Pages

Pages

Jumat, 27 September 2013

Gereja Mewah Diatas Penderitaan Orang Papua

Gereja Katedral Tiga Raja Timika-kabupaten Mimika-Papua
Peran Geraja ditempat lain tidak sama dengan Papua, khususnya daerah Timika dalam skala operasi Tambang Raksasa PT. Freeport tidak luput dari jarahan modal. Pelayanan kemerdekaan semestinya diberikan kepada umat manusia tatkala mati suri diterjang serbuan kompeni emas dari ufuk barat. Kemegahan Gereja berdiri diatas tanah penghasil emas dan tembaga tak sebanding kemegahan jati diri anak Papua yang rapuh dari bedil imperialis Freeport. Dimanakah Gereja ( Katolik ) ditengah penduduk Timika diterjang lumpur Freeport mengeringkan segala aset mata pencaharianya. Oh, budaya tutup mulut yang lazim menjadi praktek kotor para pemodal, tak luput menodai nahkoda umat kristiani. Ada dugaan bantuan Freeport miliaran rupiah atas pembangunan Geraja Katedral di Timika.

Seperti yang diberitakan wartawan Jubi" Willem Bobii", puluhan ribu umat Katolik Keuskupan Timika, Kamis, (7/10) menghadiri misa konsekrasi peresmian Gereja Katedral Tiga Raja Keuskupan Timika. Misa konsekrasi dipimpin Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Leopoldo Girelli. Misa berlangsung lancar. Tamu dan undangan membludak hingga diluar gereja. Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Jhon Philip Saklil dalam sambutannya mengucap syukur atas peresmian Gereja Katedral Tiga Raja. ”Terima kasih atas bantuan, dukungan dan partisipasi dari semua umat baik perorang maupun kelompok,” ucap Uskup Saklil. Pembangunan Gereja Katedral Tiga Raja Timika dipersiapkan sejak 5 tahun silam (sejak 2005). Gereja yang bisa menampung hingga ribuan umat katholik itu berdiri megah dengan arsitektur yang memadukan khas Papua dan modern. Peresmian Gereja Katedral Tiga Raja dihadiri wakil Gubernur Papua Alex Hesegem bersama rombongannya, sejumlah Bupati di Papua serta Anggota Legislatif Mimika.

Sejarah Gereja di Timika tidak berfungsi sama sekali, terutama dalam menyatakan kebenaran atas ketidakadilan yang terjadi. Sejak Uskup Monig Hof mencatat ada 100 penduduk sipil terbunuh akibat operasi PT. Freeport, kepergian sang uskup yang dipindahkan kemudian membawa angin segar bagi Freeport untuk menggenggam uskup tidak kritis. Embel-embel bantuan berkedok keagamaan, Freeport berhasil menggusur ideologi kritis yang melekat pada institusi gereja " Katolik". Iya, temuan keuskupan di era uskup moning Hoof tidak ada hasilnya sampai sekarang. Malah di kubur rapat-rapat oleh penerusnya sekarang. Cerita punya cerita, patut di duga bahwa keterlibatan Gereja di tengah kekangan modal Freeport tidak bisa dihindari. Kehadiran Freeport yang begitu dominan mampu melumpuhkan dinamika keorganisasian katolik yang progresfi membela rakyat tertindas.

Gereja Freeport Sebagai Imbalan Pengalihan Isu Penyelesaian Masalah Papua Secara Sistematis

Konsekwensi keimanan dipertaruhkan dalam roda keagungan ekonomi dunia. Sayembara berbaju agama bukan hal baru. Penemu gunung grasberg sekarang adalah tokoh agama. Misi katolik awalnya di pegunungan tembaga pun berakhir dengan restorasi freeport yang begitu rakus dan serakah. Apa mimpi pastor mendatangkan tambang?. Apa mimpi keyakinan agam dengan kejayaan imperialis?. Nyatalah, idiom Gold-Gospel-Glory. Perjuangan panjang kehadiran agama hanya sebagai amunisi sulap ala Tuhan demi penjarahan kekayaan alam seharusnya di tiadakan. Prinsip pembebasan umat manusia dari tira penindasan apapun harus di angkat.

