Pages

Pages

Kamis, 11 April 2013

Pilkada Papua: Kekuatan Merebut Kekuasaan

Mando Mote
Oleh: Mando Mote

Proses pemilihan langsung dengan pembinaan pendidikan politik masyarakat

Dinamika politik yang berkiprah di bumi Papua dalam proses pemilihan kepala daerah yang dilakukan dengan sistem pemilihan langsung oleh masyarakat, kini pembinaan pendidikan politik masyarakat oleh para calon kandidat mengarahkan tindakan masyarakat dilihat dari power (kekuatan uang).

Sesungguhnya pembinaan pendidikan politik masyarakat di Papua bukan dengan money politics (kekuatan). Pembinaan dengan pendekatan pola money politics besar dampak negatifnya yang akan terjadi. Seperti andaikan masyarakat memilih pada calon eksekutif yang mempunyai kekuatan lebih tinggi dibandingkan kapasitas dan kepribadian yang tidak professional dalam kepemimpinannya akan keliru dalam penyelenggaran roda pemerintahannya. Sehingga hal ini memungkinkan pembanguan bwrjalan pincang.

Pada kalangan masyarakat kini menyatakan siapa yang datang bawa uang suara dia punya. Tidak mungkin dia menjadi bupati akan berikan uang lagi dan masyarakat tidak peduli dengan latar belakang atau track record dari kandidat tersebut. 

Proses pemilihan eksekutif yang menjadi kebiasan seketika memilih sesungguhnya di depankan ukuran-ukuran dengan dilihat dari nilai-nilai kepribadian latar belakang kebiasaan interaksi, perbuatan dan pengalaman dalam karir, derajat kepandaian atau kecakapan, menilai nilai-nilai yang melekat dalam diri bakal calon itu. 

Andaikan hal itu dikedepankan oleh pemilih yang dalam masyarakat, maka akan berpengaruh pada proses pembangunan dalam masa kepemimpinannya. Sampelnya seorang terpilih yang memiliki mutu kepribadian dari sisi pengalaman karir, Integritas yang kuat, yang dilandasi dengan Takut akan TUHAN maka nilai-nilai baik yang dimiliki oleh seorang yang terpilih atau belum akan mendorongnya dalam kepemimpinan untuk mengukir yang lebih baik menuju perubahan daerah dan masyarakatnya.

Pembinaan Pendidikan politik masyarakat yang sesungguhnya dan mutlak adalah memberikan pemahaman akan hal yang obyektif yang berpijak melihat dari sisi perbuatan, pengalaman, serta moralitas (takut akan TUHAN). Ini adalah juga bagian dari merubah paradigma masyarakat yang sudah terbangun sejak lama.

Inilah sebuah harapan dan kerinduan bersama bahwa ke depan masyarakat Papua betul- betul memilih seorang figur yang berkompeten baik itu dari disiplin ilmu, pengalaman karir, moralitas yang dilandasi dengan takut akan TUHAN.

Dampak pemilihan langsung dengan pola ke-Papua-an dan harapan akar rumput Papua
Belakangan ini, tradisi Papua dalam proses pemilihan langsung dipraktekkan dengan beberapa kebiasaan dalam proses pemilihan anggota legislatif maupun eksekutif, yakni ; Pertama sistem noken, Pemilihan berdasarkan hal masing- masing keluarga kecil (KK) atau demokrasi langsung. Dua sistem ini hingga saat ini masih berlaku di Papua .

Sistem noken telah diakui oleh masyarakat dan hal itu menjadi tradisi bagi masyarakat Papua yang sudah berlangsung lama. Dahulu, sistem noken yang hingga kini masih berlaku ini digunakan dalam memilih kepala suku terbesar di Papua. Oleh karena itu, berdasarkan undang-undang No. 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus Papua juga mengakui hak-hak tradisional Papua termasuk pelaksanaan pemilihan langsung berbasis kultur ke-Papua-an tersebut.

Proses sistem noken yang diakui kini dinilai salah dikemudikan. Sesungguhnya proses sistem noken ini baik namun tidak baiknya harapan pemberian dari akar rumput dengan hasil doa atau suara hati tidak ditindaklanjuti, namun dikendalikan sistem noken adalah dari kaum yang menganut paham dengan dilihat dari berbagai kepentingannya.

Suara akar rumput Papua adalah berasal atau berawal dari Doa, sehingga sistem noken itu dilaksanakan dengan pijakan dari akar rumput itu sendiri.

Sistem demokrasi langsung pun polanya sama oleh karena pembinaan pemahaman politik masyarakat dikendalikan oleh money politics bukan tolak ukurnya nilai-nilai baik selama mutu kepribadian, moral, dan lain yang dianggap penting dalam menunjang pemimpin itu baik.

Dengan demikian Kekuatan merebut kekuasaan dalam proses pemilihan kepala daerah adalah menekan hak-hak akar rumput serta menekan pemberian suara yang berpijak dari Doa atau suara hati nurani rakyat. Maka kedepannya perlu mengedepankan suara akar rumput Papua yang berdasarkan Doa itu, meskipun dalam praktik pemilihan berbasis kultur ke-Papua-an yakni sistem noken atau demokrasi langsung dalam pusaran pilkada Papua baik regional maupun di lokal kabupaten.

Penulis adalah Mahasiswa yang sedang menekuni disiplin Ilmu Pemerintahan murni.