Pages

Pages

Minggu, 23 November 2014

KNPB : POLDA PAPUA MENYAPAIKAN BERITA BOHONG

Aktivis KNPB saat melakukan aksi demo dan dukungan untuk pertemuan ILWP, Kamis, 20 November 2014 (Dok. KNPB)
Jayapura, Jubi – Pernyataan yang disampaikan oleh Kepolisian Daerah (Polda) Papua di salah satu media cetak Papua, terbitan Jumat (21/11) dibantah oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB).
“Polda Papua terus membohongi Rakyat Papua dengan memberitakan infomasi yang tidak benar dan rekayasa. Polda Papua melalui pemberitaan di salah satu media cetak di Papua edisi 21 November 2014 mengatakan anggota KNPB mengeluarkan tembakan menggunakan senjata rakitan dan membawa amunisi dalam aksi demonstrasi di Dogiyai. Itu adalah berita bohong dan tidak benar,” kata Ones Suhuniap, Sekretaris Umum KNPB kepada Jubi (23/11).
Suhuniap juga membantah pernyataan Polda Papua di media yang sama yang mengatakan bahwa anggota kepolisian menembak tiga orang anggota KNPB dengan peluru hampa dan peluru karet.
“Pernyataan itu tidak benar, aparat selalu menggunakan timah panas.” kata Suhuniap.
Menurut Suhuniap, kepolisian di Papua selalu membangun opini yang tidak benar di media menjelang  tanggal 1 Desember. Polisi, kata Suhuniap, memang melakukan skenario seperti ini untuk menakut-nakuti rayat Papua.
Laporan anggota KNPB dan beberapa warga di Dogiyai yang disampaikan kepada Sekretariat KNPB di Jayapura, kata Suhuniap, menyebutkan aksi demonstrasi KNPB di Dogiyai dibubarkan paksa. Polisi tidak melakukan negosiasi dengan masa aksi sebelum mebubarkan aksi demo damai di Terminal Moenamani, Dogiyai.

“KNPB mengeluarkan himbauan secara resmi dan terbuka. Perayaan Hut KNPB VI dan dukungan untuk pertemuan ILWP di Belanda tidak mengunakan cara kekerasan namun melakukan doa bersama dan demo damai.” tambah Suhuniap.
Kronologis insiden pembubaran aksi demo KNPB di Dogiyai itu, sebagaimana dilaporkan oleh anggota KNPB dan masyarakat di Dogiyai, polisi datang tanpa negosiasi, mengeluarkan tembakan untuk membubarkan masa aksi yang telah berkumpul sejak pukul 09.00 WP di Terminal Moenamani.  Kedatangan Tim Gabungan Kepolisian dan Brimob ini, menurut laporan masyarakat terjadi sekitar pukul 11.30 WP. Tidak seperti biasanya, dalam membubarkan aksi demo polisi melakukan negosiasi terlebih dulu, polisi langsung meminta massa aksi bubar ambil mengeluarkan tembakan. 10 menit kemudian, polisi  mengeluarkan tembakan yang lebih masif yang mengakibatkan massa aksi panik. Polisi langsung menangkap sejumlah aktivis KNPB Dogiyai.
“Salah satu korban tembak atas nama Anselmus Pigai, dari Puskesmas Moenamani dibawa ke RSUD Paniai untuk melakukan pengobatan yang lebih insentif.” lanjut Suhuniap.
Suhuniap berpandangan, insiden seperti ini memperlihatkan Pemerintah Indonesia tidak konsisten terhadap peraturan negaranya sendiri. Polda Papua, kata Suhuniap, harus menghargai dan berfungsi sebagai keamanan negaranya. Bukan menjadi aktor kekerasan terhadap Rakyat Papua Barat.

“Di wilayah Papua TNI dan POLRI menjadi aktor utama konflik demokrasi dan menjadi pelaku kriminal terhadap warga sipil,” tambah Suhuniap.
Sebelum pembubaran aksi KNPB di Dogiyai, Kepolisian Resort Nabire telah membubarkan aksi demo damai perayaan HUT KNPB VI. Dalam pembubaran aksi di Nabire ini, Polisi menangkap 13 orang.
Berkaitan dengan insiden pembubaran aksi KNPB ini, melalui salah satu media cetak di Papua (21/11), Kabidhumas Kepolisian Daerah (Polda) Papua, Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono, menegaskan sempat terdengar suara tiga kali tembakan yang diduga berasal dari kerumunan massa dalam aksi yang dilakukan aktivis KNPB, sehingga anggotanya kemudian berlindung. Dalam aksi ini, menurut Pudjo, Polisi juga yang mengamankan lima bendera KNPB dalam kegiatan itu. Pudjo menambahkan Kapolda Papua telah memerintahkan Kabidpropam Polda Papua untuk melihat proses pengambilan keputusan dan tahapan yang telah dilakukan sesuai prosedur atau tidak. Selain itu, Kepolisian juga mengkoordinasikan pengamanan dengan berbagai pihak. (Victor Mambor)