Pages

Pages

Minggu, 29 Juni 2014

GADIS BARAK SEJARAH KOLONIAL

Gadis gimbal (Ist/Google)
Suva,28/6 (Jubi)—“Aku telah bangkit dari kematian suri semalam,”gumam Kain, saat mendapati dirinya yang disinari mentari pagi melalui sela-sela  jendela barak Kolonial.

Kain bergegas meninggalkan ruang tidur, memegang plastik hitam menuju gerbang utama.

Ia melintasi rumah-rumah kolonial yang berjejer. Barak-barak itu nampak kokoh kuat, hanya terlihat cat dan beberapa sudut nampak dimakan waktu.

“Cat merah perang revolusi mulai luntur dan dindingnya yang berlubang akibat timah bedil makin membesar. Penghuni menempelkan lubang-lubang bedil itu dengan dedaunan kelapa hijau, tetapi daun itu mulai menguning menuju kering,”pikirnya.

Lalu Kain menyoal: “Mengapa mereka tidak bongkar saja lalu membangunnya dengan seluruh bahan lokal yang nenek moyang gunakan untuk bangun rumah? Apa si gunanya mempertahkan bangunan yang bukan masanya lagi ini? Mengapa yang mengecewakan ini terus ada dan mengigatkan masa lalu negeri ini? Apakah bangunan-bangunan kuno ini lebih penting dari sebuah perubahan?”

Sambil melangkah, Kain mengingat kata-kata penghuni barak dalam diskusi sebelumnya mengenai nasib barak sejarah kolonial itu.

“Kamu harus tahu bwa sejarah itu ingatan kisah masa lalu kami. Kami tidak pernah melupakan kisah yang merengut nyawa dan mengundang rasa haru puluhan tahun lalu yang menimpa nenek moyang kami telah menjadi kekuatan kami. Kami ingin membangun kehidupan ini atas dasar sejarah buruk kami. Kami ini lebih baik dari sejarah”.

Kain menyesal pernah mendengar refleksi itu. Ia emosi mengingat kata-kata orang yang mengingat masa lalu lebih penting dari perubahan. Padahal,  itu lebih menyakitkan daripada perubahan. Namun,  kemudian ia sadar bahwa sejarah itu telah menjadi kekuatan ideologi kehidupan yang nampak kokoh kuat kehidupan mereka hari ini.

“Saya harus membiarkan mereka hidup ini mengalir dalam alur sejarah dan ideologi,”gumamnya sambil melangkah menuju gerbang pembuangan sampah sejarah.

Gerbang utama telah nampak. Jarak tidak terlalu jauh. Kain akan membuang sampah yang menyebabkan virus yang sangat mematikan, pikirnya, sambil melangkah dan mengengam hendak menghancurkan semua sampah dalam platik itu tetapi matanya terus menikmati pemadangan alam dan barak-barak colonial yang buruk, yang mulai berusia makin kuat dalam ingatan dan kebencian itu.

Sampai langkah yang ke-50, rumah terakhir, sebelum gerbang, dari jarak 50 meter barak sejarah, Kain mendapati seorang gadis mengenakan rok kotak-kotak putih merah hitam, kemeja putih, memikul tas hitam diselingi warna merah jambu berdiri membelakanginya. Kain tersentak kaget seolah ada sengatan lebah di dada lalu kagumnya.

“Rambut keriting terlingkar diikat konde satu terurai di pundak. Sutra hitam tanda perkabungan. Gadis barak sejarah yang sangat cantik,” gumamnya.

Kain diam sejenak. Pikirnya,”Saya rupanya telah tergoda dengan seluruh yang menjadi bagian dari gadis barak kolonial itu.”

Kain membayangkan seluruh diri gadis itu hingga yang belum nampak pun menjadi satu kenyataan dalam rasa dan khayalan.

“Pancaran cahaya batin yang kuat memahan jiwaku. Cahaya miliknya sangat kuat untuk meraih kehidupannya dan itu kelebihan wanita,”gumamnya kemudian, membayangkan aktivitas gadis bersahaja itu.

Rasa penasaran mengiringgi langkah Kain mendekati badan jalan menuju gerbag yang hanya tiga meter dari depan rumah tempat gadis itu berdiri. Kain mendapati dia bersama saudara laki-laki dan kakak perempuannya sedang membahas pelarian orang-orang terkasih ke negeri seberang akibat perang revolusi rimba 50 tahun lalu.

