Pages

Pages

Selasa, 26 Februari 2013

DAP: Anak Papua Kini Menjadi Sumber Masalah

Tanah Papua Penuh Antara Aman dan Derita


Jayapura, 26/2—Pelaksana Harian, Ketua Dewan Adat Papua, Wilem Rumasep menilai anak-anak muda Papua kini kehilangan jati dirinya. Kehilangan jati diri ini membuat  banyak anak-anak muda Papua sudah tidak mengenal lagi budaya asli Papua.
 
“Hari ini sudah kehilangan jati dirinya dan adat,”kata Wilem Rumasep, Selasa (26/2) di 
 Kantor Dewan Adat Papua, Expo, Waena, Kota Jayapura.  
Dikatakan  anak-anak Papua lebih cenderung mengikuti pola pendidikan modern yang faktanya tidak membantu moralitasnya dari pada pendidikan tradisional yang mendidik moral dan perilakunya sebagai anak Papua. “Pendidikan anak muda menjadi perhatian semua orang di Papua di rumah bujang di masa lalu,”katanya. Dikatakan jaman dulu anak-anak muda di Papua biasanya mengikuti pendidikan di dalam rumah bujang atau rumah pemuda sebelum masuk ke dalam dunia orang dewasa.

Namun, menurut Rumasep, pendidikan anak muda di dalam rumah telah hilang akibat lembaga moral yang baru tiba tanpa memikirkan jalan keluar bagi generasi muda di Papua. “Masuknya Injil di  Papua harus menyingkirkan segi-segi tradisional  dan kini di kampung-kampung tidak ada lagi pendidikan anak-anak muda di rumah bujang,”katanya.

Karena itu, pendidikan anak muda dialihkan kepada gereja dan lembaga pendidikan pemerintah. Peralihan itu tidak memberi dampak baik. Lembaga yang ada sangat tidak membantu mendidik moral anak Papua. “ Setiap 10Kilometer terdapat bangunan Gereja. Namun sebaliknya banyak anak muda yang pergi Gereja pulang  mabuk”,katanya.

Menurut dia, pendidikan tradisional dengan tegas mendidik anak menjadi solusi masalah, namun pendidikan modern mendidik anak menjadi sumber masalah. “Semua anak muda keluar dari rumah adat pasti akan menjawab atas masalah. Kini, anak menjadi sumber masalah,”katanya.
Situasi ini tidak bisa dibiarkan begitu. Dewan adat dan semua pihak yang ada harus bertanggungjawab terhadap pendidikan anak Papua kini. “Kalau mau perbaiki, anak muda harus kembali ke tradisi nenek moyang,”katanya.

Dalam rangka mengembalikan anak-anak ke jati dirinya, dewan adat Balim mulai melakukan pendidikan moral. “Kami mulai merancang pola pendidikan bahasa dan wajib memberi nama anak dalam bahasa daerah,”katanya.

Rancangan ini akan berlaku bagi siapapun, yang penting orang Baliem. “Profesor atau doctor atau siapapun orang balim harus wajib belajar bahasa. Kami akan terapkan ini supaya semua orang tahu diri dan membangun dirinya dengan baik,”tegas Sekretaris Dewan Adat Balim, Yulianus Hisage. (Jubi/Mawel)