Pages

Pages

Senin, 27 Juli 2015

Sampai Kapan Kami Dulupakan Peristiwa Masa Lalu Papua? Dan Semua Pernyataan Di Metro TV

Sampai Kapan Kami Dulupakan Peristiwa Masa Lalu Papua? Dan Semua Pernyataan Di Metro TV



Jakarta-
Suarapasema.blogspot.com-Presiden Joko Widodo  memberikan grasi kepada lima tahanan politik di Papua pada 9 Mei 215 Lalu. Keputusan presiden memberi grasi itu oleh sebagian orang dinilai sikap yang tepat, tetapi ada juga yang menilai hal tersebut sebagai pencitraan belaka dan tidak menyelesaikan akar permasalahan di Papua.
Lepas dari pro dan kontra, lima tahanan politik itu sekarang sudah mendapatkan kebebasan mereka. Banyak orang yang ingin tahu apa sebenarnya “dosa” mereka sehingga harus masuk penjara dan apa yang mereka lakukan setelah keluar dari penjara. pada 10 Juli 2015 di Live Metro TV Kemarin.
Maka Dari Itu Kick Andy Mengundang Beberapa Tahanan Politik yang dibebaskan Kamarin di LP2 Abepura pada 9 Mei 2015 Lalu, Namun yang Lainya Menolak dengan sejumlah Masyarakat dengan Alasan Lainnya, Tetapi diwakili Oleh 2 Orang Tahanan Politik (TAPOL) yang dibebaskan Oleh Jokowi Melalui Grasi, Yaitu Bapak Apotnagolik Lokobal dan Jafrai Murib.

Apotnagolik Lokobal dan Jafrai Murib yang menjadi tamu Kick Andy Kemarin 10 Juli 22015 adalah dua dari lima tahahanpolitik yang mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo. Setelah keluar dari penjara kedua mantan tahanan politik ini langsung kembali ke rumahnya di Wamena, Papua. Kondisi kedua mantan tapol itu memang memprihatinkan. 
Apotnagolik Lokobal misalnya. Pria yang kini berusia 49 tahun itu  sedang sakit-sakitan dan tubuhnya sudah kelihatan renta. Ia mengeluhkan tekanan darahnya yang tinggi dan nyeri di bagian tengkuk lehernya. Lokobal yang ditangkap aparat keamanan karena dituduh menjadi anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), itu mengaku selama di tahanan kerap mendapat siksaan fisik dan kesulitan mendapatkan akses kesehatan, Saat Memintah Obat di Dokter karena Sakit Malaria tetapi memberikan Obat Vitamin segingga Sepat Kontak Marah Antara Bapak Apotnogolik Lokobal dan Dokter, Jelasnya saat ditanyakan Kick Andy.
  Bapak Lokobal Mengaku dirinya Ketika bebas, setelah mendekam di penjara selama 12 tahun, ia masih kesulitan untuk kontrol kesehatannya karena ketiadaan biaya pengobatan.
Begitu halnya dengan Jafrai Murib. Pemuda yang kini berusia 31 tahun kondisinya lebih mengenaskan dibandingkan Lokobal. Jafrai yang ditangkap ketika berusia 19 tahun masa SMA itu terkena serangan stroke ketika berada di penjara. Hingga kini ia kesulitan untuk berjalan dan tangan kanannya lumpuh. Sama halnya dengan Lokobal, jafrai juga tidak pernah kontrol ke rumah sakit mengingat kesulitan keuangan. Bahkan yang lebih mengenaskan ketika keluar dari penjara istrinya kabur dengan pemuda lain.
Jafrai Mengaku Ia mendapat Penganiyaan Di Kodim 1702 Wamena  Setelah diperlakukan Penganiayaan dan Penyiksaan. Ia Mengaku ditangkap dengan Alasan yang Tak Jelas Kata Jaftrai Saat Di Tanya Kick Andy Di Metro TV.

Banyak kalangan menilai, pemerintah seharusnya tidak berhenti hanya sebatas memberikan grasi saja. Pemerintah seharusnya memperhatikan kondisi kesehatan dan ekonomi para tapol itu. Jika hal ini diabaikan, dikhawatirkan para tapol yang sudah mendapat pengampunan itu akan mengangkat senjata dan kembali ke gunung di pedalaman papua.
Apa sebenarnya yang terjadi ? dan mengapa pemerintah terkesan sulit menyelesaikan masalah Papua? Karena Kepentingan di Tanah Papua dan pemerintah sangat susah selesaikan karena Gejolak dan Konflik di Papua Bukan Untuk Makan, Minum dan Ekonomi tetapi memintah untuk meluruskan sejarah Pepera 1969, saat itu Melakukan Voting dengan 1200 Orang yang ikut pilih dibawah pengawasan Militer indonesia, Belanda dan PBB sehingga Orang Papua Menilai Catat Hukum, Maka Indonesia Harus Mengakui dan Meluruskan sejarah untuk solusi Penyelesaian Di Papua.

Matius Murib, Yang merupakan Komnas HAM dan juga AKtivis Papua mengaku, Presiden Joko Widodo Memberikan Grasi Kepada Tahanan Politik itu salah satu Sikap Positif tetapi presiden menyampaikan melupakan masalah lalu dan padang yang baru kedepan itu tidak mudah Jelasnya.
Tetapi pemerintah seharusnya ada rekonsiliasi antara OPM dan Pemerintah Indonesia, saya kira itu yang bisa jelasMatius Murib saat di tanyakan Kinck Andy.

Haris Azhar yang merupakan Elsham Papua mengatakan saar ditanyakan Kick Andy Berapa Bayak Tahanan Indonesia? Jawab Haris azhar bahwa, di Ambon dan Papua di antaranya khusus untuk di Maluku selatan (RMS) ada belasan Orang tetapi untuk di Papua ada 37 Orang namun 5 diantaranya sudah dibebaskan oleh Presiden Joko Widodo melalui Grasi pada 9 Mei 2015 Lalu, sehingga yang ada sekarang 32 Orang. 
Tambahnya lagi bahwa Tahanan Politik ini pasal yang di Tuduhkan itu tidak sesuai dengan Kasunya, tetapi mereka memperlakukan ketidak adilan dan tidak sesuai. contoh kesaksian  Apotnagolik Lokobal dan Jafrai Murib tadi tandasnya.

Kick Andi Sempat Ditanyakan mengenai Filep Karma yang menolak Grasi saat presiden Joko Widodo Memberikan Grasi, tetapi Filep Karma Menolak dengan Alasan Ia Memintah harus memberikan Amnesti dengan Alasan kalau saya memberikan garsis berarti saya bersalah pada kami tidak salah, sebab kami membelah kebenaran dan Keadilan, sehingga Ia Memintah Amnesty Internasional. 
Jawab Hsris Azhar bahwa Perbedaannya antara Grasi dan Amnesty karena Grasi itu bisa diberikan oleh presiden sesuai Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD) 1945 bahwa ada bisa langsung memberikan grasi kebijakan presiden dan juga DPR tetapi ada DPR yang bisa ada pula yang tak bisa sehingga memberikan grasi oleh Presiden. tetapi Amnesty Itu karena Filep Karma tidak merasa Bersalah sehingga ia memintah Amnesty utuk Pengakuan Politik, Kata Haris Azhar.  (Suara Pasema/Lokon)