Pages

Pages

Kamis, 24 Oktober 2013

Mencari Tanah Leluhur Sampai Mendirikan Sebuah Rumah Sebagai Pondasi Hidup

Biar pun tanahnya tandus, biarpun tanahya penuh dengan rawah; itulah tanah leluhurku yang membentuk karakter saya

Selama saya berada dibawah umur 18 tahun, sama sekali saya tidak mengetahui tanah leluhur saya “tanah milik Yamekopa”. Namun saat itu saya menyadari bahwa, wajar saja saya tidak mengenal tanah milik saya karena memang saat itu saya masih disebut kanak-kanak yang hanya sibuk dengan berbagai macam permainan.
Bapak saya adalah alat Negara yang difungsikan dalam bidang memanusiakan manusia melalui didikan yang formal “guru” maka, saya dengan adik-adik pun hidup selalu berpindah-pindah dimana bapak saya ditugaskan oleh negara sesuai dengan SK mengajar.
 
Hari demi hari saya semakin mengenal kebiasaan mereka, logat bahasa dan tradisi mereka di atas tanah leluhur mereka seakan-akan saya tidak mempunyai tanah leluhur sendiri. Semenjak saya memasuki umur 18 tahun, saya pun kembali bertanya kepada orang tua saya “dimana sebenarnya tanah milik saya sendiri sebagai anak bangsa?” namun orang tua menjawab “tanah milik kita marga Mote adalah di alam Tigi tepatnya Waghete kampung Tobauwa”. Umur saya semakin bertambah, penasaran untuk melihat tanah leluhur pun bertumbuh dalam diri saya. Suatu saat, setelah bapa saya pulang sekolah, pernah menjelaskan saya “anak, tanah asalmu adalah, Timipotu Tobauwo, Waghete Deiyai Papua”
Setelah saya masuk sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP/SMP), Sering kali saya mendengar cerita orang bahwa tanah Timipotu yang ada di Tobauwo adalah tanah bersejarah. Kenapa orang selalu mengatakan tanah Timipotu adalah tanah bersejarah, tanya saya dalam diri sendiri untuk mencari jawaban yang jelas. Di saat saya masih berada di SMP, telinga saya terus mendengar suara orang dan mata saya membaca di buku harian Keuskupan Timika bahwa, Timipotu adalah tempat bersejarah. Namun, saat itu saya hanya diam saja tanpa komentar seakan akan dijasikan sebagai Timipotu adalah bukan tanah leluhur saya.
Ketika saya tiba di kota dimana tempat saya bersekolah, saya juga menemukan sebuah tulisan yang telah digaris bawahi “Timipotu adalah tempat yang bersejarah”. Penasaran pun selalu bertambah disampin kesibukan belajar di sekolah.
Pada suatu hari, tepatnya pada bulan Desember 2007. Saya menuliskan sebuah surat untuk bapak dan mama dikampung dimana bapak saya bertugas mengajar. Dalam surat itu, saya pun bertanya kembali “bapak, disini saya sering mendengar, melihat orang becerita, dan saya sering membaca bahwa Timipotu adalah tempat bersejarah; sebenarnya di Timipotu itu tempat apa sampai orang mengatakan tempat bersejarah?”. Enam bulan kemudian, saya dikirm surat dari bapak dan mama dari kampung. Pulang sekolah, saya membuka surat itu dan mulai membaca isi suratnya. Tiba-tiba air mata pun terjatu membasahi baju seragam saya yang masih belum buka. Disamping kata-kata salaman dari bapak dan mama, adik-adik saya pun melalui surat itu menyampaikan salam kepada saya. Bagaimana kabar kakak disitu pasti baik-baik saja karena Tuhan bersama kita. Selamat belajar ya kakak sayang. Dalam kata-kata salaman dari bapak, mama dan adik-adik saya dari kampung halaman itu, bapak saya juga menuliskan apa yang dulu saya pernah tanya tentang Timipotu melalui surat itu. Anak, orang bilang Timipotu adalah tempat bersejarah itu sangat betul karena Pater Neles Tebay ditabhiskan dari Timipotu dan dari tempat Timipotu itulah telah diberikan sebuah nama Kebadaby Tebai “Pater Neles Kebadaby Tebai”. Awalnya, Pater Neles Tebai saja namun setelah ditabhiskan menjadi imam dari Timipotu maka dari atas tanah Timipotu Neles Tebai diberikan sebuah nama khas Kebadabi menjadi pater Neles Kebadabi Tebai. Demikian penjelasan singkat dalam surat.
