Pages

Pages

Senin, 30 Juni 2014

MAMA PAPUA JUAL PULUHAN NOKEN BERMOTIF BINTANG KEJORA

PAPUA--Memperingati Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Papua, mama Papua  asal Timika bernama Auweeumau A. menjual bermacam-macam Kerajinan Tangan Noken dengan motif Bendera Negara Papua Barat yakni "BINTANG KEJORA", di Pasar central jalan Irigasi  Timika-Papua.
 
Mama , sangat senang dan bangsa saat dia menjual puluhan hasil anyaman  Noken di Pasar umum, pada hal disamping dia berbagai pedangan dari Jawa, Sulawesi, Makasar, (Orang Non Papua), menjual dengan alat-alat produk lainnya, dia juga berani bersaing dengan hasil Kerajinan tangan sendiri
 
Di Pasar Central  mama Auwe menepati dua meja besar dengan meletakan berbagai Noken,  saat ditemui, ditanya, mama bagimana pendapatan seharian? tetapi mama sempat bilang, anak saya jual bukan untuk mendapat keuntungan, tapi saya harus menjual noken ini sebagai simbol untuk menghargai Jati diri Bangsa Papua. dengan kata yang penuh tegas.
 
"Mama mulai jelaskkan harga noken satu per satu, mulai dari Rp. 100.000; sampai 30. 000;. tergantung sesuai dengan ukuran noken, jika ukuran noken besar maka harga mencapai hanya 100 biru rupiah,". kata mama Papua.
 
Ditanya lagi, mengapa mama jual bergambar Bintang Kejora? mama diam sambil senyum dan gembira, satu menit kemudian mama mulai jelaskan noken-noken yang mama jual, mama jual gambar Bintang Kejora  sebagai Nasionalisme Identitas Budaya asli Bangsa Papua, itu sebabnya mama jual banyak disini supaya orang Papua dan Pendatang lewat disini mereka melihat hasil karya mama
 
"lalu selanjutnya mama jual Noken motif Rasta  karena itu sebagai runpun hitam kulit rambut keriting".  dan noken-noken warga lainnya sesuai dengan koleksi pribadi. kata mama di tengah pasar. 
 
Selanjutnya Noken Papua sendiri, dinyatakan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO di Paris  pada 4 Desember 2012 lalu,  oleh Ketua Lembaga Ekologi Papua, Titus Chris Pekey. sebagai pengagas Noken Papua.
 
Tas rajutan atau anyaman multifungsi kerajinan tangan rakyat Papua, Noken, resmi masuk dalam Daftar UNESCO Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage). Keputusan itu diketuk palu oleh Arley Gill dari Grenada. Gill menjadi ketua Sidang Komite Antar-Pemerintah ke-7 untuk perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Markas UNESCO di Paris, Prancis. (UN/admin)
 
Sumber: www.umaginews.com