Pages

Pages

Kamis, 22 Agustus 2013

Gagalnya Misi di Indonesia

Peta Negara Indonesia
 Oleh : Ernest Pugiye

Realitas kegagalan misi di Indonesia itu semakin marak terjadi secara gencar.

Esensi misi masih semakin tidak dihayati oleh setiap orang. Setiap orang hanya lebih memilih hal-hal profan dan sekularistik daripada menghayati misi Sang Pengada sesuai konteksnya dalam hidup bersama sebagai umat Sang Pengada. Sehingga setiap umat-Nya ini terus-menerus mengalami kehilangan tujuan hidup secara sejati. 
 
Hal ini justru melahirkan  pemandegkan harapan dan penghayatan iman mereka akan adanya Pengada secara radikal dalam dunia praksis. Pertanyaannya adalah kenapa setiap umat Sang Pengada ini mau mengalami kehilangan harapan dan iman untuk hidup sebagai umat-Nya?

Fundamentalisme
Dalam proyek misi di Indonesia, setiap kita menjalankan utusan-Nya sesuai dengan teologi fundamental dari Barat. Dalam arti sederhana, kita lebih memilih, berpegang teguh dan tetap menggunakan teologi klasik, yang pernah digagas secara mendalam, sistematis dan bertalian oleh para teologi Barat pada beberapa abat yang lalu. 

Konsep mereka tentang seluruh realitas, Allah Tritunggal itulah yang dijalankan tanpa kerangka acuan lokal oleh kita dalam setiap dimensi kehidupan sekarang dan di sini. Nampak jelas, kita dengan teologi fundamentalnya mengabaikan teologi kontemporer (teologi sekarang dan di sini). 

Umat beriman dengan berbagai pengalaman harian sesuai dengan budaya dan dunia setempat kini masih tidak pernah diperhintungkan lagi sebagai kekuatan rahmat dalam proyek misi-Nya. 

Hal yang tidak pernah dibantahkan bahwa sejarah, kebudayaan, bahasa dan pengalaman harian setempat itu masih dapat dianggap sebagai penghalang, kuno dan tidak memberi nuansa hidup sebagai umat Allah di tengah dunia. 

Hal ini melahirkan pemandangan yang buruk bagi umat-Nya secara mendalam. Salah satu sisi mereka tentunya memiliki Allah dari budaya dan tempatnya sendiri. Keberadaan-Nya itu dihayati oleh mereka dalam hidup doa dan kerja. Ini memang merupakan realitas yang berada sejauh mereka berada sebagai berada secara sejati. 

Dan di sini lain, Allah dan Kerajaan-Nya itu telah datang dari langit, dari dunia luar sana bagi mereka. Ada kesadaran bersama bahwa Allah dan misi-Nya itu dibawa datang oleh para teolog dan misiolog Barat. Ini berita gila-gilaan dalam hidup meng-Gerejani. 

Sampai kini, mereka masih mencari Allah langit, yang berada di singgasana, atau di Barat (Allah trasenden) yang diwartakan Gereja sendiri. Malahan mereka seringkali melupakan diri dan keluarganya hanya demi mencari arti dan makna teologi klasik tersebut. 

Wajah misi yang sedemikian ini mengakibatkan kehilangan KEHIDUPAN bagi Gereja-Nya di Indonesia. Hilangnya Kehidupan itu dapat ditemukan secara konkret dalam sebuah komunitas sebagai umat Allah. Karena letak kegagalannya berakar dalam sebuah komonitas. Ketika misi-Nya diwartakan, maka umat Tuhan yang notabenenya adalah wujud komunitas Allah secara konkret itu semakin nampak hancur secara berkeping-keping. 

Kita lihat saja komunitas Gereja di Papua ini. Kekerasan dan konflik terus terjadi. Eksploitasi hutan, ketidakadilan pembangunan, kemiskinan, pelayanan Gereja yang tidak kontekstual, korup, kolusi dan nepotisme yang semakin meraja rela dan pelanggaran hak hidup dan hak milik yang burujung pada kematian secara konyol. 

Selain itu, umat Tuhan di Gereja Papua juga semakin kosong dan absen dalam hidup menggereja dari hari ke hari. Realitas keburukan dan keterpecahan hidup seperti ini menjadi gamabaran umum bagi wajah Gereja di Indonesia.  

Jadi, kita tidak heran hanya apabila umat Tuhan kehilangan iman dan harapan untuk hidup sebagai komunitas Allah di tengah dunia.

Sekularisme
Selain fundamentalis teologi, sekularisme juga merupakan akar dari kegagalan misi di Indonesia. Setiap umat Allah baik para pemimpin Gereja, pemerintah maumpun para pemimpin Adat dan umatnya hanya selalu berorientasi untuk mencari sandang, pangan dan papan. Oleh karena sekularisme, maka tempat-tempat sakral kini masih dieksploitasi dengan inventasi, proyek dan infrastruktur dan perusahaan illegal dan berbagai program ex lainnya. 

Misalnya MIFEE di Merauke, Kelapa Sawit Di Wami dan Arso, Perusahaan PT. Freeport yang merusak hutan dan manusia asli Papua karena didukung oleh para pemimpin Gereja bersama para colonialnya. Nampaknya, Gereja dengan kekuatan teologi klasinya semakin menghancurkan berbagai nilai kehidupan dan kearifan lokal (local genius), yang dihayati oleh setiap Gereja setempat sebagai nilai sakral. 

Hal ini justru melahirkan ketergantungan kepada para pemimpin Gereja dan pemerintah, tetapi juga membunuh martabat manusia sebagai makhluk beriman dan kerja. Bahkan Gereja sendiri pun tetap terus kehilangan cita dan masa depan yang cerah. 

Akibatnya, relasi harmonis antara umat beragama itu semakin menjadi merosot. Setiap umat Allah seringkali menganggap sesama sebagai ancaman bagi dirinya sendiri. Tegasnya, esensi hubungan (relasi kasih) antara sesama, dengan   lingkungan setempat dan dengan Allah menjadi putus secara total. Mereka tidak pernah lagi menganggap diri, sesama dan realitas dunianya sebagai sedarah dan saudara. Semua realitasnya itu saling membunuh dan dibunuh secara terus-menerus. Tapi anehnya, semua kesalahan itu terus dialamatkan kepada Allah. 

Saya pikir, Gereja harus bermisi dari realitas dunia setempat. Segala kekayaan ilmu pengetahun, teologi dan nilai filsafat serta pengalaman mereka dari setiap budaya dan lingkungan setempat mesti diperhitungkan dalam mewartakan misi Allah. Karena Allah itu pribadi yang universal, yang mengungkapkan diri-Nya dalam segala realitas dunia setempat. "Allah berada di sini". 

Dan Allah yang sedemikian itulah yang mengutus kita dalam diri putra-Nya untuk mewartakan kabar gembira dan cinta kasih kepada semua bangsa di Indonesia. 

Bahkan,  Ia dalam diri Kristus telah dan sedang mengutus kita untuk menjadi alat-Nya bagi dunia ini. Ini penting demi keselamatan semua orang dan kemuliaan Allah di sana dan sini.  

Ernest Pugiye Adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura-Papua