Pada liburan Juni-Juli 2008. Saya berkeinginan untuk pergi kunjung tanah leluhur saja yang orang biasa katakan Timipotu tempat bersejarah itu. walaupun umur saya sudah 18 tahun, saya masih saja belum mengenal dimana keberadaan nama Timipotu dan saya masih belum mengenal orang-orang yang ada di sekitar itu. saya pun binggung apakah di atas tanah Timipotu ada orang yang sudah mendirikan rumah sebagai tempat tinggal mereka. Dalam kebinggungan bersama ketidaktahuan tanah asal saya itu, saya mulai berangkat dari Timika dengan sebuah pesawat milik MISI “pesawat Pilatus”.
Tujuang besarnya adalah untuk melihat tanah asal saya yang orang sering mengatakan tanah bersejarah itu. begitu tiba di ibu kota kabupaten Paniai, saya pun langsung menuju ke pelabuhan dengan harapan besar untuk cepat tiba di tanah asal saya. Dalam perjalanan, saya mulai berpikir panjang, sebenarnya tanah Timipotu itu dimana dan kalau pun saya ketemu tanah Timipotu, saya akan tinggal sama siapa karena saya masih belum kenal orang-orang yang ada di sekitar Timipotu.
Sekitar pukul 03:30 sore saya tiba di Waghete dalam penuh kebingungan. Saya mulai menanyakan kepada seorang ibu yang sedang berjualan di pasar Waghete “permisi ibu, orang bilang Timipotu itu di sebelah mana?” ikut jalan ini dan setelah ketemu dengan gereja Katolik, tanya sama orang-orang yang ada disitu karena Timipotu disekitar itu” jawab ibu yang sedang berjualan sambil menunjukkan jarinya ke arah utara dari pasar Waghete. Temakasih ibu.
Hari sudah mulai malam, langkah kaki saya pun saya percepat ke arah yang telah ditunjukan. Sesampai depan Gereja Katolik, saya pun tanya sama orang-orang yang sedang keluar dari Gereja habis latihan lagu persiapan hari minggu “permisi, Timipotu itu di bagian mana?” “dekat saja, disampin Gedung sekolah SD YPPK Wagehete jadi kamu naik keatas saja” jawab mereka dengan secepatnya karena melihat badan saya yang penuh kelelahan. Sesampai lokasi yang mereka tunjukkan itu, saya kembali tanya kepada seorang anak kecil yang sedang bermain sepeda tua. Adik, Timipotu itu dimana?” disini, lapanagan inilah yang orang biasa bilang Timipotu. Katanya.
Saya melangkah dan meletekan kaki dengan menyebut nama “dalam nama Allah sang pencipta, saya menginjak kaki saya di atas tanah Timipotu ini karena tanah ini, Allah berikan kepercayaan untuk saya “yamekopa Mote” untuk menjaga dan melestarikan amin. Hati semakin tenang, pikiran pun semakin puas disamping seruan dalam hati kepada sang pencipta pun selalu menari-nari.
Sudah sekian lama saya merindukanmu. Kata saya dalam hati sambil mencium tanah Timipotu. Beberapa menit kemudian, saya mulai menikmati indahnya kali Yamo yang berbentuk bagaikan pulau Papua. Saya mendekati kali Yamo, Suara burung selalu terdengar yang bertanda mereka juga menjemput saya sebagai anak negeri Timipotu. Tiba-tiba air mata pun membasahi muka, seakan-akan suara burung di senja hari membawah saya dalam penuh tanggisan. Saya pun sadari bahwa, air mata yang membasahi muka itu adalah salah satu bagian dari ucapan, puji dan syukur kepada sang pencipta langit dan bumi serta manusia. Terimakasih Allah, sudah menciptakan alam Timipotu yang begitu indah dinikmati diantara alam Deiyai yang diwarnai oleh dedaunan hijauh. Kata saya sambil berdiri menikmati keindahan lokasi Timipotu dan sekitarnya.
Dua hari setelah mengetahui tanah milik saya “Timipotu” yang selama bertahun-tahun saya belum mengetahui itu, saya beniat untuk harus mendirikan sebuah rumah diantara penghuni tumbuhan dan binatang. Saya bertanya kepada para tua tua yang ada disekitar tanah Timipotu; bagaimana menurut kalian semua, saya ingin mau mendirikan rumah saya di samping lapangan Timipotu yang mana tempat pentabhisan imam Kebadabi Tebai? Mereka menjawab, bisa tetapi ini tempat rawan. Kami yang hidup lama disini saja tidak berani untuk jalan jalan disni apalagi bangun rumah sebagai tempat tinggal manusia. Saya kembali menjawab, walaupun tempat ini rawan, sekalipun tempat ini banyak orang yang ditakuti; saya tetap akan membangun rumah karena ini adalah tanah leluhur saya yang Allah berikan kepada saya untuk menjaga dan melestarikan.
Satu minggu kemudian, saya mulai jalan-jalan di lokasi Timipotu pada siang hari. disana saya mendengar banyak burung berkicauan dalam angin besar yang menyegarkan tubuh saya. Kelihatannya alam mulai menyatuh dengan saya sebagai putra Timipotu. Burung-burung mendekati saya, manusia yang tidak bisa dilihat oleh mata pun mendekati saya dan Tumbuhan pun mendekati saya untuk menyambut saya sebagai anak Timipotu. Dalam kicauan burung itu, tiba-tiba seorang perempuan berdiri di depan saya, entah dari mana ia datang. Dia pun berkata “selamat datang putra Timipotu yang selama ini kami menanti-nantikan kedatangmu”. “Tuhah membekati kita semua di atas tanah Timipotu ini’. Kata saya kepada dia seakan-akan saya adalah orang yang patuh kepada Firman Allah. Namun itulah suatu mujizat Allah kepada saya.
Walaupun Timipotu adalah lokasi rawan, saya mulai mendirikan sebuah rumah kecil diantara tumbuhan dan rawah yang mengelilingi lapangan Timipotu. Rumah kecil itu tidak jauh dari lokasi dimana tempat pentabhisan imam NELES KEBADABY TEBAI. Orang-orang yang mengetahui situasi di lokasi Timipotu datang bilang sama saya “kamu jangan tinggal sendirian disini, kami yang sudah hidup lama di sekitar ini saja merasa takut jalan-jalan disini apalagi mendirikan rumah dan tinggal disini. Kenapa kamu biasa takut? tanya saya kepada mereka yang datang menawarkan saya untuk tidak boleh tinggal sendirian di Timipotu. Tuan tanah di lokasi Timipotu itu sering menganggu manusia sehingga kami takut mendirikan rumah disini. Jawab mereka. Namun saya hanya mengatakan “saya adalah putra daerah Timipotu, sangat tidak mungkin mereka menganggu saya. Pasti mereka baik-baik dengan saya sebab saya sangat mencintai mereka. Mereka (tua tanah)yang jahat-jahat itulah telah menjaga tanah “lokasi” ini sekalipun kami Yamekopa tidak menetap di Timipotu. Akhirnya, tanah Timipotu yang sebelumnya banyak orang ditakuti itu kembali berdamai dengan Yamekopa asli Timipotu yang sebenarnya.
Setelah menjalani banyak perjalanan dan banyak renungan hidup dalam mencari tanah leluhur yang sesunggunya, saya pun mencoba mendamaikan diri dengan penjaga tanah “MAKIME”, penjaga tumbuhan “PIYA IPUWEMW” penjaga hewa “MUNIYA AGIYOUDO DOUTOTAIME” dan penjaga air “adou/madou yang ada di pinggiran Yamo dan Timipotu. Akhinya, mereka semua menyambut saya dengan besar hati sebab memang saya adalah putra Timipotu. Kini mereka telah menjadi teman hidup dalam perjuangan hidup. Terimaksih banyak.
Saya tidak hanya datang mencari tanah leluhur dan datang mendamaikan dengan penjaga penjaga yang saya tidak bisa lihat dengan mata saja tetapi, pada akhinra saya mencoba mendiri sebuah rumah dimana tempat untuk mengambil pikiran pikiran segar yang muncul dari atas tanah leluhurku.
Semoga tanah dan rumah ini menjadi dasar atau pondasi dalam perjuangan hidup saya, berjuang untuk keluarga saya, berjuang untuk masyarakat saya, berjuang untuk ras saya dan pada akhirnya berjuang untuk menjadi sebuah Negara Ras Melanesia diatas tanah Papua.


Reporter Of Timipotu News
Int. Bidaipouga/
 
Sumber : http://timipotu.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar