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar