Pages

Pages

Kamis, 18 April 2013

USMAN: KALAU MAU DIALOG ITU DENGAN PIHAK KETIGA

Usama Usman Yogoby (Jubi/Timoteus)
Jayapura, 18/4 Dialog damai antara pemerintah pusat dengan orang Papua (Jakarta-Papua) yang ramai dibicarakan banyak orang saat ini ditanggapi oleh Ketua Solidaritas Hukum, HAM dan Demokrasi Rakyat Papua (SHDRP), Usama Usman Yogoby.

Menurut dia, sedianya dialog yang dimaksud adalah dialog yang dimediasi pihak ketiga atau negara yang netral. “Dialog itu yang ada solusi. Kalau mau dialognya harus ada pihak ketiga. Yang punya masalah, keduanya duduk bersamaan,” kata Usman ke tabloidjubi.com di Abepura, Kota Jayapura, Kamis (18/4).

Menurut dia, dialog yang dimaksud, yaitu dialog antara pemerintah pusat dengan orang Papua yang berseberangan dengan pemerintah (pro Papua merdeka). “Dialog dengan pemerintah Indonesia, dan siapa wasitnya? Itu baru bisa berjalan normal,” kata Usman lagi.
Lanjut dia, masih ada konflik yang hingga kini dialami rakyat Papua. Senin (15/4) Kordinator Jaringan Damai Papua (JDP), Pastor Neles Tebay, Pr. mengatakan, pihaknya menemukan lima indikator, yaitu, masih adanya pengibaran bendera Bintang Kejora, adanya tuntutan referendum, adanya tuntuan Papua Merdeka, stigma separatis terhadap orang Papua dan berbagai kekerasan, seperti penembakan terhadap warga sipil dan aparat.

Pemerintah sudah menggunakan metode pendekatan hukum, kekerasan, dan undang-undang nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus). Namun menurut Pastor Neles yang menerima pengahragaan Penghargaan The Tji Hakson Justice and Peace Award 2013 ini, ketiga pendekatan di atas belum mampu menuntaskan konflik di Papua, sehingga harus ada solusi baru. Perlu dialog damai yang melibatkan pihak lain. (Jubi/Timoteus Marten)

Sumber : tabloidjubi.com