Pages

Pages

Minggu, 24 Februari 2013

RATUSAN APARAT MENGUASAI BANDARA SENTANI

TNI /Polri yang di siapkan untuk beroperasi Di Puncak jaya Papua
Aparat TNI Terus Menerus Didatangkan Dari Luar Untuk Selanjutnya Didrop di Puncak Jaya dan Sinak

Jayapura-NAPAS.com, Hari ini, minggu, 24 Februari 2013, pukul 15.00 WIT, Aparat memadati Bandar Udara Sentani. Aparat tidak hanya menunggu kedatangan korban penembakan, tapi juga mempersiapkan dirinya untuk diberangkatkan ke Puncak Jaya dan Sinak. Menurut saksi mata, M, Aparat didrop dari luar Papua, dan mereka rencananya akan diberangkatkan ke Puncak Jaya dan Sinak. Menurut saksi mata, jumlah aparat ratusan dan tidak menutup kemungkinan, penambahan jumlah aparat akan semakin bertambah. Situasi seperti ini, dikawatirkan justru akan melahirkan korban sipil semakin banyak.

Terkait pendropan pasukan, Bovit, Ketua Garda-P, menyatakan, Secara kemanusiaan, kami turut berbelasungkawa atas korbannya aparat. Menurutnya, Ini dampak dari lirikan sebela mata oleh Negara. Bicara perdamaian namun tidak dirilkan oleh Negara. Penembakan ini sebagai protes dari semua proses yang dilakukan oleh Republik sebelah mata karena tidak melihat aspirasi rakyat yang slalu dikumandangkan terus menerus. Penembakan itu, sesungguhnya imbas dari Negara yang mengabaikan tuntutan rakyat. Menurut Bovit, apakah dengan proses begini, dibiarkan terus menerus atau pemerintah harus ambil jalan tengah. Lanjutnya, soal pendropan pasukan, Pangdam jangan menambah konflik terlalu panjang. Jangan pendekatan militer dilakukan, karena hanya akan melahirkan konflik dan korban berkepanjangan. Pendekatan harus pendekatan damai. Perdamaian hanya akan terjadi melalui perundingan atau kesepakatan. Penambahan pasukan hanya akan memperpanjang konflik. Pernyataan pangdam hanya secara emosionalitas, sehingga semua pihak harus melihat masalah secara dewasa. Sebaiknya pemerintah mendorong upaya damai melalui tahapan-tahapan damai menuju Dialog. Kebenaran sejarah harus diangkat, dan semua kasus pelanggaran HAM harus diungkap. Semua masalah harus dibicarakan melalui Dialog yang bermartabat demi terciptanya Papua tanah damai.

Sementara itu, menurut Marthen Goo, pendropan pasukan hanya akan melahirkan kekerasan baru, dan tidak akan menciptakan Papua Damai. Peristiwa penembakan itu sesungguhnya bagian pemprotesan terhadap ketidak jelasan Negara dalam upaya penciptaan Papua damai. Hak hidup rakyat Papua terancam, namun Negara justru mengabaikan, bahkan terlihat, Negara justru mendorong punahnya rakyat Papua. Rakyat Papua memintah Dialog dari tahun 2000, dan itu masih terus berlangsung, sampai dengan lahirnya buku Papua Rod Map oleh LIPI, kemudian Jaringan Damai Papua mendorong pentingnya perdamaian, namun Negara tetap terus mengabaikan hal itu. Presiden Indonesia juga perna mengatakan Niat Baik Negara untuk menciptakan Papua tanah damai melalui Dialog, namun terkesan, itu hanya pernyataan kosong. Semestinya Negara (SBY) mengoreksi diri atas penipuan publik yang perna disampaikannya. Negara harus mau membuka ruang damai melalui Dialog yang dimemediasi pihak ketiga yang Netral, jika Negara memiliki komitmen untuk penyelesaian masalah, bukan dengan membalasnya dengan senjata atau konflik atau penembakan baru, yang justru akan memperpanjang permasalahan. (***BIKO***).

Sumber : NAPAS.COM