Good morning,” Kain menyapa. “Harap tidak mengangu kenyamanan mereka,” gumamnya.

Good morning guys…”jawab mereka serentak. Nmun suarah gadis itu lebih mengemah sampai masuk ke dalam hati yang paling dalam lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Hormon kepriaan Kain terangsang dan membayangkan suara itu dalam setiap detak jantung dan langkah kaki menuju gerbang.

Yoghoo ninom arh. Oh…..”teriak Wanita yang suarahnya terekam lebih dulu dalam benak Kain.

Tidak lama, Kain mendengar sentakan kaki orang berlari melalui jalan samping ruangan para mahasiswa kampus barak sejarah Kolonial itu.

“Dia yang cantik telah berlari,”gumamnya sambil mengikuti gerakan kaki sang gadis yang sedang berlari di hadapannya.

Kain melihatnya bagaikan domba betina putih berlari di pandang rumput yang hijau. Rambutnya terus bergelombang menghiasi langkah kakinya hingga berhenti di gerbang pintu menanti bus mendatangginya. Bus yang dinanti dan dikerjanya pun telah parkir di depan gerbang barak.

Kain terus menyaksikan gadis itu menuju bus. Kain menghitung langkah kaki sang gadis itu. Satu, dua hingga hitungan yang ke 50, sang gadis meginjak tangga dan naik bus. “Dia akan turun 50 langkah lagi. Wah, saya tidak melihat wajahnya macam apa, tetapi nampaknya dia sangat cantik,”gumamnya lagi sambil menyaksikan gadis itu mengatur posisi duduk lewat kaca bus yang terbuka.

Bus di depan Kain yang memuat sang gadis tancap gas. Gadis itu melambaikan tangan. Kain secara spontan melambaikan tangan dengan satu keraguan, jangan-jangan dia melambaikan tangan bukan untuknya. Kain menduga ada orang di belakangnya yang menjadi objek lambai sang gadis.

Perasaan malu menyelimuti Kain. Kain meletakkan sampah lalu balik memastikan sasaran lambaian tangan sang gadis. Kain tidak mendapati seorang pun kecuali diri yang sedang memikirkan gadis di lorong sejarah.

“Dia telah melambaikan tangan untukku,”pikirnya “Dia sangat nampak baik, cantik memesoan, hanya saya tidak pernah mengenalnya secara dekat tetapi saya tergoda dan telah memilikinya dalam sanubari ini” sambil melangka jalan pulang ke ruangan barak kolonial.

Langkah-langkah kaki kembali itu mengalirkan kisah-kisah beberapa hari sebelumnya di benak.

“Ia pernah menyapaku penuh perhatian, melemparkan senyum mengobarkan gairan bersama mentari yang terbit di ufuk timur. Tetapi,  sayangny  saya tidak pernah memperhatikan wajahnya secara baik baik. Saya tidak pernah membaca gari-garis wajah. Ia lari terburu waktu sangat cepat hingga saya melihat wajahnya masih sama-samar,  bahkan tidak sama sekali saya lihat. Saya hanya tahu Dia cantik yang membuat hatiku tenang dan damai,” pikir Kain.

“Dia langsing dan menggodah rasa, salah ka kalau saya terasang,”gumamnya
“Dia telah mencuri hatiku pagi ini lalu pergi. Kemanakah gadis cantik itu pergi?”tanya Kain dalam sunyi

“Dia pergi memeluk pria yang mencintainya yang telah lama lari akibat perang revolusi rimba yang nampak dalam cahaya benaknya,”tutur Ibuda gadis yang menantikan putrinya kembali bersama pria idamanya dari rimba raya.

Kabar itu mennyayat  hati Kain. Walaupun gadis dia mencintai yang lain, saya merasakan satu sentuhan rasa yang tidak pernah akan saya lupakan. Saya inggin menjumpainya lagi.

“Ah mungkin itu hanya perasaanku yang dia tidak pikirkan gadis itu,”pikirnya
“Saya ingin belajar menulis….”

Lalu Kain mengisahkan kisah ini kepada saya mengingat kisah empat bulan lalu. Seandainya, saya jadi dia, Wimawokhe, di Holandia, West Papua. (Mawel)