Kini giliran Gereja Katolik yang mendapat tempat yang layak dari Freeport. Setelah sebelumnya Gereja Baptis di Kwamki Baru malah pendetanya dipenjara. Kasus penembakan di ridscam tahun 2001 menjadi misteri. Sekarang misteri penembakan sudah terurai. Pdt. Isak Onawame, satu pejuang jemaat yang kritis atas kejahatan Freeport. Kini Pendeta Isak dibungkam dengan tudingan penembakan di mile 74 Freeport silam. Tidak saja di bungkam, fasilitas gereja baptis  tidak semewah gereja Katedral yang baru diresmikan. oh, persaingan uang dengan semboyan surga. Padahal, neraka jahanam Freeport semakin sulit di bongkar. Peran Gereja harus diperkuat, jauhkan Gereja dari intervensi apapun.

Umat katolik di NTT dan Timor Leste begitu progresif mengecam penindasan oleh siapapun. Anehnya, Gereja Katolik di Timika malah melarikan diri berdiskusi masalah mabuk-mabukan sehingga menjauhkan diri dari sumber masalah sebernarnya. Freeport sumber masalah rakyat atau umat manusia, baik di Timika maupun Papua seluruhnya. Kenapa didiamkan?. Apa yang salah sehingga Freeport tidak diangkat kaum gereja. Apakah persoalan takut sebagai penyebab para uskup tutup mulut

Problem surga dan neraka di daerah konflik "koloni" seperti Papua dan tempat lain, keterlibatan para pastor maupun pendeta dan lainya, hanyalah mengaburkan masalah. Visi Allah dan Visi politis menjadi satu paket yang diangkat. Negara-negara merdeka, contohnya para pelayan jemaat di Indonesia ( Jawa/Bali), saya salut karena sebagain pendeta atau pastor berperan sesuai misi Alkitab oleh Allah yang dianjurkan. Tetapi daerah koloni di Papua, isu Papua merdeka jadi satu paket dengan misi Agama. Jadilah praktek kotor dalam politik prkatis dianggap hal biasa dalam urusan pengembalaan jemaat. Orang di Papua bikin gereja untuk kumpulkan umat sebanyak mungkin untuk bisa dijadikan kendaran suksesi jabatan tertentu. Papua oh Papua....

Kemegahan Gereja bukan hal gampang. Apalagi gereja mewah yang dibangun dalam waktu singkat. Ditempat terpencil lainya, gereja semewah di Timika, dibangun puluhan tahun baru jadi. Tidak heran jika keberanian pesulap Freeport dengan dukungan dana yang begitu besar ( embel-embel sumbangan ). Hasil sulap dapat diduga penyebab utama pelemahan organisasi umat kristiani di Timika diam seribu kata terhadap freeport. Mesin pembunuh orang Papua "FREEPORT". Semua-semuanya dibungkam dengan berbagai cara dan rayuan gombal semata. Sejalan dengan pengebirian kasus Freeport, sejumlah Uskup yang bercokol dalam isu Papua punya watak yang tidak jauh beda. 
 
Simak saja, draft dialog Papua dengan Jakarta yang didesain pun tidak jauh beda. Kalau di Timika, Uskup sibuk bicara masalah mabuk ( alkohol ), kancah nasiponal juga didesain serupa. Problem otsus, pemekaran, birokrasi negara menjadi onani intelektual yang didengungkan tanpa akar masalah yang harus diangkat. Pengeberian kasus Freeport di kancah nasional sangat di sayangkan. Sejalan dengan struktural gereja yang ketat dan otonom, dimamika mengalihkan isu Papua dari sasaran sebenarnya sudah nyata sekarang. Bahwa hadiah pembangunan Gereja di Timika sebagai bukti yang patut diduga bahwa selama suara-suara kenabian di bungkam, sampai kapanpun persoalan Papua yang diangkat kaum kenabian hanyalah ilusi intelektualitas. Stop!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar