Pages

Pages

Senin, 26 Agustus 2013

Indonesia Siap Perang Jika Aktivis Freedom Flotilla Berani Merapat ke Papua

Jakarta - Aktivis Papua merdeka dari Ausralia yang menamakan diri kelompok Freedom Flotilla khabarnya sedang berlayar dengan 3 kapal dari Cairns ke Papua dengan tujuan menyoroti perlunya perdamaian dan stabilitas di Bumi Cendrawasih itu.

Berulangkali dipermainkan pihak asing dalam urusan Papua, sebagai bangsa yang berdaulat sudah sepantasnya kita bersikap tegas. Setidaknya hal itu sedang ditunjukkan oleh Menkopolhukam yang sudah memerintahkan TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara siaga untuk mengantisipasi perjalanan mereka. http://zonadamai.com/2013/08/21/pemerintah-siagakan-tni-al-dan-au-di-papua/

Ancaman Indonesia itu rupanya membuat pihak Aussie kecut. Menlu Australia Bob Carr buru-buru memberikan peringatan keras bagi para aktivis itu. 20 Agustus 2013 situs ABC merilis pernyataan keras Bob Carr. “…mereka menghadapi hukuman penjara lima tahun menurut hukum Indonesia. …Jika mereka ditangkap Australia hanya dapat menawarkan dukungan konsuler,” tegas Carr.

Lebih lanjut Bob Car mengingatkan, jika ditemukan mereka melakukan kejahatan-kejahatan di bawah hukum imigrasi Indonesia karena tidak memiliki visa atau izin atau di bawah undang-undang anti-subversi Indonesia, tidak ada yang bisa Australia lakukan untuk melawan kasus mereka di pengadilan Indonesia. http://www.radioaustralia.net.au/pacific/2013-08-20/foreign-minister-bob-carr-warns-protesters-sailing-to-papua-region/1178830

Sikap tegas Pemerintah Indonesia patut kita dukung. Karena sudah sedemikian lama isu Papua menjadi komoditas politik para senator di negeri kanguru itu. Nicole DiNatale misalnya, secara terang-terangan mendukung gerakan Papua merdeka dari gedung parlemen Australia. Dua tahun lalu, petinggi partai hijau ini bahkan menginisiasi acara launching kaukus parlemen Asia Pasifik untuk Papua merdeka (IPWP).

Demikian juga lawyer papan atas Australia, Jennifer Robinson sudah sepuluh tahunan berperan menjadi bemper hukum bagi Benny Wenda yang baru saja mendirikan kantor perwakilan OPM di Oxford, Inggris. Kriminal yang namanya sudah dihaspus dari red notice interpol itu diduga bisa kabur dari penjara Abepura 10 tahun lalu dan mendapatkan suaka politik dari Inggris berkat bantuan organisasi Jennifer Robinson. Setelah bebas dari Interpol, 4 Mei 2013 lalu Jennifer menghadirkan Benny Wenda dalam sebuah sesi acara bertajuk ‘Tedx Sydney 2013’. Dalam pidato pengantar sebelum Benny naik panggung Tedx Sydney itu, Jennifer habis-habisan menuduh pemerintah Indonesia telah melakukan genosida di papua. http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/05/23/inilah-tudingan-tanpa-bukti-jennifer-robinson-itu–562637.html

Mungkin tak akan ada habisnya mengurai ‘dosa’ Australia terhadap Indonesia. Mudah-mudahan dengan siap perangnya Indonesia, bisa membuat Australia sedikit berubah sikap soal isu Papua. Apalagi Presiden SBY dalam pidato kenegaraan di gedung parlemen pada 16 Agustus lalu secara tegas menyatakan Aceh dan Papua adalah bagian yang tak terpisahkan dari NKRI. Sangat tepat ucapan Presiden saat itu : “Jangan lukai perasaan bangsa Indonesia, karena kami juga tidak ingin melukai bangsa lain.” Semoga***









Tidak ada komentar:

Posting Komentar