Pages

Pages

Jumat, 26 April 2013

KAPOLRES PANIAI, SEMBUNYI & TERKUNCI TERKAIT PELANGGARAN HAM

Polisi sedang Swiping, anak SD
 setelah Pulang sekolah
“APARAT KEAMANAN TERKUNCI & TERTUTUP INFORMASI MENGENAI KASUS-KASUS PELANGGARAN HAM DI DAERAH PANIAI"

PANIAI-- Kapolres Paniai Semmy Ronny Th Abaa, membantah data-data tentang kekerasan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (Ham) di daerah Paniai, mereka sembunyi dan tertutup perlakukan oleh Aparat militer (Tni_Polri) di Paniai selama 3 bulan  berakhir sejak awal tahun ini.

Menurut Kapolres Paniai Semmy, “mengatakan  saya bertugas sejak Januari 2013, belum ada laporan mengenai aksi represif dari anggotanya. Kapolres tegaskan, jika terbukti maka akan diproses sesuai hukum bagi anggotanya yang melanggar hukum,” ungkapnya ketika ditanya oleh wartawan, jawabannya paniai aman-aman saja.

Pada hal banyak pelanggaran ham yang terjadi, dilakukan pihak Tni-Polri, mereka  takut terungkap Publik dan mereka mengunci semua Informasi mengenai kasus-kasus Pelanggaran Ham di Daerah Paniai. Menurut Pihak geraja dan  Lsm.

Pihak Gereja, Lsm, dan media social terpercaya seperti dilansir di www.tabloidjubi.com, mengabarkan bahwa Operasi penyisiran di sejumlah kampung di Kabupaten Paniai, bahkan aparat bersenjata lengkap masuk ke rumah-rumah warga, membangkitkan trauma berkepanjangan semenjak masa Daerah Operasi Militer (DOM) diberlakukan puluhan tahun silam. Aksi represif oleh aparat keamanan berdalih mengejar kelompok bersenjata pimpinan John Yogi sudah dilakukan sejak ayahnya, Thadeus Yogi, masih hidup.

Perasaan takut walau ingin bersuara, selalu dialami oleh sebagian besar penduduk di Kabupaten Paniai. Ketakutan makin bertambah karena dalam kurun waktu dua tahun terakhir selalu ada penambahan pasukan dari luar Paniai, bahkan luar Tanah Papua.

“Terus menerus kami bicara supaya jangan kirim pasukan. Tapi, ini belum ada respon. Masyarakat sudah pada takut, dari dulu traumanya, jadi Densus 88 itu ditarik saja,” ujar Pemuka Jemaat Kingmi Papua di Paniai, Pendeta Nicolaus Degei, Kamis (25/4).

Kemudian, di Kutip dari media http://www.elshampapua.org, terkait TNI-Polri Gelar Razia Handphone dan atribut budaya, warga Enarotali Resah, dilaporkan dari Elsam Papua, bahwa Operasi Aman Matoa II masih terus berlangsung di Paniai dan sekitarnya. Relawan ELSHAM Papua di Nabire melaporkan bahwa sejak 20 Januari 2013, aparat gabungan TNI/Polri telah melakukan razia terhadap warga masyarakat di kota Enarotali, Paniai, Papua. Aksi razia ini dimulai sejak Tanggal 20 Januari 2013 oleh Pasukan Gabungan (Brimob Kepala II, Brimob Polda Papua, Polisi Dalmas Paniai, Timsus 753, Pasgad dan Kodim 1705).

Target razia adalah Handphone dan atribut budaya milik warga asli Papua, terutama yang berasal dari suku Mee. Khusus terhadap handphone milik warga, aparat akan memeriksa lagu-lagu yang terdapat dalam memory card. Jika ditemukan lagu berbahasa daerah Papua maupun Papua New Guinea, maka memory card handphone lalu dirusak (dipatah) dihadapan pemiliknya.

Aparat yang melakukan razia juga mengintimidasi warga agar tidak menyanyikan lagu berbahasa Papua dan Papua New Guinea. Aparat juga melarang warga mengenakan atribut budaya asli Papua berupa Gelang, Manik-manik, dan mahkota tradisional (Waiya dan Migabai). “Kamu tidak boleh pakai gelang, manik-manik atau ikat kepala, dan atribut Papua merdeka yang lain. Kalau ada yang coba-coba pakai, nanti kami tembak,” ujar seorang anggota polisi.

Seorang pendeta yang mendengar tentang adanya aksi razia tersebut, mendatangi mapolres Paniai di Madi dengan maksud menanyakan tujuan dari razia tersebut. Sebelum memasuki halaman Mapolres, pendeta lalu meperdengarkan lagu-lagu Group Mambesak berbahasa Papua yang tersimpan dalam handphonenya. Kapolres yang berada dalam ruang kerja segera keluar dan membentaknya. “Hei..! siapa yang putar lagu-lagu ini, kami akan basmi lagu-lagu itu,” kata Kapolres sambil keluar dari ruang kerjanya. Pendeta lalu berkata “Kamu jangan larang lagu Papua dan budaya Papua saja, tetapi kamu juga harus larang lagu Jawa, Sumatra atau daerah lain juga. Sebab lagu-lagu itu adalah jati diri kami orang Papua,” tegasnya. Kapolres tidak menanggapi ucapan pendeta tersebut, namun segera masuk kembali ke ruang kerjanya.

Pada 7 Februari 2013, pukul 13.30 waktu setempat, relawan ELSHAM melakukan monitoring di sekitar pasar, bandar Udara dan di depan kios yang terletak di pusat Kota Enarotali. Saat itu sedang dilakukan razia memory card handphone di dekat teminal. Relawan ELSHAM terus mengawasi razia tersebut dari jarak 20 meter. Seorang aparat polisi terlihat sedang memegang handphone milik seorang warga, sementara rekan-rekannya yang lain tampak berjaga-jaga menggunakan senjata lengkap.

Aneh tapi Tanya, Tentara dan Polisi,  tugas utama melindungi rakyat dan mengamankan daerah Tetapi, kenyataan dilapangan tidak sesuai  dengan tugas dan fungsinya. Berbagai kasus yang terjadi Paniai ini, Kapolres Paniai sembunyi, bebagai media social di Tanya keadaan paniai tetapi  kata dia aman. Ini menunjukan bahwa, Pembohongan publik yang dilakukan oleh Kapolres Paniai.